Monday, April 24, 2017

KULINER: Yala Eatery

Beberapa pekan yang lalu saya menyempatkan diri makan di YALA EATERY. Sebuah kedai makanan populer dengan sentuhan Timur Tengah. Kenapa saya sebut kedai makanan 'populer'? Well, Nanti akan saya ceritakan. *macak misterius. 

Nuansa Timur Tengah langsung terasa ketika saya memasuki Yala Eatery. Cat tembok yang didominasi warna oranye kecoklatan berpadu dengan aneka pernak pernik interior khas Timur Tengah menyambut hangat para pengunjung. 

Setelah mengintip ruang meeting di lantai bawah (iya, ngintip doang. Maksud hati mau masuk kepo-kepo bergembira gitu. Ternyata ada mas mas lagi boci di sana. Lak aku sungkan jadinya. Hihihihihi....) saya langsung cap cup ke lantai atas. 

Suasana di lantai atas lebih terkesan modern, walaupun tetap bernuansa hangat dihiasi dengan sedikit aksen Timur Tengah. Kalau ingin makan-makan santai sambil nongki-nongki, teman-temin bisa memilih duduk di sofa-sofa yang disediakan. Cocok lah buat mojok romantis atau sekedar bertatap muka dengan rekan bisnis. Apabila kita datang dengan jumlah pasukan lebih banyak, selain menggunakan rung meeting yang dilengkapi dengan proyektor dan sound system, kita juga bisa meminta waiter menata sofa-sofa di lantai dua ini  dengan posisi memanjang. Ah, multifungsi sekali.  Fix, this resto give me a good first impression.
Karena saya datang dengan tujuan utama yaitu 'MAKAN', maka saya memilih duduk di teras lantai dua yang tinggi meja kursinya sama dengan dining table set. Pas dan pewe lah dipake makan dibanding sofa, ya to. 

Ketika waiter menunjukkan daftar menu, JRENG, saya melongo. Ish kok menunya giniiiih! Ada ayam penyet, ada jamur krispy, ada tahu sutra. Bahahahahahahahaha.......  yang paling gitu amat, ada pat bing soo! Lha pat bing soo itu lak ya jelas-jelas bukan makanan Timur Tengah to jek? Kepriben sih?
Saya pikir-pikir (iya mikir-mikir doang. Mau nanya bingung nanya ke siapa. Harusnya nanya ke ownernya, ya? Tapi berhubung saya nggak tau ownernya yang mana dan menurut saya pertanyaan saya nggak penting-penting amat sampe saya harus minta tolong dipanggilin ownernya) Ah mungkin ownernya sengaja menyisipkan banyak jenis non Timur Tengah (terutama makanan yang sedang hits di kalangan pecinta kuliner) karena tidak semua pengunjung meyukai makanan Timur Tengah yang rasanya cenderung berat dan kaya rasa. It's a smart idea. Dengan begitu, pengunjung tetap bisa datang dan makan ke sana walaupun bukan pecinta makanan Timur Tengah. Oleh sebab itu, saya sebut Yala Eatery ini termasuk kedai makanan POPULER dengan sentuhan Timur Tengah.

Harga yang tertera nggak mahal, kok. Berkisar antara Rp. 5.000,- s/d Rp. 35.000,- Cucok lah buat kantong mahasiswa. Lha kok mahasiswa? Lho iya, wong lokasinya deket kompleks kampus UB dan UN. Jadi saya rasa target pasar utama Yala Eatery adalah kalangan mahasiswa.
 
Saya memilih Chicken Chizz, lemon tea,  dan Choco Nut Maroko. Selain itu saya juga mendapat free seporsi ayam bakar cobek. Wuzzzz.... orang penting gitu ya saya? Dateng ke sana dikasih free mamam. Anu anu anu... enggak sih. Saya dateng memang bertepatan dengan masa promosi grand opening Yala Eatery. Semua pengunjung yang datang pada minggu itu mendapatkan free ayam bakar lengkap dengan nasinya. Lumayaaaan. 



Hidangan ini tidak ada dalam daftar menu. Jadi memang khusus disajikan sebagai menu free selama grand opening Yala Eatery. Tapi kalo boleh saya bandingkan, sepertinya menu ini paling mirip dengan  menu ayam bakar cobek. bedanya hanya terletak pada nasinya. Dalam gambar di daftar menu, ayam bakar cobek seharga Rp. 13.000,- disajikan dengan kentang instead of nasi. 

Ayamnya kecil,  hueee...... Ya iya lah ya, harga tiga belas rebok kok mau minta ayamnya segede paha bayi. Apadeh, ah! Bukan size ayamnya yang saya masalahin, tapi nasinya kok agak kering gitu. Jadi pas dimakan berasa kemrotok di mulut. Rasa sambelnya agak ehm..... lidah saya menangkap ada sedikit hint rasa rempah-rempah. Unik, tapi bukan termasuk sambel yang enak menurut standard lidah saya. Sambel yang enak seharusnya bikin nagih dan membuat kita pengen nambah lagi, lagi, dan lagi.  Tapi ketika saya nyobain sambel ini, hm... bukan nggak enak, tapi nggak bikin saya pengen nambah.

Chicken Chizz ini enak! Ayamnya dilumuri tepung berbumbu dan diproses dengan cara goreng. Sekali lagi lidah saya menangkap taste rempah-rempah dalam hidangan ini. Ringan sekali, hampir tidak terasa kalau tidak diperhatikan baik-baik. 

Choco Nut Maroko ini juga enak! Susu coklat berpadu dengan kacang terasa begitu pas di lidah. Hanya saja ukuran sedotane iku lho maaaas. Kecil. Kacangnya jadi suka nyangkut di sedotan. Saya jadi sedikit-sedikit harus mencet-mencet sedotan untuk mengeluarkan kacang yang terperangkap didalamnya. Mengganggu sekali. (Bawel lu Fel!)

Will I come back? Yes!  Saya masih pengen nyobain Kambing Oven Maroko yang penampakan di buku menunya aja sudah bikin saya ngeces. Sayang waktu itu saya nggak bisa pesen menu banyak-banyak karena saya dateng cuma berdua dengan Mel, adik saya. Dan kami sama-sama baru saja makan siang. Selain itu, saya juga pengen say hi to this little elephant. 

Lucu khaaan. Pengen saya gondol bawa pulang aja.

Rating: 6,5/10
Location: Jl. M.T. Haryono 127 Lowokwaru, Malang

1 comment:

  1. Hahahahaha... Tp lucu aja sih resto udh sentuhan timur tengah, tp menunya malah jauuh dr timteng ya mba.. :p. Aku pribadi lbh seneng ama resto yg fokus dgn temanya sih, beda cerita kalo memang modelnya serba ada :)

    Tp tempatnta aku akuin menarij yaa.. Kalo mahasiswa mah psti betah dgn tempat yg begini , ditambah hrg jg ga mahal

    ReplyDelete

Komenmu membuatku makin semangat menulis. Sungguh.....