• SITI NURBAYA COLABORATIVE BLOGGING: Akun Media Sosial untuk Anak, Perlukah?

  • Yup, kita kaum wanita memang lebih mudah terserang infeksi saluran kemih. Salah satu penyebabnya adalah karena saluran kemih wanita lebih pendek dibanding pria. Lalu bagaimana cara mengatasinya? Yuk baca lebih lanjut

  • KULINER: Ngobrol Bareng Farah Queen Sambil Mamam Queen Apple. Cucok Cyn!

Thursday, January 28, 2016

KULINER: Sego Resek Malang

Alkisah, saya penasaran dengan beberapa selebgram spesialis kuliner di IG yang membahas mengenai Sego Resek Malang. Ada yang bilang ini jujukan kuliner legendaris kota Malang, lah. Ada yang bilang rasanya huenak mandraguna. Ada yang komen ngantrinya ngalah-ngalahin antrian pembagian sembago gratisan. Wuih!!!!!  

Jadilah sore ini saya membeli dan mencoba sego resek yang heits itu. 

Masalah tempat, saya kurang tau ya. Soalnya saya nggak dateng sendiri ke warungnya, tapi pake jasa JAC. Apa toh JAC itu? Semacam gojek gitu lah. Tapi kalo saya liat foto-foto di IG, tempatnya ya biasa aja, warung sekelas warteg pinggir jalan gitu. Ada yang bilang, tempat berjualan sego resek ini dulunya adalah TPA. Dari situlah asal nama sego resek. Dalam bahasa Indonesia, sego means nasi, resek means sampah. Jadi sego resek means nasi capcay. Lho? Hahahahaha.....




Pas buka bungkusan sego resek, saya lumayan bengong. Penampakan isinya tidak menarik sama sekali. Campur aduk gak karuan. Nasinya kayak nasi goreng gitu, tapi warnanya nggak merah. Lebih kekuning-kuningan kayak nasi yang digoreng pake margarin itu lho. Ada sedikit campuran kecambah, mie, dan kubis. Lauknya beberapa suwir ayam, cuwilan usus ayam, sepotong mentimun, dan 6 buah cabe ijo serta 3 irisan telur. Kalo dibandingkan dengan 1/4 butir telur rebus, kayaknya masih banyakan 1/4 butir telur, deh. Bener-bener mirip nasi sisa. Hm.... mungkin karena itu juga, makanya dinamakan sego resek?



Jujur, kalo sebelumnya nggak baca review-review di IG, saya ogah disuruh makan sego resek. Asli, gak keliatan menarik dan mengundang selera. 

Ketika saya coba rasanya, hm...... kok ya biasa aja ya? Gak ada yang spesial. Kayaknya saya bisa deh disuruh bikin nasi campur dengan rasa lebih enak dari sego resek ini *maruk *somsek. Justru Clairine yang sekali suap trus minta-minta lagi. Tapi saya nggak berani kasih banyak-banyak, takut banyak vetsinnya, cin.

Kalo lauknya yang cuma seiprit, yaaaaah.... ndak berani protes lah ya. Secara harganya cuma 8 rebu perak, Kakak.  

Eh, tapi tapi tapi..., dengan harga segitu, saya bisa dapetin nasi jagung atau nasi campur yang rasanya lebih endeus, lauknya lebih banyak dan lengkap, serta penampilannya lebih layak, kok. Untuk ukuran kota Malang lho, ya. 

Kesimpulannya, saya nggak suka dan nggak merekomendasikan sego resek.

*eh (lagi), ini menurut pendapat saya pribadi lho, ya. Mungkin kalo makan di warungnya lebih terasa enak kali ya? Tapi kalo saya diajak makan ke sana atau ditawari makan sego resek lagi, ehm.... emoh, deh.

*(UPDATE) Malemnya ketika Oni pulang dari ketemu klien, dia juga nyobain sego resek yang sengaja saya sisihkan 1 bungkus untuk dia. Komennya sama, "Gak gitu enak. Lauknya kurang.". Kata Oni, dulu papa mertua juga suka bawa pulang sego resek. Tapi kalo papa mertua yang beli, semua lauknya masih dalam bentuk utuh nggak disuwar-suwir. Trus ada paru, sayur lodeh, dan sambelnya. Karena lauknya lebih berlimpah, jadi rasanya lebih nampol.   Ya ya.... Saya simpulkan, sego resek yang saya beli dengan bantuan JAC itu sego resek paket standard. Kalo mau lebih special, ya harus minta nambah lauk sendiri. 
Kalo ada kesempatan makan sego resek, saya sarankan teman temin harus minta tambahan lauk dan minta pake sambel & sayur lodeh. barangkali kalo lebih komplit begitu, rasanya lebih nonjok. Hihihihihi....  

