Thursday, November 17, 2016

Yang Muda Yang Mengatur Uang

 
Kayak miss shopaholic gini lho kira-kira
"Gajian hasil kerja sebulan cuma mampir di dompet sehari, Cyn." begitu kira-kira caption salah seorang teman saya pada sebuah foto di Instagram lengkap dengan hastag "#gajipertama. Di foto itu, teman saya tampak sumringah berpose menenteng aneka tas belanja dari outlet-outlet branded dengan latar belakang sebuah mall terkenal di Jakarta Selatan.

Saya tersenyum, saya ingat sekali, di tahun-tahun pertama bekerja dan mendapatkan penghasilan sendiri, saya juga seperti teman saya ini. Begitu terima gaji, selalu langsung kalap belanja-belanji. Belanja baju, sepatu, dan kosmetik dong cyn. Biar penampilan makin cetar! Tak lupa setelah puas belanja, saya ngupi-ngupi syantiek di kafe bersama teman-teman kost. Gaya banget lah pokoknya.

Ketika menjelang akhir bulan, tingkat kesejahteraan hidup berbalik 180 derajat. Acara mamam syantiek di kafe dan  foodcourt mall berpindah menjadi makan terong penyet di kost. Itu juga terong dan sambelnya masak sendiri dengan modal urunan. Sedangkan nasinya memang sudah disediakan oleh kost-kost an. Agak basi sedikit tak mengapa, asal hemat dan nggak bikin sakit perut.  Kadang menu terong penyet diganti dengan tumis pare agar tidak bosan. Super sekali. Hihihihi....

Ada juga teman saya yang nggak suka makan luar, juga nggak suka blanja blanji bergembira. Tapi samirawon, duitnya selalu habis dan  kalo tanggal tua dia juga ikut pesta terong penyet di ruang makan kost-kost an. Usut punya usut, ternyata uang si teman ini habis dipake untuk beli coin game online.

Di masa-masa akhir bulan inilah kebiasaan 'lupa naruh duit di saku jaket' menjadi amat berguna. Kebayang khan betapa berharganya nemu duit dua puluh ribu rupiah di saku jaket pas lagi baper karena laper dan nggak punya duit babar blas?

Well, sebenernya bisa dimaklumi kalo kita mengalami euphoria gaji pertama. Namanya baru pertama kali menerima duit dari hasil kerja keras sendiri, ya khan? Apalagi semasa masih tergantung pada ortu ada banyak yang sebenernya kepengen dibeli tapi tak enak hati kepada ortu. Sah-sah saja. Wong duit yang kita pake hepi-hepi juga hasil keringat kita sendiri, bukan hasil mencuri. 

Tapi sebenernya, lebih bijaksana apabila kita bisa me-manage penghasilan kita. Saya sendiri agak terlambat menyadari pentingnya mengelolah uang, yaitu pada usia 25++, setelah saya mengenal Oni dan berkali-kali di tegur Oni, "Yuk, atur uangmu." 

Bukan melebih-lebihkan suami saya, ya. Tapi memang berkebalikan dengan saya, Oni sudah bisa mengatur keuangan sejak jaman kuliah. Tak heran, dia nggak pernah mengalami 'hidup miskin' di akhir bulan. Bahkan di awal masa kerja dia sudah memiliki asuransi. Sekarang masa pembayaran premi asuransi Oni sudah selesai. Yang artinya Oni tinggal menikmati manfaat berasuransi. Duh, kenapa nggak dari dulu-dulu saya kepikiran ikut asuransi, ya.

Ucapan mama saya yang beribu-ribu kali saya dengar, "Fel, mumpung masih muda, uang gajimu jangan dipake hore-hore melulu. Ditabung. Biar jadi 'sesuatu' di masa depan. Sayang kerja keras di masa muda  kalo hasilnya cuma dipakai untuk membeli hal-hal yang sifatnya sesaat," sungguh 100% benar.  Melihat baju-baju mihil yang saya beli dulu, ah nggak ada yang masih nampak cring-cring seperti saat pertama beli. Dipake juga sudah tidak bisa, karena sudah tidak muat lagi. 

Eh, jadi maksudnya kita yang masih muda nggak usah beli baju mihil, Fel? Enggak! Saya nggak bilang mengatur uang itu sama dengan tidak memakai uang untuk bersenang-senang, lho yo. Bersenang-senang, me time, memberi hadiah untuk diri sendiri, apapun istilahnya, perlu banget. Entah dengan membeli baju-baju mahal, beli voucher game, beli koleksi figurine, atau mbolang ke mana-mana. Pokoknya wajib lah itu. Semasa masih muda, lakukan dan raih apapun yang bisa kita raih, termasuk menikmati kesenangan-kesenangan masa muda.  Tapi tentu saja harus diatur dan dibatasi. Berapa batasannya? Tergantung kemampuan ekonomi kita masing-masing tentunya.

