Friday, January 26, 2018

KULINER: Ini Dia Tempat Kuliner yang Wajib Disambangi di Palembang



Siapa yang nggak kenal pempek? Kuliner berbahan dasar ikan dan tepung tapioka ini tidak hanya diminati orang Palembang, tapi juga menjadi panganan favorit oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia. Rasanya yang gurih, ditambah dengan cuko bercita rasa manis dan pedas menjadikan pempek sebagai salah satu ikon Kota Palembang.

Tapi ternyata, kuliner unik di Palembang nggak hanya pempek, lho. Ada banyak kuliner menarik lain yang layak untuk dicicipi selagi berkunjung ke Palembang. Jadi, sebelum memutuskan untuk membeli tiket pesawat murah ke Palembang, ada baiknya kamyuh menyimak review tempat kuliner yang harus dikunjungi di Palembang berikut.

1. Martabak Har 

 Source : cumilebay

Martabak Har merupakan salah satu kuliner yang paling dicari di Palembang. Menu utamanya adalah martabak telur bebek tanpa sayur yang dihidangkan bersama kari kambing dan kentang. Selain martabak, terdapat menu spesial, yaitu nasi minyak yang dimasak dengan minyak samin, yang hanya tersedia setelah selesai waktu sholat Jumat.

2. Mie Celor 26 Ilir H. Sjafei

Menu khas ini merupakan salah satu menu yang dibagikan untuk pengunjung pada acara Festival Gerhana Matahari (GMT). Mie celor menggunakan jenis mie berukuran besar yang teksturnya kenyal. Mie disiram kuah udang kental yang lezat, ditambah topping tauge dan telur. Satu porsinya hanya Rp15.000,00. Murah, bukan?

3. Pindang Sri Melayu Palembang

 Source : cumilebay

Rumah makan ini terletak di Jalan Demang Lebar Daun, Palembang. Tempat yang luas dan nyaman, dengan aneka hidangan khas Palembang yang lezat sangat cocok untuk tempat berkumpul bersama keluarga. Aneka jenis menu yang menggoda selera seperti pindang ikan salai, pindang tulang, pindang udang, brengkes patin, ikan saluang goreng, juga aneka sambal dan lalapan dengan kisaran harga Rp10.000,00 - Rp80.000,00 tersedia di sini.  

4. Tekwan Wak Aba Bukit Besar

Kuliner Palembang memang tidak jauh dari ikan. Tekwan adalah makanan khas Palembang lainnya yang terbuat dari ikan, disajikan dengan kuah kaldu udang dan dilengkapi irisan jamur kuping dan bengkuang. Tekwan Wak Aba Bukit Besar terletak di Jalan Srijaya Negara Bukit Besar, Palembang.

5. Warung Kopi H. Madina Kuto

Jika ingin mencari sarapan, warung kopi yang terletak di Jalan Dr. M. Isa ini bisa menjadi pilihan yang tepat. Aneka makanan khas Palembang seperti burgo, laksan, lakso, celimpungan, dan lainnya tersedia di sini. Warung kopi ini cukup terkenal di Palembang. Jadi, pastikan untuk datang lebih pagi supaya tidak kehabisan, ya!

6. Sate Kambing Soepardi

Source : tripadvisor

Warung ini menyediakan aneka jenis sate seperti sate ayam, sate sapi, dan sate kambing. Meskipun harganya cukup mahal, yaitu Rp60.000,00 per porsi, tapi ukuran daging satenya lebih besar dan teksturnya empuk. Anda juga bisa mencicipi gulai kambing yang rasanya tak kalah lezat. 

7. Tempoyak Musi Rawa

Menu andalan rumah makan ini adalah pepes patin tempoyak yang membuat banyak orang ketagihan. Sambal tempoyak sendiri adalah durian yang difermentasi yang setelah matang, rasa duriannya hampir hilang, digantikan oleh rasa asam dan sedikit pedas dari bumbu lain. Rumah makan ini terletak di Jl. Angkatan 45, Lorok Pakjo, Palembang.

8. Es Kacang Merah Vico

Source : tripadvisor

Kota Palembang memang memiliki cuaca yang cukup panas. Oleh karena itu, es kacang merah sangat tepat untuk menjadi pelepas dahaga setelah seharian berkeliling kota. Es kacang merah Vico terletak di Jalan Letkol Iskandar, Palembang. Satu porsi es kacang merah seharga Rp20.000,00 terdiri dari kacang merah yang ditambah santan, susu kental manis, sirup, dan es serut. 

Jadi, sudah menentukan tempat kuliner mana yang akan dikunjungi pertama kali? Jangan lupa pesan tiket pesawat maskapai kesayanganmu di Airy Tiket Pesawat sekarang juga!

Sunday, January 07, 2018

SENIN RUMPI: Pelakor oh Pelakor



Alohaaaa! Saya ucapkan selamat tahun baru 2018. Semoga di tahun yang baru ini semuanya menjadi lebih baik. Semoga para pelakor segera bertobat!!!!!
Saya mblukek mendengar banyaknya kisah tentang pelakor. Di tahun 2017 kemaren topik PELAKOR viral banget di kalangan netijen juga to? Dari yang kejadiannya masih anget from the oven kayak  Mbak Ay yang katanya jadi cem-cemannya bapake Rafa dan Mbak Jeje yang dijungkrakkan oleh dedek Shafa dan berujung kena sial (or karma) kejerat kasus narkobeng. Olala....

Trus kasus-kasus pelakor jaman old yang bisa dibilang udah mereda dan adem ayem macam tante May dan tante Keke juga kembali diukrek-ukrek. Semacam gatel-gatel enak mengukrek-ukrek kasus lama. Kayak korek-korek luka kering. 


