Friday, November 18, 2016

CERITA MAMA: Jangan Panggil Aku 'Mama"




Waktu baru melahirkan C, rasanya hidup saya sebagai seorang perempuan terasa lengkap sudah. Ya, hampir semua perempuan yang sudah menikah mendambakan kehadiran seorang anak. Wajar, khan? 

Tapi ada satu hal yang terasa gimanaaaa gitu. Saya nggak suka dipanggil 'Mama'. Lho kenapa? Ehm, mungkin karena belum terbiasa, ya? Apalagi dipanggil pake sebutan, 'mami'. Aduh, saya kok berasa kayak jadi germo gitu. Maaf lho, bukan nyindir atau mengolok-olok teman-temin yang pake sebutan mami-papi ke anak. Serius enggak. Ini cuma perasaan saya aja, sih.

Waktu suster rumah sakit membawa baby C sambil ngomong, "Mama, yuk belajar nyusuin babynya.", berasa yang ngomong di depan saya itu bukan suster RS, tapi bakul sate langganan yang tiap sore suka jerit-jerit manggilin mama saya di depan rumah,  "Sate Mammaaaaaaa......" Gedubrak!

Sepulang RS, giliran si Oni yang suka manggil-manggil saya, "Mama." Aneh rasanya. Apalagi kalo saya harus balas memanggil Oni dengan sebutan "Papa.", berasa yang saya panggil itu buka suami saya, tapi bapak saya di rumah sana. Hahahahahaha...

Jadinya selama beberapa bulan setelah punya anak, si Oni tetep manggil saya dengan sebutan 'Yank.' karena saya selalu komplen dan pura-pura nggak denger kalo dipanggil 'Ma'.  Saya juga tetep manggil Oni dengan sebutan 'Koko' yang artinya 'kak'. Trus kalo ngomong sama anak? Saya menyebut diri sendiri dengan kata, 'saya'.

Aneh sih memang, masa ngomong sama anak bilangnya, 'saya'. Tapi gimana, dong, kuping saya gatel kalo pake kata 'mama'. Sudah banyak sanak kerabat yang memprotes saya, tapi saya cuek aja, wes.

Dan saya nggak bisa cuek ketika C udah mulai belajar ngomong dan manggil saya dengan sebutan 'saya' juga. Wualah, kok jadi ruwet. Hahahahahaha.....

Terpaksa saya mulai membiasakan diri menyebut diri saya sendiri, 'mama' kalo lagi ngobrol sama C. Dan puji Tuhan ni anak juga nggak keterusan manggil saya pake sebutan 'saya', sih. Dia juga bisa manggil bapaknya, 'papa' walaupun saya tetep manggil Oni dengan sebutan 'koko'.  

Rembay ya? Urusan cara memanggil aja ribet amat. Kalo teman-temin sendiri bagaimana? Nggak ribet ya sama urusan panggilan ke anak? 

8 comments:

  1. awalnya saya pengen anak manggil saya bunda, tp ko ga goal-goal ya. lama-lama kata ibu saya udah umi aja biar gampang. eh iya bentar kemudian dia bisa panggil umi. tapi jadinya ga match, ayah umi panggilan ke ortunya..><

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, iya bener. Ada banyak orsng di sekitsr saya yang panggilanke ortunya nggak matching antara ayah dan Ibu. Hihihihihi....

      Delete
  2. Baguss mbaa..dari kecil sudah diajarin untuk memanggil orangtuanya....keren artikelnya mbaa
    salam blogger mba
    follback

    ReplyDelete
  3. Halo Mbak Fely, salam kenal. Kunjungan perdana saya, hehe. Saya memanggil orang tua saya juga nggak matching (Mama dan Bapak), semata-mata karena "Mama" lebih mudah diucapkan dan bapak saya tidak suka dipanggil "Papa" (menurutnya, "Halah orang kampung kayak kita nggak usah Papa-Papa segala"), ahahaha.

    Mengenai panggilan kepada pasangan, orang tua saya juga masih memanggil dengan nama masing-masing untuk komunikasi berdua mereka. Gemes lihatnya, hahaha. Rasanya kayak waktu terhenti gitu, nggak berubah sejak masa pacaran mereka. Tapi kalau bicara pada saya, panggilan jadi menyesuaikan. Contoh: "Bilang ke Bapak sana kalau besok mau dianter ke stasiun!"

    X'D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai hai salam kenal. Apa karena anak-anaknya udah gede, ya? Jadi manggilnya balik kayak ke masa pacaran? Mama saya sendiri kalo manggil papa, "bapak". Awalnya cuma buat olok-olokan, lama2 kebiasaan. Hihihhihiih

      Delete
  4. hahaha iya emang mau gak mau biasain manggil mama/papa ke pasangan biar anak ngikut. kalo kita manggil nama, anak jadi ikutan manggil nama :P

    ReplyDelete

Komenmu membuatku makin semangat menulis. Sungguh.....