Monday, January 25, 2016

APA KABAR CLAIRINE #6: Yang Unik



Januari ini Clairine berusia 2 tahun 3 bulan. Tingkahnya makin lucu dan (kadang) ngeselin. Hihihihihihihi........ I love her big black eyes ^_^

1. Pura-pura nangis
Seperti balita-balita pada umumnya, Clairine juga suka pura-pura nangis kalo keinginannya tidak dituruti. Tapi nampaknya dese jenis anak fast learner. Cepet nyadar kalo strategi meweknya ini nggak mempan buat mama papanya, karena kalo dese mewek saya dan Oni malah kompakan nyuekin atau malah bikin dia nangis beneran.  Jadi dia mulai bikin strategi baru, yaituuuuu pura-pura pingsan! Misal waktu sesi makan siang gitu dan dia emoh makan, dia bakal tiba-tiba ndeprok di lantai, merem, gak gerak-gerak. Dia bakal bangun kalo yang nyuapin menjauh. Haiyaaaaa.......


Abis mandi minta pake tutu dan difoto-foto

2. Lagi demen Frozen
Yah, telat banget ya baru sekarang nonton Frozen. Hahahahaha...... Setelah beberapa kali kita tontonin Frozen, Clairine jadi 'responsif' sama lagu 'Do You Want to Build A Snowman'. Tiap denger lagu itu, dese bakal nyari pintu terdekat buat diketuk-ketuk sambil teriak-teriak dengan suara cadelnya yang lucu, "Elsaaaa? Elsaaaaaa! Permisiiiiiii!!!" 



3. Mulai kemayu
Udah mulai sadar kali ya kalo dia cewek. Sekarang suka ketawa-ketawa centil gitu. Trus tiap ketawa agak lebar, pasti sambil nutup mulut. Helah..... Trus dese juga suka minta pake bedak dan make up  kalo mau bepergian. Ya nggak saya make up in beneran, jeh. Cuma saya kasih spons bedak bersih sama kuas bersih. Nanti dese bakal tepok-tepok muka kayak lagi pake bedak trus kuas-kuasin bibirnya kayak orang lagi pake lipstick. Hihihihihi.


Ci Luk Ba

4. Ngumpet di belakang korden
Entah kenapa, Clairine demen banget ngumpet di belakang korden. Kadang maen cilukba, tapi seringnya nggak malah ngapa-ngapain, ya udah diem-diem (sambil merenung kali) aja di belakang korden. 


Belum puas foto indoor, minta foto outdoor

5. Doyan maen hujan dan melihat bintang
Kalo ujan turun dese seneng banget jalan-jalan di teras. Trus kalo malem suka minta keluar ngliat bintang. Dese bakal lamaaaa banget ndongak melototin bintang sembari berbisik "Star.... Star...." sambil nunjuk-nunjuk ke langit. Wolah, sok romancos kamu, Nak. Hihihihihihi......


Thursday, January 21, 2016

CERITA MAMA: Pengenalan Agama Pada Anak Sejak Dini, Perlukah?


Dalam sebuah obrolan ringan, salah seorang teman saya berkata kira-kira seperti ini: 
"Saya tidak mengajarkan agama apapun kepada anak saya. Nanti aja lah kalo dia sudah besar, biar dia sendiri yang memilih agama apa yang paling cocok buat dia. Saya tidak akan memaksakan agama apapun kepada anak saya karena agama itu khan hak asasi. Lagipula buat apa belajar agama kalo prakteknya nihil. Yang penting anak saya tidak berbuat jahat dan merugikan orang lain."

Well, ucapan teman saya tidak sepenuhnya salah, sih. Memang betul, buat apa belajar agama tapi prakteknya nihil. Memeluk suatu agama pun tidak akan menjamin bahwa seseorang itu mengenal baik Tuhan dan menjalankan ajaran agamanya. 

Tapi saya tidak setuju apabila orang tua tidak mengajarkan agama pada anak sejak dini. Ibarat makanan, seorang anak harus diberi makan sejak bayi agar dia berkembang dengan baik. Tentu saja makanan yang diberikan harus sesuai dengan umurnya. Makanan jasmani adalah makanan yang kita makan sehari-hari. Kalo bayi ya minum ASI, gedean dikit makan MPASI, lebih gede lagi makan empat sehat lima sempurna. Makanan rohani adalah pelajaran agama yang diajarkan kepada anak. Kalau anak tidak diberi makanan rohani sejak dini, bagaimana rohaninya bisa berkembang dengan baik di kemudian hari. 