Sebenernya isu dan drama pelakor ini bukan topik baru, ye khan? Budaya (budaya?) berselingkuh hampir sama tuanya dengan eksistensi manusia di muka bumi. Pelakunya juga macem-macem, dari perempuan biasa sampe orang gede kayak Ratu Elizabeth I. Yas, ratu yang dijuluki the Virgin Queen karena nggak pernah merit ini, juga pernah jadi selingkuhan. Cowok selingkuhannya tak lain adalah temen masa kecilnya sendiri, yaitu Robert Dudley, laki-laki yang sudah punya anak bini. Kisahnya drama banget, panjang banget ngalah-ngalahin sinetron tersanjung, penuh emosiong dan diwarnai rumor-rumor tak sedap. Salah satunya rumor kalo kematian istrinya Robert adalah skenario yang dilakukan sang ratu agar bisa menikah dengan Robert. *uwuw, syerem.... Oiya, trus Hawa, perempuan pertama di muka bumi khan juga selingkuh. Bukan selingkuh dari Adam, sih. Tapi selingkuh dari Tuhan dengan memetik buah pohon terlarang. Yeee.... itu beda kaliiiii. 
 
Eh bentar, selingkuhan bisa nggak sih dikategorikan sebagai PELAKOR? Soalnya ada selingkuhan yang nggak terima disebut pelakor, lho jreng. Alesannya, kalo pelakor berarti khan merebut suami orang. Sedangkan jadi selingkuhan, cowoknya tetep jadi milik istrinya, nggak direbut, nggak dimasukin tas dan dibawa lari, nggak ilang kemana-mana.



Ah, serah dia dah. Saya nggak paham gimana cara mikirnya. Sama aja to itu kayak Mbak Jeje yang  nggak merasa bersalah samsek  karena di agamanya memang diijinnin laki-laki punya lebih dari satu istri.  Menurut dia, ya.  Bukan saya.

          Kayak gini contohnya: 1 SUAMI 3 ISTRI

Yah, kalo dulu pelakor masih tau malu, ngumpet-ngumpet. Sadar diri, apapun alasannya, jadi pelakor itu aib. Baru berani go publik kalo sang laki sudah meninggalkan pasangannya dan jalan sama dia. Tapi  sekarang, semakin banyak yang ngerasa biasa aja jadi pelakor. Pake pembenaran diri, "Ya habis gimana lagi, sudah kehendak Tuhan." atau, "Ya emang jodohnya sama suami orang." Aduuuh... seriously sebenernya I have no right to judge, tapi kok gitu siiiii.

Jadi pelakor bahkan dianggep semacam prestasi gitu keknya. Bisa merebut laki orang. Jadi dipamer-pamer di socmed. Kayak yang barusan kejadian kan itu.  Anak SMA majang-majang foto semi bugbug di ranjang bareng suami orang di IG. Ketika fotonya diviralkan sama istri pacarnya dan dese dikeluarin dari sekolah, eh malah nulis beginian di story,
Kamu menang dengan mengeluarkanku dari sekolah, tapi aku menang dengan lelakimu di sampingku.
Auk! Sungguh ku speechless!

Kalo dipikir-pikir, sebenernya para pelakor itu juga kasian, sih. Bukannya saya mendukung para pelakor, ya.

Cuma gini lho, teman-temin. Istilah pelakor ini kok kesannya kesalahan hanya ada di pihak perempuan yang jadi pelakor, ya? Padahal, kalo lakinya nggak genit, matanya nggak jelalatan kesana kemari kalo liat cewek ceksi di tempat umum, nggak membuka hati dan kesempatan bagi wanita lain, ya sang pelakor juga nggak bakalan menyusup dan punya tempat dalam sebuah hubungan pernikahan. Bukan begindang? 


 correct me if I am wrong. Hm.....

Bagaimanapun juga, masalah dalam mahligai rumah tangga (et dah bahasa gue) pasti ada andil kesalahan dari keduanya, baik suami maupun istri. Cuma memang bobot kesalahannya nggak sama. Ada salah satu yang lebih bersalah gitu.


Termasuk hadirnya pelakor itu tadi.  Kalo ditelusuri lebih jauh, suami yang nggak bisa setia sama istrinya dan mudah tergoda oleh pelakor, tentu juga ada alesannya.  Ketidakpuasan suami terhadap istri menjadi penyebab sang suami mencari perempuan lain. Bisa karena pusing sama istrinya yang over nyinyir, sumpek sama istri yang nggak ada kerjaan lain selain menuntut suami, performa istri di ranjang kurang, endebre endebre. Ada juga yang dari awal nikah memang nggak cinta sama istrinya tapi entah kenapa malah dinikahin. Mungkin karena dijodohin gitu apa ya?

           Tragis mana sama kisah yang ini: CINTA SALAH SIAPAKAH?

Ya nggak semua begitu, sih.  Ada juga yang memang karakter dan sifat suaminya agak "antik". Seideal dan sesempurna apapun istrinya, dia haus terus sama cewek dan nggak puas sama satu pasangan. Kayak temen kerja saya, tuh.  Walaupun sudah punya pacar, tapi tetep ramah lebay sama ciwik-ciwik.  Asalkan berjenis kelamin perempuan, pasti langsung diramah-ramahin sama dia. Waktu itu kita kerja di supermarket yang terletak di sebuah mall. Dia hafal lho nama semua pegawe mall dan penjaga-penjaga tenant di sana. Asalkan jenis kelaminnya perempuan ya. Tiap keluar makan sama dia, waktu kita pasti habis buat nungguin dia nyapa-nyapa cewek yang papasan sama kita. Dari penjaga toilet mall sampe GM nya mall dia sapa lengkap dengan namanya. Duit gajinya abis buat kasih-kasih coklat, permen, boneka buat cewek. Waktu istirahat dia juga abis buat menebar kebaikan ke para cewek. Nganter jemput entah kemana. Pokoknya dia baik banget. Sama saya juga suka anter-anter, tapi dia bilang dia nggak anggep saya cewek karena saya nyinyir parah, tukang marah-marahin dia masalah cewek kayak emaknya. Trus cuma saya yang dikasih tau update list cewek-cewek yang deket sama dia. Seringnya diajakin ikut menyeleksi, tapi saya selalu nolak dan marah-marahin dia. Entah kenapa dia gak kapok tuh nanya-nanya saya.  

Entah gimana kabar temen saya itu. Saya penasaran, apakah cita-cita dia punya empat istri dulu terlaksana. Ish, moga-moga enggak. Saya doain dia dapet bini galak yang bikin dia gak berani berkutik!

Eh, sampe mana tadi. Oh iya, bukan menuduh hadirnya pelakor adalah 100% kesalahan istri, lho ya. Tapi saya setuju kalo ada andil istri, entah itu gede atau kecil,  dalam masalah dalam rumah tangga. termasuk kehadiran pelakor.

