Monday, July 24, 2017

REVIEW: Roro Mendut Royal Black Spice Whitening Scrub and Mask


Adakah teman-temin yang sudah pernah mendengar brand 'RORO MENDUT TRADITIONAL BEAUTY'? 

Roro Mendut Traditional Beauty adalah perawatan tradisional kecantikan organik. Diformulasikan dari ramuan resep jamu yang digunakan untuk ritual kecantikan tradisional Keraton Mataram Yogyakarta. Memanfaatkan penggunaan dedaunan, akar-akar, biji-bijian dan rempah-rempah yang khasiatnya telah terbukti secara ilmiah oleh dermatologis bermanfaat bagi perawatan kecantikan.

Saya sendiri sudah sering mendengar merk ini dan berniat mencoba. Tapi tiap kali jalan-jalan ke mall, supermarket, dan toko kecantikan, saya nggak pernah nemu.  


Itulah sebabnya, saya super excited ketika abang kurir nongol di depan rumah membawa paket dari Roro Mendut Traditional Beauty. Asek asek asek... akhirnya kesampean juga keinginan saya nyobain Roro Mendut. 

Paket Roro Mendut Traditional Beauty yang saya terima berisi 2 sachet Royal Black Spice Whitening Scrub dan 3 sachet Royal Black Spice Whitening Mask. Keduanya bisa digunakan pada wajah maupun tubuh. Satu sachet berisi 40 gram. Untuk perawatan wajah, 1 sachet bisa digunakan 3x. Sedangkan untuk perawatan seluruh tubuh, 1 sachet digunakan sekaligus. 

Harganya? Murah, kak. 1 paket itu harganya Rp. 140.000,- Berarti 1 sachet 28 ribuan. 

Duet lulur Roro Mendut dan masker Roro Mendut ini mengandung bahan: rempah, kopi, teh hitam, rumput laut, dan beras ketan organik. Tau nggak sih, nggak hanya merupakan produk asli Indonesia, bahan baku Roro Mendut juga 100% berasal dari hasil pertanian dan perkebunan Indonesia. Vegetarian suitable, no animal testing, halal, telah ternotifikasi di BPOM dan diproses dengan standar CGMP. Karena sangat alami dan lembut, produk Roro Mendut juga dapat di gunakan untuk ibu hamil, menyusui, dan bahkan untuk baby spa. Uwuw..... jadi yakin kalo produk ini pasti aman dipake.

Selain untuk memutihkan kulit, seabrek manfaat lain yang bisa diperoleh: 
  • Membersihkan sel kulit mati, daki, dan komedo. 
  • mencerahkan kulit kusam.
  • Mengatasi noda pada kulit, baik noda jerawat maupun bintik hitam.
  • Meperbaiki warna kulit yang tidak merata.
  • Memperbaiki tekstur kulit termasuk merapatkan pori-pori. 
  • Menutrisi kulit secara optimal.
  • Mengoptimalkan regenerasi kulit. 

Singkatnya, kalo rajin dan rutin pake lulur dan masker ini, kulit tubuh dan wajah bisa jadi bersih, halus, kenyal mentul-mentul, kencang dan menambah daya tarik serta sensualitas pada kulit kita. Sensual, Cyn. Sensual! Sama kayak figur Roro Mendut yang namanya dipake buat brand produk ini, gitu lho.

Apa? Kamyuh nggak tau siapa Roro Mendut? Ah, gak gahol kamuh. Padahal kisahnya udah berkali-kali diangkat ke layar lebar. Novelnya juga sudah banyak ditulis dengan berbagai versi. Salah satunya versi si pastor sepuh tapi super heits, yaitu Romo Mangun.   Jadi gini ceritanya, Roro Mendut ini adalah tokoh mitologi dalam salah satu cerita rakyat klasik Babat tanah Jawi. Dese hidup di jaman kesultanan Mataram. Sangking cantik dan seksinya, sampe-sampe dia jadi rebutan para pria pada jaman itu. Termasuk para raja dan panglima. Jangankan rahasia kecantikannya, putung rokok bekas mulutnya dia aja laku keras dan dihargai mahal. 