"Ah, itu khan karena kamu tinggal di Indonesia, Fel. Dimana keagamaan masih dianggap kewajiban. Di KTP aja harus mencantumkan agama." begitu ujar salah seorang teman yang lain. 
Well, memang betul kehidupan keagamaan di Indonesia relatif lebih kuat dibanding beberapa negara lain terutama Eropa, Amerika, dan beberapa negara Asia yang sudah maju seperti Jepang, Korea, dan China (correct me if I am wrong.). Tapi bukan itu alasan saya mendukung pengenalan  agama pada anak sedini mungkin. Agama adalah semacam pegangan dan pedoman bagi manusia (tentunya anak juga) dalam menjalankan kehidupan bersama baik secara horizontal dan vertikal. Baik hubungannya dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia. 

Memang benar, memeluk dan belajar agama tidak menjamin bahwa seseorang memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan atau sesamanya. Tapi saya yakin, semua agama di dunia pasti mengajarkan hal yang baik, luhur, dan mulia. Tinggal orangnya aja yang bisa menjalankan ajaran agamanya dengan benar atau tidak. Logikanya, orang yang belajar dan memiliki pegangan agama aja bisa jadi orang yang gak baik ke sesama, apalagi yang nggak punya pegangan agama, bukan? Apa nggak lebih riskan? 

Lalu, bagaimana dengan pendapat 'Biar dia sendiri yang memilih agama apa yang terbaik buat dirinya kalo dia sudah besar nanti.'? Seperti yang sudah saya ungkapkan sebelumnya, agama adalah makanan rohani yang wajib diberikan sedini mungkin supaya anak dapat berkembang dengan baik dan seimbang baik secara rohani dan jasmani. 

Saya belum pernah nemu, tuh seorang ibu yang ngomong begini, "Saya nggak kasih makan apa-apa ke anak saya dulu, lah. Nanti biar dia sendiri aja yang memilih dia mau makan nasi, jagung, atau kentang kalo dia sudah besar nanti." Edan apa? Yo selak anaknya mati kelaperan kalo menunggu anaknya besar dulu baru makan. Hihihihihihi......

Orang tua akan memberikan makanan yang menurutnya terbaik bagi si anak agar anaknya dapat bertumbuh dengan sehat. Walaupun belum tentu makanan itulah yang kelak akan dipilih oleh anaknya ketika anak tersebut sudah mampu memilih makanan apa yang disukainya. Demikian juga dengan agama.  Orang tua mengajarkan sebuah agama yang menurut orang tuanya terbaik bagi perkembangan rohani anaknya dimana agama yang terbaik itu biasanya ya memang agama yang dipeluk dan dipahami oleh orang tuanya.  Mengajarkan agama sejak dini bukan berarti memaksakan sebuah agama ke orang lain, tapi karena si anak belum bisa memutuskan agama mana yang terbaik bagi dirinya sendiri. Masuk akal khan? 

Ya tentunya itu tadi, pengenalan dan pendidikan agama pada anak harus disesuaikan dengan usia si anak lah yaw. Nggak mungkin juga, khan saya mengajarkan doa rosario kepada Clairine yang masih usia 2 tahun. Paling yang saja ajarkan untuk saat ini ya mengikuti misa, pengenalan dengan sosok Tuhan Yesus, Bunda Maria, dan Santo Yosep, dan sikap doa yang benar. Itu juga Clairine sampe saat ini masih suka salah sebut nama Tuhan Yesus jadi Sosis Enak (gubrak!) 

Balik ke pembahasan kita tadi, perkara si anak memutuskan pindah agama atau melawan kehendak dan ajaran agama orang tuanya setelah dia dewasa kelak, itu lain masalah. Dan tidak akan saya bahas di sini, karena memang bukan itu topik postingan ini. 

Jadi pengenalan dan pendidikan agama pada anak itu bukan hanya perlu, tapi HARUS! 
Ini menurut saya, lho ya. Bagaimana menurut teman-temin?