Tips dari saya, ihir.... gaya amat ngasih-ngasih tips


1. Begitu terima gaji, langsung bayar semua hutang, tagihan, dan cicilan. Apabila jatuh temponya masih nanti pertengahan bulan, SISIHKAN! Jangan diotak-atik! Hidup nggak bakal tenang kalo kita masih punya hutang. Jadi kalo kita sudah terlanjur punya hutang, prioritaskan penghasilan yang baru kita terima untuk membayar hutang sebelum membelanjakannya untuk keperluan lain-lain. Ini berlaku juga untuk cicilan dan tagihan kartu kredit, ya. Jangan sampai molor dan terlambat membayar karena tidak ada dana. Bunga cicilan yang terlambat dibayar seringkali mencekik leher, Kakak! Dan ingat, jangan nambah hutang lagi! Apalagi kalo ngutang cuma buat beli barang-barang kesenangan pribadi.

sumber: Pexels, Public Domain
2. Kemudian bayar atau sisihkanlah dana untuk  semua  biaya hidup yang bersifat urgent. Urgent itu yang kayak gimana, ya? Yang jelas, beli jegging baru bukan termasuk urgent yaaaaaa, walaupun bulan ini lagi ada diskon 70% di counter itu tuuuuuh. Biaya hidup yang bersifat urgent yang saya maksud adalah kebutuhan bulanan yang kalo nggak kita penuhi, maka kerja dan aktivitas kita bakan terhambat. Misal uang bensin, kalo nggak beli bensin, otomatis kita nggak bisa berangkat ke kantor karena sehari-hari kita ke kantor naik motor.  Kebutuhan apa lagi yang urgent? Listrik, air, telepon, belanja makan selama sebulan, dan sebagainya. 

3. Tabungan, Investasi dan Asuransi. Poin ke tiga ini yang seringkali tidak dipikirkan oleh kita-kita yang masih muda. Padahal penting banget lho. Karena apa, cuma ketiga pos ini yang bisa kita andalkan kalau amit-amit kita dalam kondisi darurat atau amit-amit tiba-tiba ada butuh dana mendadak.

Lha sebenernya ikut asuransi itu rugi dong ya? Misal asuransi kesehatan, nih. Kalo kita nggak sakit khan sama aja kita ngasih duit cuma-cuma ke perusahaan asuransi. Eh, enggak, kok. Jangan pernah mikirin timbal balik atau laba apa yang kita dapet kalo bayar premi asuransi. Karena sesungguhnya, yang kita beli dengan mengikuti asuransi itu bukan hanya sekedar untuk meng-cover kalau kita mendapat musibah sakit, tapi juga rasa 'aman' terhadap resiko-resiko tadi.

Kalo isu-isu sulitnya mencairkan biaya asuransi, itu mah tergantung kredibilitas perusahaan asuransinya aja, sih ya menurut saya. Oleh karena itu, kita harus cerdas dan selektif memilih perusahaan asuransi. Jangan hanya memilih perusahaan asuransi yang menjanjikan mafaat lebih paling banyak tanpa melihat sehat tidaknya perusahaan. Dan yang penting, pilihlah perusahaan asuransi yang kantor pusatnya berbasis di Indonesia. Biar nggak susah kalo mau urus-urusan sama kantor pusatnya, gitu. 

Lalu pilihlah perusahaan asuransi yang fleksibel dan bisa memberikan manfaat asuransi sesuai budget dan jenis kebutuhan kita. Nggak lucu dong kalo gaji kita masih berkisar 5 jutaan, trus kita kudu ambil asuransi kesehatan yang preminya 3 jutaan hanya karena perusahaan asuransi tersebut tidak menyediakan asuransi dengan premi lebih rendah. 

Ada ya perusahaan asuransi yang memenuhi kriteria di atas? Ada kok. Sinarmas MSIG Life. Cuss deh intip website resminya untuk mengetahui lebih detail mengenai profil dan jenis-jenis produk dari Sinarmas MSIG Life.

4. Baru deh sisanya boleh kita pakai untuk berhepi-hepi hore-hore. Pengembangan diri, fashion, jalan-jalan,  wisata kuliner, beli novel dan lain-lain. 

Gimana? Nggak sulit khan mengatur keuangan tapi tetep bisa bersenang-senang menikmati masa muda? 

0 komentar:

Post a Comment

Komenmu membuatku makin semangat menulis. Sungguh.....