Oleh karena itu, istri-istri jaman now nggak boleh lengah dan harus banget ngejaga suami. Entah gimana caranya. Mau dikasih GPS atau dikasih celana dalem besi, serah. Disesuaikan dengan kondisi dan tingkat mudah tidaknya suami masing-masing terlakor. Hihihihihi....

          Baca yuk: IBU-IBU KEKINIAN
Kalo orang Jawa jadul bilang, khan cewek harus bisa 3M biar bisa memuaskan suami. Masak, Manak (menghasilkan anak), Macak (menghias diri). Nah bener itu menurut saya. Manak bukan hanya sekedar urusan sex dan melahirkan anak, tapi juga bisa mengurus anak. Termasuk ngurus bayi gede (baca: suami). Macak bukan sebatas menghias diri dengan skincare dan make up, tapi juga menghias rumah, menghias tutur dan pikiran agar selalu canciiiik. Menjaga rumah nggak acakadul dan nyaman, sehingga suami betah di rumah.

          Baca yuk: BIAR MAMA JAGO MASAK 

Duh, saya tertampar sendiri bacanya. Soalnya saya masih kurang di urusan merawat diri dan menata rumah. Duh..... duh.... duh.... yah baiklah, kalo gitu resolusi tahun 2018 saya nggak muluk-muluk, deh. Kudu makin rajin pake skincare dan menata rumah yang acakadul iniiiiih! Haiyah!!!!!

Saturday, December 30, 2017

NGOBROL: Hujan Berkat Natal 2017



Halo! Saya ucapkan selamat Natal buat teman-temin yang beragama Kristiani, ya. Damai Kristus beserta kita semua. Amen! 

Buat kalian yang nggak merayakan Natal, saya ucapkan selamat berlibur. 

Dan buat teman-temin yang nggak merayakan Natal dan nggak berlibur, ya udah lah, selamat apa aja. Pokoknya yang hepi-hepi. Hehehehe....

As usual, sebagai pasangan males rempong, saya dan Oni memutuskan nggak kemana-mana. Eleh, garing bener, ya. Walopun sekolahnya C lagi libur, kita berdua males jalan-jalan ke luar kota. Jangankan di musim liburan, di weekdays aja kita males kemana-mana walopun Oni lagi ada waktu luang. Bree masih kecil, Cyn. Masih nyusu dan pake pampers. Asli kita males banget  bawa-bawa barang segambreng dan ribet bikin susu. Belum lagi kalo kudu ganti pams pas anaknya bertelur di jalan. Trus nggak kebayang kita bakal senewen kena macet dan rame di mana-mana. Apalagi kalo jalan-jalannya ke tujuan wisata yang populer macam Bali. Aduh.....

          Eh, tapi kita juga pernah ikut uwel-uwelan: NONTON FESTIVAL OGOH-OGOH

Sebenernya, kalo cuma untuk dolan dan nyenengin C dan Bree, tempat wisata dan tempat hore-hore di kota Malang juga banyak yang baru dan belum kita samperin.  Salah satunya Jatim Park 3. Tapi ya itu tadi, ogah berhadapan dengan ruwetnya peak season. Mending maen ke sananya nanti-nanti aja kalo nggak musim liburan kayak gini. 

         Kenapa Malang enak dijadiin tujuan berlibur? Ini jawabannya!

Bai de wei, di penghujung tahun 2017 ini saya merasa seneng dan bersyukur. Banyak kejutan tak terduga yang saya dan Oni terima di tahun 2017, khususnya di bulan Desember.  Tepatnya di bulan pembagian bonus akhir tahun iniiiiiih! Nggak cuma ujan aja yang deres, berkat juga deres.

          Read this, yuk: KETIKA HIDUP TERASA SUNGGUH TAK ADIL




1. C mengalami kemajuan di sekolah


Pembaca blog ini pasti sudah tau khan kalo C nggak naik kelas. Jadi ini tahun kedua C duduk di playgroup. Hihihihihi... anak PG bisa nggak naik kelas. Sungguh aneh.....

          Cerita lengkapnya ada di sinih:  NGGAK NAIK KELAS

Bulan ini, tepatnya sehari sebelum liburan, saya ngambil rapor semesteran dan sempet ngobrol dikit sama wali kelasnya C. beliau bilang, tahun ini C nunjukin banyak kemajuan. Udah bisa mewarna, nggak sekedar ukrek-ukrek dan corat coret tanpa aturan. Di kelas juga udah nggak plonga plongo. Bahkan ibu gurunya bilang, C termasuk salah satu anak yang paling teges di kelas.  

Boring nungguin antrian ambil rapor.

Cuma, ada cuma-nya, nih, anaknya agak emosian dan pilih-pilih temen. Nah lo. Hihihihi.....

Saya sendiri ngliat kemajuan C tahun ini bagus sih emang. Anaknya jadi jauh lebih ceriwis. Kalo dulu perkembangannya dominan di motorik kasar, Sekarang [perkembangannya imbang baik di motorik kasar, motorik halus, juga logika dan mulutnya (baca: jadi cereweeeeet). Sampe kadang saya puyeng denger dese seharian nanya-nanya dan ngoceh. Udah bisa menghafal nama temennya. Udah bisa cerita kejadian di sekolah. Trus dia juga udah bisa marahin emak bapaknya! Kapanhari saya kena komplen C gara-gara lupa bawain dia uang aksi Natal dan buku cerita ke sekolah.Alamak....

Udah bisa begaya kalo difoto. Emaknya aja nggak bisa. 


2. C dan Bree sehat walafiat

Well, sebenernya nggak sehat-sehat amat, sih. Di awal bulan Maret dan Desember,  Bree ngamar di RS gara-gara kena bronchopneumonia. Yang bulan Maret kemaren malah sempet nginep di ICU selama 3 hari. 
Tapi tetep ya, saya bersyukur. Anak saya masih normal, berkembang sesuai usia. Bree udah bisa mulai ngomong dan motorik kasar plus halusnya sudah lumayan lancar. Trus  C dan Bree nggak mengalami penyakit-penyakit yang anu-anu. Amit-amit deh. 