Monday, January 18, 2016

Nostalgia: PERMAINAN MASA KECILKU

Apa permainan-permainan ya saya lakukan bersama teman-teman pada waktu kecil? Wah, jawabannya banyak sekali. *pandangan menerawang jauh mengenang masa kecil. Hihihihihi.... Tapi kalo ditanya permainan favorit dan membekas dalam kenangan, hm.... jawabannya adalah permainan-permainan yang pertama kali saya kenal pada waktu saya belum sekolah sampai menginjak bangku TK.

1. LAYANGAN 
Saya suka sekali kabur ke kampung di samping rumah saya ketika jam tidur siang. Apa yang saya lakukan? Nggabung sama cowok-cowok yang maen layangan di sawah. Karena saya cewek dan masih piyik, saya nggak dikasih pegang benang layangan. Saya cuma disuruh megang kaleng gulungan tali sama disuruh megangin layangan yang akan diterbangkan.  Lama-lama saya bosen juga karena cuma dijadiin jongos dan nggak diajarin nerbangin layangan. Maka sebentar saja saya bergabung dengan tim anak layangan, selanjutnya saya nggak pernah lagi nggabung sama mereka. Sampai saat ini saya juga nggak bisa menerbangkan layangan. Hahahahaha.... Namun bagaimanapun juga, kegembiraan (pupuk bawang) maen layangan di masa kecil itu meninggalkan kenangan yang indah di benak saya. 

2. KRUPUKAN
Ini salah satu permainan berkelompok yang pertama kali saya kenal ketika saya menginjak bangku TK. Permainannya sangat mudah. 2 anak saling menangkupkan tangan di atas kepala seolah-olah membentuk gerbang manusia. Teman-teman yang lain berbaris sambil memegang bahu teman yang ada di depannya. Barisan itu berjalan berputar melewati gerbang sambil bernyanyi; 
Krupukan-krupukan minta jalan 
Kandang sapi belakangan 
Baris-baris masuk satu masuk dua masuk tiga!
Pada akhir lagu,  anak yang bertugas menjadi gerbang akan menurunkan tangan mereka sehingga ada salah satu anak dalam barisan yang akan terjebak di dalam gerbang. Anak yang terjebak di dalam gerbang tidak diijinkan ikut dalam putaran berikutnya dan harus berdiri di belakang salah satu anak yang menjadi gerbang serta ikut menyanyi bersama 2 anak yang menjadi gerbang. 
Demikian seterusnya sampai barisan anak habis tertangkap gerbang. 

3. CUBLAK CUBLAK SUWENG
Tau khan dolanan jawa yang femes ini? 
Permainan berkelompok ini sangat mudah untuk dilakukan. Salah satu anak disuruh berperan sebagai Pak Empong dan bersujud mencium lantai. Sementara teman-teman yang lain meletakkan salah satu tangan mereka di atas punggung anak yang bersujud tersebut.  Telapak tangan masing-masing anak harus terbuka dan menghadap ke atas.
Lalu salah satu anak ditugaskan memegang batu dan menimpuki kepala Pak Empong sampe pingsan. Enggak, denk. becanda. Anak yang memegang batu akan bernyanyi lagu Cublak-Cublak Suweng dan menyentuhkan batu secara bergiliran ke telapak tangan teman-temannya. Begini lirik lagunya:
Cublak-cublak suweng
Suwenge ting gulenter
Mambu ketundhung gudel 
Pak Empong lirak lirik
Sopo ngguyu ndelikake
Sir...sir pong dele bodong 
Sir... sir pong dele bodong
Entah pada akhir awal lagu, pertengahan lagu, pokoknya sebelum lirik "sir...sir pong", batu akan diletakkan pada telapak tangan salah satu  anak. 
Ketika sampai pada lirik "sir...sir pong" itu, Semua anak akan mengepalkan kedua telapak tangan mereka seolah-olah sedang menggenggam batu dengan jari telunjuk masih mengacung dan digesek-gesekkan dengan telunjuk tangan satunya. Sementara Pak Empong boleh duduk dan menebak siapa yang menggenggam batu. Mereka harus berusaha bertampang biasa-biasa saja atau sengaja bersikap mencurigakan untuk mengecoh Pak Empong agar salah menebak.
Kalau Pak Empong menebak dengan benar, anak yang memegang batulah yang disuruh bersujud berperan menjadi Pak Empong. Kalau tebakannya salah, ya dia lagi yang harus mau menjadi Pak Empong. Hihihihihi......

