Saturday, June 02, 2012

CERITA MAMA: SETELAH MEREKA PERGI

G bukan orang yang extrovert dan dapat dengan nyaman membiarkan orang lain masuk ke zona pribadi g. G juga bukan jenis orang yang anti sosial yang selalu menghindar dari keramaian. Selalu menyenangkan bagi g untuk menghabiskan waktu bersama orang lain saat g sedang sedih.  Bersama orang lain, terutama dengan teman, membuat g lupa akan kesedihan g. Intinya, walopun g suka ngaku-ngaku introvert, tapi g lebih seneng menghabiskan waktu bersama orang lain.

Tapi saat anak-anak g meninggal, g benar-benar berubah menjadi orang yang sensitif dan tertutup. Sehari-hari setelah anak-anak g meninggal, g cuma tidur-tiduran dan nangis di kamar. G males ketemu siapapun kecuali Ony.  Tiap kali ada keluarga atau teman yang berkunjung, g memilih pura-pura tidur atau berlama-lama di kamar mandi. Sesekali mama g maksa g untuk nemuin para tamu untuk alasan kesopanan. Sumpah, itu lebih menyiksa dibanding sakit gigi. Bahkan g sempat nangis histeris dan lari keluar rumah waktu mama g maksa nemenin g tidur (waktu itu Ony udah balik Malaysia dan g harus tidur sendirian di kamar). Keberadaan mama g di kamar g mengusik zona pribadi g, it never happen before.

Selain sensitif dan tertutup, g berubah menjadi manusia beraura negatif. Semua yang ada di sekeliling g berubah menjadi suram dan hidup g serasa tanpa tujuan. I keep on asking why, kenapa anak-anak g tega bener ninggalin g dan ga mau ngajak g ikut? *okay, sound like I have no religion, yah? Semua teori, pemahaman, dan pembelajaran arti hidup yang pernah g pelajari ga berguna lagi pada waktu itu. Semua kalimat penghiburan yang g denger bukannya bikin g lega, terhibur, atau senang, tapi justru bikin g makin nyesek. 

"Semua indah pada waktunya.", Waktu siapa???? Sok tau banget si lo! 
"Mungkin Tuhan ada rencana lain buat hidup lo.", Ga usah mendadak ganti rencana napa sih? Ngrepotin orang tau!!!! Kalo emang ga niat kasih anak kembar, ya udah ga usah kasih g kehamilan kembar! 
"Tuhan akan beri ganti yang lebih baik.", Ngomong gampang! Anak lo aja yang mati sono. Ntar Tuhan ganti. Mau gak? 
"Mungkin ini lebih baik. Siapa tahu kalo terus hidup, anak lo malah cacat atau menderita kelainan.", Emang anak g barang returan apa? Kalo cacat ditarik balik sama perusahaan? 
"Turut berduka cita.", Pret!!! Bilang aja lo nengok g cuma buat cari bahan gosip baru. 

Ampun, deh, suram yah? Satu-satunya yang bisa menghibur g cuma orang-orang yang juga pernah ngalamin kayak g. Selain itu, whatever people said, it was sound like bullshit in my ears. Thx God, waktu g posting di blog, ga ada satupun teman blog yang banyak cingcong apalagi nanyain gimana kejadiannya. G lega dan berterima kasih banget kepada teman-teman blog yang waktu itu baca postingan g. *hug hug. 

Thx God again, tanpa g sadari kesuraman itu berangsur-angsur memudar. Well, G masih inget anak-anak g. G masih nangis sesekali. Tapi g mulai memahami dan mengerti, sooner or later, everybody will die. Kebetulan aja mereka pergi duluan dibanding g. Justru g yang masih hidup di dunia ini yang kudu berjuang nabung buat beli tiket ke surga supaya bisa ketemu mereka lagi kelak.  Dan ini mengubah hidup dan cara pandang g terhadap kehidupan itu sendiri.

"Kami yakin bahwa kehidupan mereka diubah bukan dilenyapkan. Dan suatu kediaman abadi kini tersedia baginya di surga." dikutip dari PS

4 komentar:

  1. Amiiiiinnnnn...

    Emang Fel, kalo lagi pait, bawaannya paitttt terus. Pikiran kita tuh kayak lagi ditutupin! Tapi kalo udah ketemu titik terang, kita seakan bisa menemukan kembali our purpose of life :).

    ReplyDelete
  2. obat yang baik adalah cuma menjadi pendengar yg baik

    ReplyDelete
  3. bukan hal yang gampang emang ngelewatin masa2 suram itu. Kita akan selalu keinget2 terus, cuma bisa sabar dan sabar..

    ReplyDelete

Komenmu membuatku makin semangat menulis. Sungguh.....