Tau sendiri, khan. Penyakit jaman sekarang makin syerem. Saya liat di Instagram, banyak balita yang menderita penyakit-penyakit parah dan nggak bisa disembuhin. Ada beberapa yang akhirnya dipanggil Tuhan setelah perjuangan mati-matian. Dan itu aduh sedih banget! Saya nggak bisa ngebayangi gimana perasaan para orang tua yang didahului berpulang oleh anaknya. Sedih ah! Sumpah sedih! Ada juga yang terus bertahan dengan segala kekurangan dan tantangannya. Itu saya juga nggak bisa ngebayangin gimana gila dan gedenya pengorbanan, hati dan tenaga, serta duit yang harus dikeluarin buat biaya pengobatan. Duh..... Moga-moga semua orang tua dengan anak-anak istimewa itu nggak kehilangan harapan dan dikasih kekuatan sama Tuhan. Amin...amin...amin.....


3. Masih bisa ngumpul bareng keluarga besar  & temen

Tahun ini salah satu sepupunya Oni meninggal dunia. Kita semua lumayan terpukul karena sepupunya ini masih muda banget. Boleh dibilang lagi berada di puncak usia. Lagi ganteng-gantengnya dan mulai bersinar karirnya. Tapi yah apa boleh buat, Tuhan lebih sayang sama dia. Jadi dia dipanggil duluan.


Ini keluarga besar kita dari bapaknya Oni. Kebetulan sebagian besar emang tinggalnya di Malang, jadi lebih gampang ngumpul.  Sebenernya acara Natalan bareng keluarga bapaknya Oni tahun ini agak sepi karena banyak yang nggak dateng. Di foto ini keliatan rame karena ada beberapa anak panti asuhan yang diundang buat ikut Natal bersama. Tapi tetep ya, saya seneng dan bersyukur, kita masih bisa ngumpul kayak gini. 

          Jadi inget: NATAL 2012

Oiya, trus saya juga sempet mitap dengan Ria, Nikmah, dan Yoyok. Ketiganya adalah teman-teman yang saya kenal di komunitas blogger Malang Citizen. Mumpung masih gampang buat mitap. Soalnya abis ini Ria bakalan pindah ke Pekalongan. Huhuhuhuhu..... 

 Yoyok dan C kok mirip Kak Ria dan Susan ya?

Seneng lho saya liat Ria mesra bianget sama bojonya. Walopun nggak peyuk-peyukan dan gemes-gemesan ala ABG dimabuk asmaroh, mereka keliatan banget gitu bzzzt.... bzzzzt....


Trus kita juga ngakak sampe nangis-nangis dengerin kisah cintanya Yoyok yang dikuak dengan suka rela olehSipta, istrinya Yoyok. Hihihihi.... pasangan ini asli unik banget dan kocak. Saya sampe sakit perut karena kebanyakan ketawa dengerin mereka duet. 


4. Akhirnya punya meja rias!!!

Hiks....hiks....hiks.... terharuuuuu. Ini pertama kalinya dalam hidup saya punya meja rias. *lebay. 

Eh tapi beneran! Sebelumnya saya nggak pernah punya meja rias. 

Waktu mau merit dulu,  Oni ada sempet nawarin saya buat beli meja rias. Tapi waktu itu kita sama-sama masih belum settle mau tinggal di mana. Rumah juga belom ada. Jadi saya bilang, tunda aja dulu lah beli furnitur. Daripada nanti harus ribet angkut-angkut. Iya kalo angkut-angkutnya deket. Lha waktu itu Oni tinggal di Dubai,  dan kita berencana pindah entah ke negara mana. 

          Penasaran negara mana yang selanjutnya kita tinggali? KE NEGARA INIH

Singkat cerita, setelah punya rumah dan settle di Malang, saya tetep nggak punya meja rias. Alesannya, karena rumah kita kecil dan saya sumpek kalo rumah terlalu banyak barang. Selain itu, sejak punya bocils, saya jadi males dandan. Jadi agak bingung juga, kalopun punya meja rias, mau diisi apaan ya? Wong saya udah nggak punya alat make up. Skincare juga cuma diitung pake jari doang jumlahnya, cukup diseselin di lemari baju. Jadinya walopun dalem hati kepengen beut punya meja rias, tapi sayang rasanya kalo mau keluar duit buat beli meja rias yang bagus. Mau beli meja rias yang mureh-mureh bisa sih, tapi sungguh aku tak siap patah hati dan terluka apabila kualitasnya bobroq dan meja riasnya cepet rusak. *dasar mamak-mamak rewel! 

Trus di bulan Desember ini eh akhirnya saya keturutan mengisi salah satu sudut kamar dengan sebuah meja rias.
  
 penampakan Euro Oak Vanity Set, meja rias punya saya!!!!!  
 foto diambil dari:  https://ifurnholic.com

Eakh! Emang ada ya mamak-mamak yang nggak pernah denger nama IFURNHOLIC? Sungguh tidak kekinian kao! 

Saya sendiri lumayan sering mantengin IG nya Ifurnholic. Awalnya cuma seneng aja liat mebel-mebel yang dipajang di sana. Model-modelnya mirip furnitur yang dipake di film-film korea. Sleek dan clean. Ala-ala scandinavian gitu deh. Simple dan manis. Jadinya bersiinnya gampil, cucok meong dipadupadankan dengan furnitur lain dan ruangan di dalam rumah, termasuk ruangan kecil sekalipun.

Trus bahannya kebanyakan pake MDF, partikel board, dan kayu mahoni. Jadi enteng dan geserable banget. Sip lah buat emak-emak yang hobi re-decorate ruangan. Tak perlu manggil babang bojo cuma buat geser furnitur. Dan yang terpenting, harganya oke dan terjangkau, kakak! Maksud saya terjangkau di sini kalo dibanding sama toko-toko furnitur lainnya dengan kualitas ekspor, say. Kalo nominalnya, tinggal kao pilih lah mana yang sesuai budget. Variannya banyak banget, kok. Dari yang harganya dibawah 1 jutaan sampe yang jutaan. tapi setau saya nggak ada yang sampe puluhan juta harganyo.

Ntar ya, di postingan selanjutnya saya mau mengulas tuntas tentang Euro Oak Vanity Set punya saya. Hehehehehehe.....