4. TABLEK NYAMUK
Permainan ini juga cukup mudah dilakukan. Salah satu anak bertugas berdiri di depan. Kita istilahkan anak yang berdiri di depan itu: "Korban", ya. Supaya gampang aja nyebutnya. Sementara teman-teman yang lain berdiri sejarak beberapa meter (tergantung luas area bermain, makin jauh makin bagus) di belakang si korban. 
Aturannya mudah saja, selama si korban tidak menengok ke belakang, mereka harus cepet-cepetan menepuk punggung si korban seolah-olah menepuk nyamuk yang bertengger di punggung korban (mungkin karena itulah permainan ini disebut 'Tablek Nyamuk'). Tetapi ketika si korban menoleh ke belakang (terserah ya, si korban ini mau noleh ke belakang berapa lama dan berapa kali.) mereka harus stop motion dan bergaya absurd. Entah gaya kodok pipis, gaya monyet garuk-garuk, gaya kambing disco. Terserah. Pokoknya harus bergaya absurd. 
Trus? Ya udah gitu aja permainannya. Hihihihihi..... Permainan baru berakhir ketika salah satu anak berhasil menepuk punggung korban. Ketika punggung korban ditepuk, korban harus berlari mengejar dan menangkap salah satu dari teman-temannya. Anak yang tertangkap ditumbalkan menjadi korban pada giliran selanjutnya. 

5. ....
Saya tidak tahu judul lagu yang dinyanyikan maupun  nama permainan ini. Karena kakak-kakak kelas dan guru yang mengajarkan permainan ini juga tidak memberi tahu.  
Begini cara bermainnya. 
Salah satu anak berperan menjadi nyonya (lagi-lagi ada 'satu anak' yang dijadikan tumbal ya. Hahahahaha...) . Sedangkan anak-anak yang lain berperan menjadi ibu dan anak-anaknya. Lalu si juragan dan si ibu akan menari (gerakannya sih ngawur) dan bernyanyi bersahut-sahutan:
     J (juragan) : Yu Yu lha nopo pada-pada menyang mriki?
     I (ibu): nggadekaken yoga kula.
     J: Pundi sing sae?
     I: Niki lan menika.
     J: Pinten gapine? 
     I: Satus sekawan dasa.
     J: Kulo cobi, nggih?
     I: Monggo......
Lalu pemain yang berperan sebagai anak akan bersujud dan meletakkan tangannya seperti orang berdoa di atas kepala. Si juragan akan menghampiri masing-masing anak dan menggerak-gerakkan tangannya seolah-olah sedang memukuli kepala anak. Anak yang mendapat giliran kepalanya 'dipukul' oleh si juragan harus mengeluarkan sound effect. Tergantung kreatifitas masing-masing anak. Kebanyakan anak sih memilih sound effect standard begini 'Ting-ting' atau 'Tung-tung' atau 'Teng-teng' atau 'Tong-tong'. Tapi ada juga anak yang kreatif bersuara "Jebrot!", "Pret!", atau "Gubrak!". Kadang ada yang diem aja, trus tiba-tiba teriak "Dor!!!" supaya si juragan kaget. Hihihihihi.....
Setelah semua anak mendapat giliran bersuara, juragan akan memilih salah satu anak untuk bergabung ke kelompoknya.  
Si juragan dan ibu akan kembali bernyanyi bersaut-sautan dan melakukan adegan 'pemukulan' seperti di atas sampai semua anak habis dan bergabung ke kelompuk si juragan. 

Dari kelima permainan di atas, permainan terakhir inilah permainan favorit saya. Karena kami bisa bermain sambil menari. Selain itu setiap anak harus kreatif mengeluarkan sound effect supaya duluan terpilih oleh anak yang berperan sebagai juragan.
  
Setelah sekarang saya pikir-pikir, permainan yang satu ini mendidik tapi lirik lagunya kok agak-agak edan dan absurd ya. Hahahahahaha.... Coba teman-temin perhatikan terjemahan liriknya: 
J: Mbak-Mbak, ada apa rame-rame datang kemari?
I: Hendak menjual anak-anak saya. Hah? Kami dari kecil udah diajarin kalo gak punya duit ya jualan anak aja.
J: Mana aja yang dijual?
I: Yang ini dan yang itu.
J: Berapa harganya? 
I: Seratus empat puluh rupiah. Murah amaaaat! Di koran aja saya baca ada ibu-ibu yang rela menjual bayinya seharga 3 juta.  
J: Saya coba dulu, ya?
I: Silahkaaaan...... jangan ditiru ya, adek-adek. Ini cara berdagang yang keliru. Sediakan tester supaya barang dagangan kita tidak dicolek dan dicuil seenaknya oleh calon pembeli.

