Wednesday, February 08, 2017

NGOBROL: Waspadai Gaya Hidup Beresiko Neuropati


Apakah teman-temin blogger sering merasakan salah satu dari gejala di atas, terutama pada kaki dan tangan? Be careful! Bisa jadi itu adalah gejala awal neuropati.

Neuropati? Apa tuh? 
"Neuropati merupakan gangguan saraf yang dapat terjadi pada usia lanjut, penderita  diabetes, orang yang pernah mengalami trauma pada saraf, serta kekurangan vitamin neurotropik, yaitu B1, B6 dan B12. Semua orang berisiko terkena neuropati, hanya, risiko bisa lebih tinggi atau rendah, tergantung dari berbagai faktor, seperti gaya hidup dan riwayat keluarga."

Awalnya saya cuek-cuek aja waktu baca info tersebut. Iya sih, kadang-kadang tangan saya suka kesemutan kalo kelamaan maen gadget. Tapi saya nggak begitu khawatir karena saya belum berusia lanjut (aku masih 17 tahun, kakaaaak), gula darah saya normal cenderung rendah dan nggak pernah mengalami trauma saraf (apalagi trauma urusan cinta. Eakh!).  Jadi kayaknya kok nggak mungkin ya kena Neuropati. Kalaupun kena, ya nggak papa lah. Nggak terlalu menggangu kayaknya kalo cuma kesemutan atau kebas. Didiemin 5 menit juga sembuh-sembuh sendiri.

Apakah teman-temin juga berpendapat seperti saya? Well, yuk cuss baca penjelasan dari Ketua Umum PP PERDOSSI di bawah ini:

Menurut Prof. Dr. dr. Moh Hasan Machfoed, Sp.S(K), M.S,   serangan neuropati bisa timbul pada saraf motorik, saraf sensorik, maupun saraf otonom (saraf yang bekerja tanpa sadar). Serangan neuropati pada saraf motorik dapat berupa: gejala seperti lumpuh, kaki dan tangan lemas (foot drop atau hand drop), kram, otot berkedut dengan sendirinya dan atrofi otot (penyusutan jaringan otot).

Apabila yang terkena neuropati saraf sensoriknya, maka penderita cenderung memperlihatkan gejala kesemutan, hipersensitif, muncul sensasi seperti terbakar di kaki, alodinia (timbul nyeri dengan sendirinya tanpa ada rangsangan), serta baal (mati rasa). Sedangkan untuk  neuropati yang mengenai saraf otonom dapat berupa  kulit mengering, sering beser, diare maupun sembelit dan impotensi.

Hah???? IMPOTENSI?????? LUMPUH????? PENYUSUTAN JARINGAN OTOT????? Hah????!!!!!

Okay, this is super serious! *getok-getok meja. Saya nggak mau, ah kalo  potensi hidup jadi  terbatas gara-gara neuropati.  Apalagi kalo usia kita masih muda (yaelah, udah 35 tahun ngaku masih muda aja ye? Ya iya lah, belom lansia, Kak!) dan anak-anak kita masih kecil.  Tentunya kita  kepengen bisa beraktifitas bebas bersama  anak sampe mereka dewasa. Tul nggak? Tul nggak?

Oleh karena itu, mumpung masih muda, yuk kita ubah lifestyle kita yang beresiko neuropati.

Apa sih, gaya hidup yang beresiko neuropati itu? 

 
1. Duduk dalam jangka waktu yang lama. 
2. Mengendarai motor.
3. Menggunakan gadget.
4. Memasak
5. Mengetik. 
6. Memakasi high heels. 

Dapatkah teman-temin menemukan kesamaan pada 6 kegiatan di atas? 
Yak betul, semua kegiatan di atas biasanya dilakukan secara berulang atau terus-terusan dan dalam jangka waktu yang lama. Inilah kebiasaan yang dapat memicu timbulnya penyakit neuropati atau memperparah kondisi mereka yang sudah menderita neuropati.

Ya ampun! Gimana yah? Ini mah saya dan Oni banget!

Oni seorang interior designer dan gamer yang aktifitas kerja dan refresingnya sedikit banyak pasti madep komputer. Kalo kemana-mana Oni juga seringan naik motor daripada naik mobil. 

