LOVE: SARA


Akhir-akhir ini kondisi Indonesia agak demam-demam gak enak. Gara-gara ada konflik yang sedikit banyak berbau-bau SARA gitu. Ah, bukankah semboyan negara kita ini adalah Bhineka Tunggal Ika, ya? Lha kok malah ribut masalah SARA. Sedih, ih. Harusnya perbedaan bukan menjadi masalah, tapi justru melengkapi dan memperkaya bangsa Indonesia. Pak Harto bilang, lukisan yang indah tidak akan terbentuk hanya oleh satu warna. Eh, bener khan ya kalimat itu Pak Harto yang bilang? Lupa-lupa inget akyuh.   

Demikian juga dalam sebuah hubungan percintaan, perbedaan biasanya membuat kita dan pasangan jadi saling melengkapi dan sekaligus menjadi bumbu dalam hubungan asmara. Ihir...ihir..... Tapi ada 3 jenis perbedaan yang sifatnya prinsip dan kerapkali menjadi tantangan dalam hubungan cinta, terutama hubungan yang sudah berada di bawah ikatan pernikahan. Yaitu SUKU-ADAT-RAS (satu paket lah itu kira-kira), STATUS EKONOMI dan AGAMA. 

Woooo Fely SARA wooooo. Enggak, dalam postingan ini saya nggak bermaksud menjelek-jelekkan suku dan adat, ras, atau agama tertentu. Beneran enggak. Saya hanya mengajak teman-temin untuk melihat SARA dan kesenjangan ekonomi dalam hubungan pernikahan melalui kacamata netral. Gak pake memihak. 

Kenapa saya bilang ketiga hal itu merupakan tantangan dalam sebuah hubungan pernikahan? Yah, karena dalam pernikahan, ketika dua individul menjadi satu, urusannya bukan pada masalah cinta saja. Ada keluarga besar yang nggak mungkin nggak dilibatkan dalam urusan pernikahan kita. Ada Tuhan yang menjadi sentral kehidupan. Ada anak yang menjadi tanggung jawab pasangan sumi istri untuk membesarkan dan mendidik.  

Lha kalo dua individu menjadi satu tapi 'pegangan' nya berbeda, lak ya memang membutuhkan effort lebih untuk bisa sejalan. Gimana bisa berbaur dengan keluarga besar kalo bahasanya aja beda? Gimana caranya menyembah Tuhan dan mendidik anak kalo dasar konsep keTuhannya juga beda? 

Jadi? Jadi? Impossible ya, kalo ada perbedaan SARA dan status ekonomi dalam sebuah pernikahan? Jawabannya adalah: Tergantung. 

Tergantung menurut saya jelas sifatnya subyektif. Karena kadar ke'fanatikan' setiap orang berbeda-beda, demikian juga dengan saya. Ada orang yang lebih mementingkan persamaan agama daripada suku.
Ada juga yang menomorsatukan kesamaan status ekonomi, macam marimar yang nggak disetujui kawin sama Sergio gara-gara Marimar anak gembel. Ah, kenapa film-filmnya Thalia selalu temanya tentang  gadis miskin yang jatuh cinta kepada pria kaya, yah? *mulai ngglambyar

Kamu pilih yang mana?

Balik lagi ke masalah 3 tantangan dalam pernikahan. menurut pendapat saya,

Kalau ada 1 dari 3 perbedaan dalam pernikahan, 
Well, mungkin susah, tapi masih bisa jalan lah. Buktinya banyak kok pasangan yang pernikahannya langgeng. 

Kalau ada 2 dari 3 perbedaan dalam pernikahan, 
Itu susah! Kemungkinan gagalnya gede. Tapi masih bisa. Hanya saja memang dibutuhkan keteguhan dan kebesaran hati untuk menjalaninya. 

Kalau ada 3 dari 3 perbedaan dalam pernikahan, 
Mission impossible! Saya baru menemukan 1 pasangan dengan perbedaan status ekonomi, suku-adat-ras, dan agama yang pernikahannya langgeng jaya sampai maut memisahkan. Mereka adalah kakek dan nenek saya *senyum-senyum bangga.  


Ini menurut saya sih. Bagaimana menurut teman-temin? 

*Maaf ya, kalo ada komen negatif yang MENYINGGUNG  suku, adat, ras, dan agama tertentu, komennya bakal saya hapus.


You Might Also Like

0 komentar

Komenmu membuatku makin semangat menulis. Sungguh.....