Absurd, khan? Belum lagi pemeran anak harus berusaha agar dibeli terlebih dahulu oleh juragan. Kalo di kehidupan nyata mah si anak malah bakal lari ketakutan kalo tau mau dijual sama mamanya. Hahahahahah.... Ya, namanya juga permainan, ye?  

Ah, serunya permainan masa kecil. 
Kalau teman-temin sendiri? Adakah permainan favorit di masa kecil yang sampai sekarang masih terkenang dan berkesan di hati?



Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Permainan Masa Kecil 
yang diselenggarakan oleh Mama Calvin dan Bunda Salfa

Friday, January 15, 2016

TIPS: Membungkam Cibiran dan Pertanyaan KAPAN KAWIN?



Photo by: http://www.rgbstock.com/user/jdeboer

1. Tanggapi dengan Sikap Positif
Saya beberapa kali membaca artikel yang menyarankan jawaban kreatif yang sifatnya menyerang balik kepada si penanya seperti misalnya dengan bertanya balik, 'Kapan mati?' atau 'Kalo saya kawin, situ mau kasih sponsor berapa duit?'
Well, nggak salah, sih sebenarnya. Tapi menurut saya, jawaban-jawaban seperti itu sebenarnya kurang bijak. Selain karena akan menyinggung perasaan si penanya, juga akan memberikan kesan negatif terhadap pribadi kita sendiri di hadapan orang lain. Bukannya membungkam si penanya, yang ada selanjutnya kita malah menerima pidato yang lebih panjang semacam, "Eh, jadi cewek judes amat, sih. Pantesan gak kawin-kawin. Bla bla bla...." Atau bagaimana bila dibalik pertanyaan si penanya, ada maksud positif. Mungkin saja dia berniat mendoakan kita atau memperkenalkan kita dengan seseorang. Well, who know....

2. Minimalkan Negative Point Lain
Sering nggak kalian mendengar celetukan orang lain atau bahkan orang terdekat kita, "Kamu itu, udah jomblo, gendut pula." atau, "Duh, kasian ya bu X. Anaknya yang bungsu itu belum laku-laku juga. Udah gitu pemalas banget." 
Pertama, saya nggak bilang kalo being jomblo is a negative point, ya. Tapi seringkali orang menganggap jomblo itu hal negatif trus kemudian menghubung-hubungkan kejombloan kita (padahal belum tentu ada hubungannya) dengan hal-hal negatif lain yang ada pada diri kita. 
Coba minimalkan hal-hal negatif yang ada diri kita. Walaupun jomblo, tunjukkan bahwa kita bahagia dengan diri kita (bukan pura-pura bahagia ya. tapi bahagia beneran). Walaupun jomblo kita punya karir yang membanggakan dan sanggup membahagiakan orang tua kita. Walaupun jomblo tapi kita selalu tampil stunning dan percaya diri.

3. Sekalian Minta Dicariin
Why not? Siapa tahu si penanya punya stock high quaity jomblo yang bisa dikenalin ke kita, ya khan. Kalo si penanya cuma basa-basi, dijamin ia akan menggerutu dalam hati "Mampus. salah nanya gue." Hahahahahaha........

4. Be Mysterious but not Too Serious
Jawaban: "Doain ya." atau "Tunggu tanggal mainnya." disertai dengan kerlingan misterius seems more elegant khan dibanding diem sambil melengos judes. "Undangannya udah dicetak, kok. Tinggal ngisi nama mempelai prianya." akan membuat si penanya tersenyum dan mengalihkan topik dibanding menjawab pertanyaan dengan jawaban yang memicu perdebatan lebih dalam.   

Kalau semua tips di atas masih nggak mempan, saya punya jawaban pamungkas yang biasanya tokcer membuat si penanya nggak berani nyinyir lagi, "Jodoh itu rahasia Ilahi. Cuma Tuhan yang tahu jawabannya."

Monday, January 11, 2016

APA KABAR CLAIRINE #5: Foto Anak By Lucide Studio


Alkisah, saya pengennya mengambil foto Clairine secara rutin. Lalu foto-foto yang bagus saya cetak dan saya taroh di album khusus. Semacam dokumentasi perkembangan Clairine dari bayi sampe (moga-moga bisa) dewasa. Namun, karena keterbatasan alat yang dipakai untuk foto dan anaknya sendiri makin lama makin gak bisa diem, hasil foto-foto saya lha kok mblereng semua. Apalagi Clairine akhir-akhir ini suka langsung melongo tiap dia sadar kalo lagi difoto. Padahal banyak 'AW' moment yang  nampaknya terlalu sayang untuk tidak diabadikan. Foto-foto yang lumayan didominasi dengan ekspresi ngowoh Clairine. Ih, enggak banget. 