Saya sendiri? Saya gak bakalan bisa kalo diharuskan menghentikan empat dari enam kebiasaan di atas. Berhenti megang gadget?  No way! Saya pedagang online yang dituntut berinteraksi dengan calon pembeli dan pelanggan via gadget. Memasak juga merupakan kewajiban saya sebagai ibu rumah tangga. Ya kalik kalo duit saya udah cukup banyak dan bisa hire chef. eakh....  Menghentikan kebiasaan mengetik juga gak mungkin. Lha wong saya adalah seorang blogger! Keyboard komputer is my second husband.  Dan saya pasti suka lupa waktu kalo lagi semangat nulis blog. Saya bisa duduk di depan komputer berjam-jam.

Kebiasaan naik sepeda motor dan memakai high heels enggak, sih ya. Soalnya saya nggak bisa naik sepeda motor dan kaki saya pernah mengalami cidera engkel, jadi sama dokter disarankan nggak usah kecentilan pake high heels. Tapi saya yakin banyak dari teman temin yang merasa keberatan kalo disuruh menghilangkan dua kebiasaan ini. Banyak teman saya yang walaupun memiliki mobil tetapi lebih memilih naik sepeda motor karena alasan praktis. Nggak sedikit kantor yang mencantumkan sepatu high heels dalam standard grooming.

Nggak heran, sekarang nggak cuma orang-orang yang berusia lanjut saja yang beresiko terserang neuropati, kita-kita yang masih muda dan produktif juga beresiko terserang neuropati. Karena apa? Karena keenam hal di atas sudah menjadi gaya hidup kita, masyarakat Indonesia pada umumnya. Termasuk saya dan Oni. Hueeeeee!!!!!


Selain enam hal di atas, ada beberapa kebiasaan lain (Hah? Masih ada lagi? Doenk!) yang tanpa kita sadari juga dapat menyebabkan penyakit neuropati. Apa tuh? Yaitu kebiasaan menjalankan gaya hidup tidak sehat seperti kurang tidur dan mengkonsumsi gula/pemanis dalam jumlah berlebih.

Hiaaaaa. Ini juga saya banget! T_T Saya khan night person yang justru lebih tenang dan konsen ngerjain apa-apa pada malam hari. Trus trus... biar nggak ngantuk, begadangnya sambil minum kopi atau teh manis gitu. Err......

Baca juga: Morning Person yang Gagal

Oke oke, masalah kurang tidur dan mengkonsumsi gula dalam jumlah berlebih menurut saya agak mudah diatasi. Tinggal kitanya aja menambah jam tidur dan mengurangi konsumsi gula. Tapi gimana dengan 6 kegiatan pemicu neuropati di atas? Masa  kita nggak boleh naik motor, nggak boleh memasak, nggak boleh maen gadget, nggak boleh mengetik, dan nggak boleh pake high heels ya kalo nggak kepengen terserang neuropati? Trus kalo kita pegawe kantoran, gimana dah kalo nggak boleh duduk dalam jangka waktu lama? Masa kerjanya sambil tiduran? Bisa-bisa digeplak sama pak bos dong, ya? Hahahahaha..... Susyeh!

Tapi jangan khawatir teman-temin. Untuk mengimbangi gaya hidup beresiko neuropati di atas, ada beberapa kebiasaan baik yang bisa membantu kita untuk mencegah neuropati.

7 kebiasaan mudah yang dapat kita lakukan untuk mencegah neuropati:


Apa yang harus dilakukan apabila kita mendapati bahwa diri kita mengalami gejala neuropati?
Untuk mengobati dan mencegah dampak lebih lanjut neuropati, tentunya harus ditelusuri penyebab dasar yang mengakibatkan munculnya neuropati. Jadi, pengobatan yang dilakukan tergantung pada faktor atau kondisi yang menyebabkan neuropati sejak awal. Kebanyakan, jika penyebab dasarnya terobati, maka neuropati yang terjadi juga akan hilang atau sembuh dengan sendirinya.

Apabila gejala neuropati dirasa sudah mengganggu aktifitas kita, segeralah mencari bantuan medis. Biar nggak salah diagnosa gitchu. 

Sedangkan bagi kita yang masih merasakan gejala awal neuropati, selain harus sesegera mungkin menerapkan kebiasaan hidup yang baik  untuk mencegah neuropati, kita juga sebaiknya mengkonsumsi vitamin neurotropik yang fungsinya membantu memperbaiki gangguang dan kerusakan saraf. 