 

Monday, December 04, 2017

SENIN RUMPI: Cerita Bakul Online




👦: Mba, busy booknya bagus.
👩: Makasih, Mom. Minat order, kah? (Standard saya kalo manggil pembeli, nih. Soalnya khan busy book jualan saya diperuntukkan buat balita. Jadi kemungkinan besar yang ngechat saya ya emaknya balita, ya to?)
👦: Yah Mba, saya masih SMP. Jangan dipanggil 'Mom' dong. Harga busy booknya berapa?
👩: Rp. 200.000,- isi 8 halaman aktifitas, Dik.
👦: Wah, kalo segitu saya nggak mampu beli, Mba. Gimana kalo Mba endorse saya. Saya nggak pernah dapet endorse. Please Mba. Follower saya 100K

Wow, pikir saya. Boleh nih kalo followernya 100K. Eh, setelah saya cek, lha kok followernya cuma 100 bijik. Hiaaaaaa.... Waktu saya tanya ke orangnya, eee jawabannya enak bener, "Ya khan sama-sama 100, Mba? Bedanya cuma di huruf K aja."

Serius ya, kalo ketemu pembeli macam begini saya suka langsung dilema. Dilema antara kasian dan kepengen nyleding. Duh!

Akhir-akhir ini saya lagi demen banget mantengin akun instagram @dramaojol.id dan @drama.olshop.  Hihihihi... sungguh tak berfaedah. Ah biar, deh. Yang penting bisa bikin saya ketawa di tengah kesumpekan saya sebagai mamak-mamak kurang ngemall.

Eh, ada denk faedahnya. Saya jadi sadar, ternyata tak hanya saya yang mengalami ketemu sama calon pembeli ajaib-ajaib via online. Ternyata di luar sana banyak juga pemilik online shop yang harus berhadapan dengan keunikan calon pembeli. Hihihihi.....  

Btw, mau nggak ya kira-kira @lexapebriantii endorse busy book saya. Hihihihihi..... 



Tuesday, November 14, 2017

CERITA MAMA: Memaksa Anak Lebih Kreatif

Waktu saya masih bekerja sebagai salah satu anggota tim marketing di sebuah perusahaan properti, salah satu big boss nya pernah ngemeng begini di meeting, "Apabila sekumpulan orang dikunci di ruangan kosong tertutup, dan satu-satunya cara supaya bisa keluar adalah dengan mengambil kunci yang direkatkan di ceiling ruangan, orang-orang itu pasti akan melakukan dan menemukan segala cara untuk bisa meraih kunci itu. Bahkan mereka rela memotong tangannya dan melempar tangannya ke atas untuk menggapai kunci tersebut." Wuikkk! Horor, Bos!!!!! 

 Kenapa malah pake sticker cup cup muah-muah. Karena bosnya ganteng, kak. #halah.

Tidak lama setelah meeting itu, saya langsung cao dari perusahaan itu. Karena saya memandang bahwa perusahaan itu nggak karyawan friendly. Kami dikasih tekanan kerja dan target yang nggak masuk akal. Ih males, deh. Biarin deh saya jadi pengangguran, daripada spaneng dan cenat cenut tiap hari. Pak bos ganteng lupa kalo kami (at least saya) lain dengan orang-orang yang dikurung di ruang tertutup itu. Kami tidak dikurung, tidak kepepet, tapi bisa resign sewaktu-waktu, apalagi kalo ada tawaran kerja dari tempat lain yang lebih amboy tak iye? Apalagi (lagi) kalo karyawannya punya skill yang menjual dan berharga, mana bisa kau pressure begitu, Ndan?

           aih, jadi inget masa-masa itu: JUMPA BABANG ONI

Setelah sekian tahun waktu berlalu, dan gara-gara post Rita, salah satu member grup SITI NURBAYA collaborative blogging di website KEB yang judulnya: MEMACU ANAK BERPIKIR KREATIF nih ya. saya kembali teringat ucapan pak bos ganteng itu. 

Well well..... mungkin konteksnya berbeda ya kalo bahas tentang anak. Tapi kayaknya the power of kefefet ini bisa diterapkan untuk memicu siapa saja (termasuk anak-anak)  supaya lebih kreatif. Ya nggak semua orang yang kreatif itu kepepet, sih. Tapi setuju khan kalo kondisi kepepet bisa bikin orang lebih kreatif?

          Ide kreatif ala mamak: BARANG BEKAS FAVORIT MAMAK FELY


Kan katanya kreativitas adalah kemampuan seseorang dalam mengembangkan, mencipta, dan berkreasi untuk menghasilkan ide dan cara-cara baru dalam memecahkan masalah dan menemukan peluang (thinking new things) ngunu. 

Jadi kalo kepengen lebih kreatif, ya memang kita harus dihadapkan dengan masalah dulu. Biar kreatifitasnya terpancing. Nggak melulu masalah keterbatasan duit ya bok. Bisa juga masalah (baca: keterbatasan) waktu dan ruang ye khan?

          Kalo ini kreatif karena masalah cincah bok: CINTA DITOLAK GO FOOD BERTINDAK

Jahat amat. anak masih bocil udah dikasih masalah supaya kreatif. Yeeeee.... nggak apa kaliiii. Asal bukan masalah orang dewasa Kak. 

Ya nggak gini juga sih kreatifnya. Pic dicomot dari: https://i2.wp.com
Saya liat C dan Bree ini lho. Yang menurut saya mainannya lebih dikit dibanding anak-anak lain yang saya kenal. Mereka nggak habis akal tuh nyari-nyari ide untuk menyibukkan diri. Karena playdohnya saya buang (aku emak-emak nyahat), C jadi kadang suka untel-untel baju cucian yang udah bersih. Dipuntir-puntir dan dibentuk-bentuk seolah-olah main playdoh.

         C memang suka iseng kayak gini deh: YANG UNIK

Bree yang lagi belajar ngomong dan mulai suka nyanyi-nyanyi, gara-gara liat youtube nyanyi-nyanyian itu lho, dia jadi suka naroh benda apapun di depan mulutnya seolah-olah nyanyi pake mike. Sebenernya dia punya mike mainan buat nyanyi-nyanyian, tapi yaaa gitu deh. Tuh berdua khan barbar banget, semua mainan nggak ada yang bisa bertahan lama. Semua mainan yang ada di kotak mainan kebanyakan ya cuma puing-puing doang. hahahahaa..... Termasuk kreatif khan ya? The power of kefefet karena nggak dibeliin mike baru sama bapak Oni. 