Tanggal 6 Oktober 2015 yang lalu kami merayakan ulang tahun Clairine yang ke 2. (Ih, gak berasa banget anak saya udah 2 tahun, jek. Bentar lagi waktunya milih-milih calon mantu. Wahahahahahaha.....) Acaranya, sih nggak gede-gedean. Cuma makan-makan keluarga di rumah saya (saya belum cerita ya, kalo saya udah back for good ke Malang? Sek nanti tak ceritakan di postingan lain.) Yang penting mengadakan syukuran atas usia Clairine dan juga futu-futu dong ah. Biar ada dokumentasinya gitu. Daaaan hasil futu-futunya sesuai perkiraan saya, mblereng semuah! Huaaaaa......

Masa toh ya, dokumentasi foto ultah aja gak ada. Hiks....  Akhirnya dua hari kemudian saya dan Oni meminta bantuan Cherish dan Adi, owner Lucide Photography, untuk membuat dokumentasi foto Clairine. Mereka berdua sepasang suami istri (co cwit banget ya, suami istri kerja bareng. Ihik...) yang memang berprofesi sebagai fotografer. Selain melayani foto bayi dan foto anak, mereka juga bisa kok diminta untuk foto wedding, foto wisuda, foto portfolio. Embuh maneh lek foto bugil, yo. *disambit Adi & Cherish.

Yak yuk, teman-temin yang kangen melihat foto-foto Clairine, silahkan dipentelengi sepuas-puasnya foto-foto Clairine di bawah inih. 

Gaya nyengir

Foto ini kayaknya cucok kalo dipake buat baliho foto caleg

Gigi kelinci. Ihik.....

Cita-cita: Bintang iklan shampoo

Sedang bercerita. Emboh cerita apa. Saya gak mudeng bahasa bayi. Hahahaha...

Bagus-bagus ya hasil fotonya. Iyah bagusssss! Saya puas dengan hasil foto-foto mereka berdua, terutama foto-foto yang bergaya candid kayak di atas. Mereka berdua itu ya, sabar dan telaten banget ngadepin krucil. Jadi mereka nggak asal jepret foto, tapi bersabar mencari moment yang pas buat ngambil foto-foto Clairine. Selama sesi foto mereka terus ngajak Clairine ngobrol dan maen. Studio fotonya sendiri luas dan didesain model ruangan beneran gitu. Nggak berasa engap kayak studio-studio foto yang kebanyakan tertutup dan tanpa jendela. Jadi anaknya sendiri nyaman dan mau mengeluarkan aneka gegayaan. Selama 1 jam sesi foto, mereka gak capek tuh ngejar-ngejar Clairine. Saya malah goler-goler santai di lantai sambil ngobrol sama mamanya Cherish yang kebetulan lagi ada di sana. Hahahahaha.....

Melongo sambil pamer keti.
Lagi-lagi melongo

Nah ituuuu tampang khasnya Clairine kalo dese sadar lagi difoto. MELONGO. 

Niat awal saya memang cuma motoin Clairine. Jadi saya dan Oni nggak ikutan foto dan nggak mempersiapkan diri (baca: make up, lulur, kramas, facial, bawa baju kece) untuk difoto. Tapi pas akhir-akhir sesi foto, si Clairine berkali-kali ndusel ke si Oni dan sempat dijepret sama kameranya Adi. Eh, lha kok hasilnya bagooooos. Emang dasarnya Clairine deket dan lengket banget sama si Oni, trus fotografernya juga yahud. Di foto-foto yang bareng Oni itu keliatan gitu ikatan emosi antara ayah dan anak. *ambil tissue

Ini foto yang menurut saya paling cakep!

Di sini tampang Clairine kok mirip Chucky ya. Serem! wkwk......

Foto-foto Clairine bareng saya? Nggak ada. Karena ya itu tadi, saya lagi asyik goler-goleran di lantai ngrumpi sama mamanya Cherish. Sempat sih beberapa kali kefoto, tapi saya nggak dikasih copy fotonya sama Cherish dan Adi, tuh. Mungkin (bukan mungkin, denk. Tapi 'PASTI') karena foto-foto yang ada sayanya memang jelek, posenya juga enggak banget. Jadi kena sortir  gituh. Dan saya sendiri emang udah ngomong emoh difoto karena gak siap. 

