CERITA MAMA: Pengenalan Agama Pada Anak Sejak Dini, Perlukah?


Dalam sebuah obrolan ringan, salah seorang teman saya berkata kira-kira seperti ini: 
"Saya tidak mengajarkan agama apapun kepada anak saya. Nanti aja lah kalo dia sudah besar, biar dia sendiri yang memilih agama apa yang paling cocok buat dia. Saya tidak akan memaksakan agama apapun kepada anak saya karena agama itu khan hak asasi. Lagipula buat apa belajar agama kalo prakteknya nihil. Yang penting anak saya tidak berbuat jahat dan merugikan orang lain."

Well, ucapan teman saya tidak sepenuhnya salah, sih. Memang betul, buat apa belajar agama tapi prakteknya nihil. Memeluk suatu agama pun tidak akan menjamin bahwa seseorang itu mengenal baik Tuhan dan menjalankan ajaran agamanya. 

Tapi saya tidak setuju apabila orang tua tidak mengajarkan agama pada anak sejak dini. Ibarat makanan, seorang anak harus diberi makan sejak bayi agar dia berkembang dengan baik. Tentu saja makanan yang diberikan harus sesuai dengan umurnya. Makanan jasmani adalah makanan yang kita makan sehari-hari. Kalo bayi ya minum ASI, gedean dikit makan MPASI, lebih gede lagi makan empat sehat lima sempurna. Makanan rohani adalah pelajaran agama yang diajarkan kepada anak. Kalau anak tidak diberi makanan rohani sejak dini, bagaimana rohaninya bisa berkembang dengan baik di kemudian hari. 

"Ah, itu khan karena kamu tinggal di Indonesia, Fel. Dimana keagamaan masih dianggap kewajiban. Di KTP aja harus mencantumkan agama." begitu ujar salah seorang teman yang lain. 
Well, memang betul kehidupan keagamaan di Indonesia relatif lebih kuat dibanding beberapa negara lain terutama Eropa, Amerika, dan beberapa negara Asia yang sudah maju seperti Jepang, Korea, dan China (correct me if I am wrong.). Tapi bukan itu alasan saya mendukung pengenalan  agama pada anak sedini mungkin. Agama adalah semacam pegangan dan pedoman bagi manusia (tentunya anak juga) dalam menjalankan kehidupan bersama baik secara horizontal dan vertikal. Baik hubungannya dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia. 

Memang benar, memeluk dan belajar agama tidak menjamin bahwa seseorang memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan atau sesamanya. Tapi saya yakin, semua agama di dunia pasti mengajarkan hal yang baik, luhur, dan mulia. Tinggal orangnya aja yang bisa menjalankan ajaran agamanya dengan benar atau tidak. Logikanya, orang yang belajar dan memiliki pegangan agama aja bisa jadi orang yang gak baik ke sesama, apalagi yang nggak punya pegangan agama, bukan? Apa nggak lebih riskan? 

Lalu, bagaimana dengan pendapat 'Biar dia sendiri yang memilih agama apa yang terbaik buat dirinya kalo dia sudah besar nanti.'? Seperti yang sudah saya ungkapkan sebelumnya, agama adalah makanan rohani yang wajib diberikan sedini mungkin supaya anak dapat berkembang dengan baik dan seimbang baik secara rohani dan jasmani. 

Saya belum pernah nemu, tuh seorang ibu yang ngomong begini, "Saya nggak kasih makan apa-apa ke anak saya dulu, lah. Nanti biar dia sendiri aja yang memilih dia mau makan nasi, jagung, atau kentang kalo dia sudah besar nanti." Edan apa? Yo selak anaknya mati kelaperan kalo menunggu anaknya besar dulu baru makan. Hihihihihihi......

Orang tua akan memberikan makanan yang menurutnya terbaik bagi si anak agar anaknya dapat bertumbuh dengan sehat. Walaupun belum tentu makanan itulah yang kelak akan dipilih oleh anaknya ketika anak tersebut sudah mampu memilih makanan apa yang disukainya. Demikian juga dengan agama.  Orang tua mengajarkan sebuah agama yang menurut orang tuanya terbaik bagi perkembangan rohani anaknya dimana agama yang terbaik itu biasanya ya memang agama yang dipeluk dan dipahami oleh orang tuanya.  Mengajarkan agama sejak dini bukan berarti memaksakan sebuah agama ke orang lain, tapi karena si anak belum bisa memutuskan agama mana yang terbaik bagi dirinya sendiri. Masuk akal khan? 

Ya tentunya itu tadi, pengenalan dan pendidikan agama pada anak harus disesuaikan dengan usia si anak lah yaw. Nggak mungkin juga, khan saya mengajarkan doa rosario kepada Clairine yang masih usia 2 tahun. Paling yang saja ajarkan untuk saat ini ya mengikuti misa, pengenalan dengan sosok Tuhan Yesus, Bunda Maria, dan Santo Yosep, dan sikap doa yang benar. Itu juga Clairine sampe saat ini masih suka salah sebut nama Tuhan Yesus jadi Sosis Enak (gubrak!) 

Balik ke pembahasan kita tadi, perkara si anak memutuskan pindah agama atau melawan kehendak dan ajaran agama orang tuanya setelah dia dewasa kelak, itu lain masalah. Dan tidak akan saya bahas di sini, karena memang bukan itu topik postingan ini. 

Jadi pengenalan dan pendidikan agama pada anak itu bukan hanya perlu, tapi HARUS! 
Ini menurut saya, lho ya. Bagaimana menurut teman-temin?

You Might Also Like

0 komentar

Komenmu membuatku makin semangat menulis. Sungguh.....