Sayang perjalanan cinta Roro Mendut ini nggak berakhir bahagia. Dese menolak dijadiin selir oleh seorang panglima perang dan lebih memilih pemuda lain bernama Pranacitra. Pranacitra terbunuh dalam pertarungan dengan panglima perang tersebut. Roro Mendut sendiri bunuh diri menggunakan keris yang sama yang digunakan untuk membunuh kekasihnya. Huhuhuhu... sedih ah. Yuk balik bahas lulur dan masker Roro Mendut aja.

 
Lucu ya, sachetnya dihiasi motif rempah-rempah. Plastik sachetnya lumayan tebal dan kuat, serta dilengkapi dengan sealer. Jadi kita nggak perlu bingung gimana nutupnya kalo masih ada bubuk lulur yang tersisa. Kemasan baru rupanya. Soalnya saya intip beberapa review lama dari para beauty blogger,  foto sachetnya cuma plastik transparant  tipis polos tanpa motif. 

  
Ini penampakan bubuk lulurnya. Butiran scrubnya lebih halus daripada salt scrub, jadi nggak kerasa sakit waktu diusek-usek ke kulit. Ketika pertama kali mengendus bubuk lulur, eh baunya kok aneh, ye. Mirip thinner kuteks atau obat. Hahahahaha... serem amat. Tapi setelah dicampur air, tercium aroma kopi dan bunga. Warna dan aroma bubuk masker kurang lebih sama dengan bubuk lulur. Hanya saja nggak ada butiran scrubnya dan aromanya memang wangi rempah. 

Cara pakenya gimana? Susah? Halah gampil, tinggal campur bubuk lulurnya dengan air hangat sampe mengental. 
Karena saya suka lulur yang teksturnya sangat kental mendekati padat, jadi air yang saya campurkan nggak banyak. Yang penting bisa membantu bubuk lulurnya menempel pada kulit. 
 


Setelah itu oleskan secara merata pada daerah yang diinginkan.  Jangan lupa dipijit-pijit dengan gerakan memutar, supaya daki-daki membandel terhempas.  Baru deh habis itu dibilas menggunakan air hingga bersih.

Lanjutkan pemakaian lulur dengan pemakaian masker.  Ooo.... pake maskernya harus setelah pake lulur, ya? Ya enggak juga. Pokoknya pakenya ketika kulit sudah dalam keadaan bersih. 

Cara penggunaannya sama persis dengan lulur. Hanya saja setelah diusapkan merata ke seluruh tubuh dan wajah, nggak usah pake acara pijit-pijit, cukup didiamkan selama 15-20 menit hingga adonan masker kering dan mengencang, baru deh dibilas pake air. 
 


Keliatan nggak bedanya? Ini perbandingan tangan kiri saya yang nggak dilulurin dengan tangan kanan saya yang sudah pake lulur. Tangan kanan saya nampak lebih cerah dan mengkilap.



See? See? Tangan kiri keliatan kusam, tangan kanan keliatan halus.

Untuk maskernya, saya baru nyoba di muka. Pakenya di kamar C, siang-siang waktu Bree lagi boci. Nyaman betul. Sudah lamaaaa banget saya nggak ber-me time ria dengan merawat kulit. 

          Baca juga: Ibu-Ibu Kekinian Ala Instagram


Abaikan C di belakang saya yang kepo maksimal dan mau ikutan aja kalo ada yang lagi foto-foto. 😁 Saya lebih senang mengaplikasikan masker menggunakan kuas. Kadang pake kuas masker, kadang pake foundation brush yang bentuknya pipih. Lebih enak dan gampang merata. 

Tebel ya pake maskernya. Padahal saya ngambil bubuk maskernya nggak banyak-banyak amat, lho. Kurang dari 1 sdm. Berarti masker Roro Mendut ini bisa dipake setidaknya 6X kalo cuma buat muka aja, mah. Irit, Kak.   Cihuy.