Soalnya gimana ya, kadang makanan yang kita konsumsi kurang memenuhi kebutuhan harian vitamin B1, B6 dan B12 kita. Apalagi anak kost dan pekerja kantoran, fakir miskin musiman, yang miskinnya cuma kalo pas tanggal tua, hahahahahaha....... Bisa makan 3 kali sehari aja udah syukuuur gitu yah. Atau Diantara teman temin ada yang berprofesi sebagai wanita karir yang merangkap sebagai ibu rumah tangga. Sangking sibuknya, jangankan memikirkan kecukupan vitamin neurotropik harian, makan aja kadang lupa. 

Nah disinilah gunanyanya vitamin neutropik. Yaitu untuk mencukupi kebutuhan  vitamin B1, B6, dan B12 kita yang tidak terpenuhi hanya dari makanan yang kita makan. 

Salah satu vitamin neurotropik yang dijual bebas di pasaran adalah Neurobion. Neurobion adalah vitamin neurotropik yang dapat memperbaiki sel saraf tepi penyebab kebas dan kesemutan yang disebabkan karena kekurangan vitamin B1, B6, B12.

Mengapa harus Neurobion
Sebenarnya ada banyak vitamin neurotropik yang beredar di pasaran. Tapi Neurobion inilah yang paling cucok bok disebut sebagai ahlinya vitamin neurotropik. Kenapa eh kenapa? 



Merc mengeluarkan dua varian neurobion yang disesuaikan dengan kebutuhan kita.

NEUROBION PUTIH
Untuk memperbaiki sel saraf tepi penyebab kebas dan kesemutan
Komposisi:
Vitamin B1 100 mg,
Vitamin B6 200 mg,
Vitamin B12 200 mcg

NEUROBION FORTE
Untuk gejala sedang yang sudah mengganggu 
aktifitas sehari-hari
Komposisi:
Vitamin B1 100 mg,
Vitamin B6 100 mg,
Vitamin B12 5000 mcg

 
Nah, gimana teman-temin? Praktis dan mudah, khan melawan bahaya penyakit Neuropati. 

Yuk lawan neuropati dengan mengkonsumsi Neurobion dan mulai menerapkan kebiasaan hidup sehat. Agar kita bisa terus beraktifitas dengan bebas dan menikmati keceriaan bersama orang-orang yang kita sayangi tanpa gangguan neuropati. 


Referensi tulisan ini dan info lebih detail 
mengenai neuropati dan Neurobion 
dapat teman-temin intip pada link berikut: 
Apakah Anda kerap merasakan kebas dan kesemutan? Jangan anggap sepele, karena bisa jadi itu gejala neuropati.

Source: http://www.dokterdigital.com/id/news/1156_waspadalah-neuropati-bisa-menyerang-di-usia-muda.html
Copyright DokterDigital.com
Apakah Anda kerap merasakan kebas dan kesemutan? Jangan anggap sepele, karena bisa jadi itu gejala neuropati.

Source: http://www.dokterdigital.com/id/news/1156_waspadalah-neuropati-bisa-menyerang-di-usia-muda.html
Copyright DokterDigital.com

8 komentar:

  1. Wew, ikut lomba kak 😆😆

    Keluarga saya juga penikmat neurobion kok 😆😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo ikut jugaaaa.
      Ya nih gara-gara ikut lomba ini, saya jadi tau dikit tentang neuropati dan mau konsumsi neurobion. Hihihihi...

      Delete
  2. Gutlak yah Fel..

    Ortu ku jg suka minum Neurobion :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh, iya. Mama mertua juga pengkonsumsi neurobion

      Delete
  3. informasi yang menarik dan good luck ya mbak :D

    ReplyDelete
  4. baru tahu loh kalo memasak juga beresiko, saya kira cuma makan yang berlemak yg beresiko ternyata memasak juga ya... Thanks mba infonya..mudah-mudahan kita selalu sehat ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin...amin...amin.... saya sih berasa emang kalo lagi nyambel. khan gerakannya emang konstant aduk-aduk gitu. Sehabis nyambel, bahu berasa kaku. Hahahaha

      Delete

Komenmu membuatku makin semangat menulis. Sungguh.....