So jadi mamak-mamak cantik pembaca blog ini, yang kadang galaw gara-gara liat anak-anak lain lebih kreatif karena lebih difasilitasin (baca: dimodalin) sama ortunya, Do't worry mamak! Kreatif itu bisa dipaksakan kalo kondisinya kepepet.    Pepet aja terus anaknya, ntar lama-lama juga jatuh hati, eh kreatif.

RUMPIAN EMAK: Bukan Cuma Burung yang Punya Sayap


Atasan kerja saya dulu suka banget pake istilah halus untuk negur bawahan atau temen kerja. beliau bilang, itu namanya 'meninju dengan senyum' atau 'melempar kata bersayap'. Ebuset bapaaaak..... saya kira cuma burung aja yang ada sayapnya, ternyata kata-kata juga bisa dikasih sayap, ya. Hahahaha....

Trus di postingan ini saya mau bahas apa? Mau review pembalut bersayap? Enggak dong, Mak. Saya kepengen cerita-cerita aja  tentang pujian bersayap emak-emak jaman... errr... jaman now ya? Bukan, sih. Emak-emak jaman now kebanyakan udah educated, jadi tau lah kalo mau muji anak harus tulus dari hati nurani yang terdalam, iklas muji lahir batin.


Pernah nggak sih kalian mendengar ortu yang memuji anaknya dengan kata-kata negatif? 

"Duh, kamu lancang banget, sih. Masih umur 3 tahun udah bisa baca tulis."  

Maybe yang ini lebih familiar dan sering teman-temin denger, "Nggak apa, anak nakal berarti anak sehat."

Lho, ya? Aktif kali maksudnya, Bu. Bukan nakal.

Nyambugn khan sama tulisannya Eva di KEB yang ini lho: JANGAN SEBUT DIA ANAK NAKAL

Mama saya termasuk ibu yang suka memuji anaknya dengan kata-kata negatif. Baik dulu waktu saya masih kecil maupun sekarang ketika saya sudah bukan bocah lagi. 

Saya ingat betul, waktu saya masih cilik, terkadang ada tuh khan temen mama yang maen ke rumah dan muji saya. Entah muji basa basi entah muji beneran. Semacam, "Anaknya ya Cik? Cantik." Jawaban mama saya pasti begini, "Duh, anak jelek pesek sipit begitu cantik apanya? Kurus pula. gak bisa gemuk." 

Biasanya saya cuma diem aja sambil nglewes kabur. Tapi sebagai anak kecil, saya suka membatin dalam hati,  "Duh mamak sayaaa. Masa saya dihina dina di depan temennya. Seolah nggak rela banget gitu ya saya dipuji cantik sama temennya." Walaupun saya sadar, sih. Saya memang pesek dan sipit. Tapi nggak jelek lho ya. Pesek and sipit is the new 'cantik'. Nggak percaya? Tanya bang Hamish Daud yang bininya sebelas dua belas sama saya dari segi tampang. Hahahahahaha.....

 Baru setelah agak gedean saya berani nanya dan protes ke mama. 

Daaan saya baru tau, ternyata mama saya hobi banget menghina dina saya karena suatu alasan.

"Bayangin," kata mama saya, "Kalo temen mama itu mujinya cuma basa basi aja, trus mama tanggepin, 'Iya, anak saya memang cantik dari lahir.', pasti temen mama itu bakal ngomong dalem hati, 'Dih, gua mujinya juga basa basi doang. Anak lu biasa kaliiii.'" 

Hm.... cengli cengli...... 

"Tapi kalo mama jawab, 'enggak ah, anak saya jelek.'," sambung mama,  "Pasti nanti dia bakal nambah-nambahin pujian khaaaan. Biasanya orang kalo mama jawab gitu, pasti bakal jawab,'Ih, anak kamu ini cantiiik. Putih, tinggi, alisnya tebel, dst dst...'"

Elah mamaaaaa!   

Ada benernya, sih. Memang kenyataannya, biasa habis mama saya 'menangkis' pujian pake kata-kata yang merendahkan hati (dan seringnya merendahkan diri juga), jadinya si pemuji malah makin royal melempar pujian. Oh, khas orang Indonesia ini kayaknya ya? Hihihihihi......

Jadi sebenernya kata-kata negatif yang dilontarkan mama saya itu semacam pujian terselubung dan bersayap gitu khan? Buat mancing supaya orang lain lebih banyak memuji sekaligus merendahkan hati.

Lalu apa efeknya kalo ortu sering melempar pujian bersayap ke anak? Entahlah.... Sejujurnya saya sendiri juga kurang paham. Niatan tadi juga cuma cerita tanpa memberi solusi, sih. Unfaedah banget ya. apasih. 

Tapi kayaknya kok nggak bagus ya kalo anak yang dipuji udah paham arti kosakata-kosakata (yang sebenernya nggak bermaksud) negatif ke mereka. However, mereka khan taunya arti harafiah dari kata tersebut, ya? Ntar takutnya anak jadi mengkonotasikan kata (dan hal negatif) tersebut dengan hal yang baik nggak? Misal karena sering 'dipuji' nakal, si anak jadi mikir, 'Ah, kalo aku nakal, aku bikin bangga mama. Jadi aku harus lebih nakal.'

Amsyong tak iye? Atau gimana sih? Yang jelas, hati saya tetep panas kalo ada orang yang muji saya, "Duh, kamu jelek banget sih. Aku kagum, deh." sambil tersenyum tulus penuh binar gitu. Ntar nunggu kata 'jelek' jadi majas ameliolatif dulu dah baru saja mau menerima pujian itu dengan iklas. Bah!

Tuesday, October 17, 2017

RUMPI AJA: Nungguin Rilisnya Film My Generation

Saya dan Oni termasuk orang yang jarang banget pergi nonton. POkoknya kita pilih-pilih banget kalo mau nonton di bioskop. *pelit Kalo saya dan Oni sampe nonton suatu film di bioskop, berarti menurut kami berdua itu film efek visualnya yahud,  jadi harus ditonton di bioskop biar lebih mak greng.

