RUMPI AJA: Nungguin Rilisnya Film My Generation

Saya dan Oni termasuk orang yang jarang banget pergi nonton. POkoknya kita pilih-pilih banget kalo mau nonton di bioskop. *pelit Kalo saya dan Oni sampe nonton suatu film di bioskop, berarti menurut kami berdua itu film efek visualnya yahud,  jadi harus ditonton di bioskop biar lebih mak greng.

Jujur, kita nggak pernah kepikiran nonton film Indo di bioskop. Karena film Indo nggak (belum) mungkin menonjolkan efek visual yang bagus. Itulah sebabnya, ketika pertama denger kalo film My Generation mau rilis di bioskop, saya nggak kepikiran mau nonton. Iya sih saya tau kalo sutradaranya Mbak Upi, yang bikin film Realita Cinta & Rock and Roll sama 30 Hari Mencari Cinta yang menurut saya nggak jelek. Tapi tetep aja nggak membuat saya kepengen nonton film ini di bioskop.

Tapiiii..... Setelah baca-baca sinopsisnya dan nonton official trailernya, saya jadi gak sabar pengen liat, Kak!

Ini lho, official trailernya. 

Saya jadi agak-agak tercolek, nih liat trailernya. Tipikal karakter ortu yang dibicarakan oleh keempat pemeran film ini kok sedikit mirip saya, ya? Hahahahaha.... Default setting mulut ngomel dan mempermasalahkan hal-hal sepele, measure the future with IDR, trus suka bilang kalo jaman saya sekolah dulu lebih baik daripada jaman sekarang. Nah itu saya semua tuh. Hahahahahaha.....Ya nggak separah di film, sih. Tapi arah pemikiran saya sudah mulai cenderung ke sana. 

Saya pikir, sebenernya wajar ya. Karena dengan bertambahnya usia, kita jadi lebih banyak pengalaman dan melihat dunia.  Otomatis bawaannya ngomel dan mempermasalahkan kalo ngliat hal-hal yang tidak seharusnya. Trus udah ngrasain susahnya cari duit dan susahnya nggak punya duit. Otomatis nggak mau anak-anaknya lemah secara finansial. Trus trus ya emang kenyataannya saya ngerasa jaman saya segalanya lebih baik dari jaman sekarang. *contohnya, waktu itu harga bolpen pilot cuma 300 perak. #yaelah.... harga bolpen pilot dibawa-bawa. 

Tapi saya juga jadi teringat jaman ketika saya masih ABG dulu. Isi pikiran saya juga samaaaa dengan yang generasi milenial ini. Duh, kenapa ortu nggak ngertiin saya dan lebih mentingin kesuksesan ketimbang kebahagiaan saya? Males banget kalo ortu ngeluarin kalimat pembuka: "Jaman mama dulu......" Kenapa saya selalu disalah-salahin? Sama sih.

Ya ampun, saya sudah mulai menjelma menjadi orang yang tidak saya inginkan di masa depan. Yaitu ortu nyinyir yang nggak ngerti pikiran anak dan perkembangan jaman now. *tutup muka. Itu lho sebabnya, saya jadi kepo maksimal dengan keseluruhan isi cerita dalam film ini.


Kalo jalan ceritanya mah simple ya. Empat remaja bernama Zeke, Konji, Suki, dan Orly (dengan perbedaan karakter dan masalahnya masing-masing) yang diskors nggak boleh ikut darmawisata karena bikin video yang isinya kritik-kritik yang menyinggung banyak pihak (baca: orang dewasa.) Tapi saya penasaran dengan isu-isu dan peliknya masalah-masalah generasi milenial yang diangkat dalam film inih. 

Sayangnya, ada beberapa orang yang justru menganggap film ini nggak layak tonton karena bakal ngajarin anak muda hal-hal gak bener. Well.... just like my teacher said, "Kita nggak bisa mengisolasi anak agar ia tidak mengetahui dan melakukan hal-hal buruk. Yang bisa kita lakukan adalah menunjukkannya (dan juga resikonya) agar anak tidak melakukannya."  Bukan begitu?

You Might Also Like

0 komentar

Komenmu membuatku makin semangat menulis. Sungguh.....