Oiya, kalo maskeran saya demennya sambil posisi tiduran. Nggak bisa ngapa-ngapain, sih jadinya. Tapi pemakaian masker seharusnya kan memang pada waktu kondisi tubuh kita rilex dan menghindari gravitasi yang menyebabkan kulit kita menurun. Jadi yang bener ya sambil tiduran (bukan sambil tidur ye, bok). Itulah sebabnya,  waktu mengaplikasikan masker juga harus dengan gerakan ke atas. 

Karena pake maskernya tebel, saya kira bakal makan waktu lebih lama untuk menunggu masker di wajah saya mengering. Tapi nggak sampe 20 menit maskernya sudah kering, tuh. Belum betul-betul kering sempurna, sih. Acara maskerannya terpaksa bubar. Bree kebangun gegara denger C yang ribut aja pengen ikutan pake masker. 

Berbeda dengan penggunaan lulur yang hasilnya udah keliatan walaupun cuma satu kali pake, muka saya kok nggak ada bedanya ya, antara sebelum dan sesudah pake masker? Ada denk. Dikiiiiit. Muka saya berasa lebih keset dan kenyal. *Yakalik, kak. Ini pake skincare, bukan bangun candi. Please deh, ah!

Saya lupa. Namanya juga skincare, beda dengan make up. Tentu hasilnya baru akan keliatan dan bertahan lama apabila dipake secara rutin. Apalagi Roro Mendut ini menggunakan bahan-bahan organik dan alami. 

 So, YES! YES! YES! I am gonna buy this product again! 

Ayok, mari… teman-temin yang kadang lupa bahagia ber me time ria dan merawat kulit karena kesibukan sebagai ibu rumah tangga kayak saya ini. Atau karena kesibukan kerja dan lain-lain. Luluran dan maskeran yuuuuuuk…..

PROS: 

  •  Dari bahan alami & organik.
  •  Kemasannya fungsional.
  •  Wanginya enak. Dominan kopi dengan sedikit hint aroma bunga. 
  •  Butiran scrubnya halus, nggak bikin sakit waktu digosokkan ke kulit. 
  •  Hasil pemakaian lulur sudah nampak walaupun baru 1x pemakaian. 

CONS: 

  • Pemakaian maskernya ribet.
  • Susyeh kalo mau beli langsung. Toko offline nya baru ada di Mirota Jogja. 


Beli dimana?

Online :

Offline :
Mirota Batik Malioboro,
Toko Oleh-Oleh Yogyakarta.

16 komentar:

  1. Udah lama kayaknya daku tidak maskeran. Padahal setelah menikah aku merasa wajahku makin menua karena urusan rumah tangga *halah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahahaha... kalo wajahmu menua, wajahku sudah fosil lak an Mbaaaaaaak. Wajahmu masih mulus gitu lho ah.

      Delete
  2. udin lama ga luluran maskeran liat ini langsung pengen minta mb Fely wkwkwk
    makasi reviewnya loh mb tp kan kulitmu udah cantik mba kira2 beneran ga yah bisa kinclong gicu 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu hanyalah efek kamera. *nangis

      Delete
  3. yang alami malah lebih aman ya, bisa buat me time di rumah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ho oh, say. Buat me time di rumah lumayaaaaan

      Delete
  4. aku juga lama enggak maskeran...hiks...
    eh itu si Bree ngga kaget liat mamanya berubah? wwkwkkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. kaget. Makanya mewek-mewek. Hahahahahaha

      Delete
  5. Aku pakai lulur Roro ini mba dan hasilnya cocok di aku. Jadi mau me time juga ah pas weekend ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga cucok, Cyn. Lulurnya itu lho, favorit, lah

      Delete
  6. Yg buat cowom ada gak roromendutnya? Salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. cowok boleh pake juga, Mas. hehehehehe

      Delete
  7. Beuh, maskeran. Aku blum pernah maskeran nih. Lemparin satu dong biar bisa ikut maskeran juga #ehh

    ReplyDelete

Komenmu membuatku makin semangat menulis. Sungguh.....