Jujur, kita nggak pernah kepikiran nonton film Indo di bioskop. Karena film Indo nggak (belum) mungkin menonjolkan efek visual yang bagus. Itulah sebabnya, ketika pertama denger kalo film My Generation mau rilis di bioskop, saya nggak kepikiran mau nonton. Iya sih saya tau kalo sutradaranya Mbak Upi, yang bikin film Realita Cinta & Rock and Roll sama 30 Hari Mencari Cinta yang menurut saya nggak jelek. Tapi tetep aja nggak membuat saya kepengen nonton film ini di bioskop.

Tapiiii..... Setelah baca-baca sinopsisnya dan nonton official trailernya, saya jadi gak sabar pengen liat, Kak!

Ini lho, official trailernya. 

Saya jadi agak-agak tercolek, nih liat trailernya. Tipikal karakter ortu yang dibicarakan oleh keempat pemeran film ini kok sedikit mirip saya, ya? Hahahahaha.... Default setting mulut ngomel dan mempermasalahkan hal-hal sepele, measure the future with IDR, trus suka bilang kalo jaman saya sekolah dulu lebih baik daripada jaman sekarang. Nah itu saya semua tuh. Hahahahahaha.....Ya nggak separah di film, sih. Tapi arah pemikiran saya sudah mulai cenderung ke sana. 

Saya pikir, sebenernya wajar ya. Karena dengan bertambahnya usia, kita jadi lebih banyak pengalaman dan melihat dunia.  Otomatis bawaannya ngomel dan mempermasalahkan kalo ngliat hal-hal yang tidak seharusnya. Trus udah ngrasain susahnya cari duit dan susahnya nggak punya duit. Otomatis nggak mau anak-anaknya lemah secara finansial. Trus trus ya emang kenyataannya saya ngerasa jaman saya segalanya lebih baik dari jaman sekarang. *contohnya, waktu itu harga bolpen pilot cuma 300 perak. #yaelah.... harga bolpen pilot dibawa-bawa. 

Tapi saya juga jadi teringat jaman ketika saya masih ABG dulu. Isi pikiran saya juga samaaaa dengan yang generasi milenial ini. Duh, kenapa ortu nggak ngertiin saya dan lebih mentingin kesuksesan ketimbang kebahagiaan saya? Males banget kalo ortu ngeluarin kalimat pembuka: "Jaman mama dulu......" Kenapa saya selalu disalah-salahin? Sama sih.

Ya ampun, saya sudah mulai menjelma menjadi orang yang tidak saya inginkan di masa depan. Yaitu ortu nyinyir yang nggak ngerti pikiran anak dan perkembangan jaman now. *tutup muka. Itu lho sebabnya, saya jadi kepo maksimal dengan keseluruhan isi cerita dalam film ini.


Kalo jalan ceritanya mah simple ya. Empat remaja bernama Zeke, Konji, Suki, dan Orly (dengan perbedaan karakter dan masalahnya masing-masing) yang diskors nggak boleh ikut darmawisata karena bikin video yang isinya kritik-kritik yang menyinggung banyak pihak (baca: orang dewasa.) Tapi saya penasaran dengan isu-isu dan peliknya masalah-masalah generasi milenial yang diangkat dalam film inih. 

Sayangnya, ada beberapa orang yang justru menganggap film ini nggak layak tonton karena bakal ngajarin anak muda hal-hal gak bener. Well.... just like my teacher said, "Kita nggak bisa mengisolasi anak agar ia tidak mengetahui dan melakukan hal-hal buruk. Yang bisa kita lakukan adalah menunjukkannya (dan juga resikonya) agar anak tidak melakukannya."  Bukan begitu?

Wednesday, October 11, 2017

CERITA MAMA: Makan di Rumah VS Jajan di Luar



Aloha! As you know ya, bebeh, setahun terakhir ini saya cuti jualan sambel dan mulai jualan busy book. Ya puji Tuhan banget karena walopun masih baru dan belajar bikin dan jual busy book, yang pesen ada aja. Bahkan ada yang pesen dalam jumlah grosir dan udah ada dua orderan dari luar Indonesia. Uhuy, gaya banget dah pokoknya sayah. Hahahahaha.....

Tapi, karena saya masih anyaran jualan busy book, saya jadi belum nemu ritme dan pola kerja yang pas. Apalagi sekarang sudah ada dua penjahit borongan yang bantu saya ngerjain busy book. Maksud hati biar saya nggak nggetu ke proses pengerjaan gitu. Jadi bisa ada waktu untuk marketing dan development. Tapi yang ada malah waktu dan energi (serta emosi) saya terkuras buat mengajari dan menyamakan gaya kerja saya dengan mereka. Ya ya.... namanya juga masih baru kerja bareng dan proses penjajakan gitu ya. Kayak orang merit itu, lho. Awal-awal pasti banyak berantemnya karena beda kebiasaan. 

Imbasnya apa? Ke anak dan suami. Mereka jadi nggak terlalu saya urusin. Biasanya saya masih sempet haha hihi maen sama C dan Bree, sekarang jarang banget. Kalo dulu selalu saya yang mandiin dan suapin C dan Bree, sekarang banyakan Oni tuh yang ngurusin mereka. Trus saya jadi sering nggak sempet masak. Huhuhuhuhuhu...... Akhirnya beli makan di luar, deh.


Lidah saya mah hooh aja kalo makan makanan luar. Lebih bervariasi dan wenuk dibanding masakan saya sendiri. Anak-anak juga gitu. Mereka demen kalo dibeliin pangsit mie atau bakso babi. Kadang mereka saya jajanin junk food. Nggak sering, sesekali aja. Cuma Oni kayaknya yang lebih suka masakan rumah. Hahahaha... soalnya cuma dia yang suka komplen kalo saya beli makanan di luar.  Ya habis gimandose, saya gak sempet masak.

Sejujurnya, dalam hati saya suka merasa bersalah sama Oni dan anak-anak. Terutama anak-anak. Karena apa? Namanya makanan beli di luar ya. Pasti ada unsur nggak sehatnya, lah. Entah pake micin atau bumbu-bumbu yang mengandung pengawet.  Penyimpanan dan kesegarannya, endebreh-endebrehnya pasti masih kalah sama masakan rumah. Kalopun makanan itu sehat, bersih, enak, dan clean, pasti nggak sehat buat dompet. Ya to ya to? *dompet menangis.  

          read this too: CERITA MAMA: Bumbu Instant Tapi Sehat. Emang Ada?