Kalo teman-temin sendiri bagaimana? Punya studio foto rekomendasi nggak? 


info kontak: 
LUCIDE PHOTOGRAPHY
Adi & Cherish

Alamat: Jl. Pinang Tua II no 4, Malang
WA: 085334149959
BBM: 238082CC
Line: adilucide

IG: @lucidestudio





Friday, January 08, 2016

Tahun Baru, Wajah Baru

Halo... Halo.....

Yay, akhirnya saya membuat postingan pertama di tahun 2016.
Saya ucapken selamat tahun baru buat teman-temin semua, ya. Semoga di tahun baru ini teman-temin diberkahi lebih banyak rejeki kesehatan dan keuangan. Uamiiiiin! Yang lagi ngarep jodoh segera ketemu jodoh. Yang lagi mengharap kenaikan jabatan segera naik jabatan. Yang pengen beli mobil baru segera dapet mobil baru. yang pengen bini baru, sana ke laut aje. 

Photo by: http://www.rgbstock.com/user/xymonau

Kalau teman-temin memperhatikan Blogger profile user saya, Teman-temin bisa melihat kalo saya udah nge-blog sejak tahun 2006. Yang artinya tahun ini udah 10 tahun saya berstatus sebagai seorang blogger. Hurra!!!!!!! Terus saya bangga gitu? Bangga dong. Secara banyak teman blogger seangkatan saya yang sudah pensiun blogging dan beralih ke medsos lain yang memang lebih heits gituh. Ehm... yah sebenernya nggak bangga-bangga amat, sih ya. mengingat saya termasuk blogger angot-angotan dan seringan hiatus daripada rutin ngepost. Waha......... Malu deh, ah.

Alkisah, awalnya ketertarikan saya terhadap dunia blogging adalah karena latah liat temen kost yang rajin ngeblog. Saya minta dia untuk mengajari saya bikin blog. Waktu itu Saya masih tinggal di Tangerang, dan kalo mau ngeblog haru ske warnet dulu. Hihihihihihi.... Isi blog saya didominasi dengan curhatan-curhatan gaje dan cerita-cerita kecil tentang kehidupan karir dan cinta. #halah. Waktu itu, teman bloger yang saya paling demenin adalah Mbak Tia penulis blog http://angin-berbisik.blogspot.co.id/ , Mata penulis blog 'Malaikat Mata' dan Retha penulis blog 'Devilish Reth'. Sayang, saat ini ketiganya sudah pensiun ngeblog. Sayang banget lho ya. Saya kangen sama tulisan-tulisan mereka.

Tahun 2009 kehidupan saya mengalami perubahan drastis ketika saya mengenal Ony, laki-laki yang kelak menjadi suami saya dan mengubah hidup saya. (helah lebay). Demikian juga blog ini juga terkena imbasnya. Blog yang isinya curhat curhit alay, kadang isinya misah misuh gajelas beralih fungsi menjadi sarana bertukar kabar dan update berita dengan teman serta saudara yang jauh di sunu. Untuk alasan itu pula, maka postingan sejak tahun 2006 sampai dengan 2009 saya hapus, karena isin kalo dibaca sodara atau teman dekat. Ahahahahaha......

Dan setelah 6 tahun mengalami pasang surut (yang banyakan surutnya) semangat blogging, saya rasa sudah saatnya saya membenahi blog saya dan mengubah visi misi saya menulis di blog ini.

Sek, bentar.... kepalaku mumet ngomong visi misi. berat jek. Wakakakakaka.....


photo by: http://www.rgbstock.com/user/lusi

Yang pertama saya lakukan adalah mengubah tampilan blog saya. Biar segeran gitu. Saya memilih tampilan yang lebih plain supaya mata pembaca tidak mudah lelah mentelengi blog saya. Tata letaknya juga saya ubah dikit. Maunya ngubah banyak, tapi apa daya kemampuan terbatas. Ahak ahak..... Lalu lalu....., yang terpenting adalah, saya ingin ke depannya blog ini lebih banyak menghasilkan postingan yang isinya berguna bagi para pembacanya. Entah itu isinya tips, resep, atau apalah. Bukan sekedar curhat-curhatan dan kabar-kabari aja.

Gitu deh kira-kira. Moga-moga niat saya ini tidak hanya sekedar niat, tapi bisa saya laksanaken, komandan!!!! *tutup muka pake keyboard PC