Itulah sebabnya, saya seneng banget punya temen-temen di komunitas food seller di IG yang kebanyakan sejarah berdirinya sama kayak sambel jualan saya. Bermula dari keinginan untuk membuat masakan rumahan yang tahan lama tapi tetap sehat, engga pake vetsin, pengawet dan pewarna. Jadi bisa disimpan berhari-hari atau dijadiin oleh-oleh buat kerabat atau saudara yang tinggal di luar kota. 

          Kayak ini misalnya:  AYAM SUWIR BARACI

Selain sharing-sharing urusan jual juil makanan dengan mereka, saya juga demen beli makanan dari mereka. less worries.  Pokoknya walopun beli di luar, tapi masih beraroma masakan rumah dan sehat, ngunu...... 

Jadi apa tuh ya, termasuk makan di rumah atau jajan di luar? Auk deh. Pokoknya begitulah. Praktis kayak beli makan di luar, tapi masih memenuhi kriteria masakan rumahan yang sehat. Oni senang, anak-anak-lahap, sayapun girang. Ihik.....

Salah satu temen food seller yang produknya sering saya beli adalah Dewi, penjual ACINE.

Ketebak dong, produknya apa? Yas, tepung aci atau tepung kanji. Bukan tepung kanji biasa, mak. Kalo tepung kanji biasa mah tinggal beli di supermarket terdekat ya to. Tepung aci jualan Dewi ini adalah tepung kanji berbumbu yang dilengkapi dengan daun kucai kering di dalamnya. Jadi kalo mau masak makanan atau cemilan yang berbahan tepung aci, kita nggak perlu ribet membumbui. 

Saya sendiri paling suka bikin cireng dari tepung kanji berbumbu Acine. Selain bikinnya super gampang, cuma dicampur sedikit terigu dan air trus digoreng dengan api kecil, juga disukai sama Oni dan anak-anak. Cocolannya pake bumbu pecel bikinan mama saya. Biar lebih bergizi, kadang cirengnya saya isi pake daging cincang matang atau keju. 

 
Ini lho penampakan tepung kanji berbumbu ACINE. 1 sachet berisi 150 gram, pas banget untuk bikin 2 porsi cireng yang dimakan keroyokan berempat. Ada juga kemasan jumbo 500 gram yang cocok buat sajian cireng waktu arisan atau acara rerumpita emak-emak. Hihihihi......

Sebenernya ada ratusan resep yang bisa dibikin dengan menggunakan bahan tepung kanji acine. Nggak melulu cireng atau tahu aci seperti yang tercantum di sachet ACINE. Tapi ku tak bisa move on dari cireng Acine. Enak dan lembut. seriusan. Cireng jualan abang-abang di deket kost an saya waktu di Jakarta dulu lewat dah pokoknya. *maaf ya, Bang. Kuhanya mencoba jujur. Eaaaakh..... Kalo teman-temin nggak nemu ide mau dibikin apa, jangan khawatir, kalian tinggal ngintip aja ke sosmednya ACINE: 

IG: DAPUR ACINE

Di sana bisa kita temuin aneka resep yang menggunakan tepung bumbu ACINE. Baik resep yang dibagikan oleh Dewi, owner brand Acine, maupun dari emak-emak lain yang menggunakan tepung bumbu ACINE. Seru khan.

Eh iya, dalam perkembangannya, produk ACINE nggak hanya sebatas tepung kanji berbumbu, Mak. Ada juga TEPUNG BASO BERBUMBU, TEPUNG BASO KHUSUS ANAK (nggak pake lada), BUMBU AYAM GORENG,  dan juga TEPUNG MENDOAN.  Semuanya menggunakan bahan dan diproses secara alami.  Dijamin ngga pake vetsin, pengawet, pewarna or pemutih. 

Ini kemaren saya nyoba bikin daging goreng tepung pake TEPUNG MENDOAN ACINE. Dagingnya saya potong tipis-tipis, trus sebelum digoreng dicelup dulu sama adonan tepung mendoan. Biar potongan dagingnya bisa tipis dan rapi, dagingnya saya bekuin dulu di freezer. Rasanya? Heaven, Mak! Sebenernya lebih enak lagi kalo dikasih siraman saus, ya? Entah saus mayo, saus teriyaki, atau saus yang biasa buat pelengkap fu yung hai. Tapi akika lagi males masak. Jadi ya udah gitu aja. daging goreng tepungnya gundulan nggak pake saus. Hihihihi.....

Potongan daun kucainya banyak. Bikin makin wenuk. 

Mupeng khan? Kalo teman-temin mau beli ACINE, capcus kontak aja Dewi di: 

Line: @acine (pake @) atau 
WA: 0877.5181.2848


Don't worry, ownernya ramah banget dan sabar jawab-jawabin pertanyaan pembeli. Kalo misal kita nemu kendala selama memasak, bisa nanya juga ke dese. Termasuk waktu kapanhari saya nyoba bikin cireng pertama kali pake ACINE. Sama Dewi dikasih-kasih tau tips dan trik biar cireng yang kita masak bisa lembut. Trus dikasih bocoran dan peritungan kasar kalo saya kepengen buka lapak cireng di bazaar sekolahnya C. Baik khan? Ahoy lah pokoknya.

Oh iya, temen saya DYAH PRAMESWARIE juga nulis tentang kegalauan emak-emak perihal makanan beli jadi atau masak sendiri, lho. Cuss intip tulisannya di sindang: BELI JADI ATAU MASAK SENDIRI?

Monday, October 09, 2017

SENIN RUMPITA: Media Sosial, Bukan Sekedar Lahan Eksistensi Diri

photo by: LOBO STUDIO HAMBURG

Jujur, di masa muda dulu (eaaa.... saya tua), motivasi saya bikin akun media sosial adalah karena saya latah ikut-ikutan apa yang lagi trend di kalangan temen-temen saya. Selain itu saya aktif di media sosial hanya supaya saya keliatan eksis gitu. Hihihihihi......

Salah? Enggak juga, sih. Jaman sekarang, eksis juga perlu. Apalagi kalo eksistensi kita bisa menggemukkan pundi-pundi rupiah. Kenapa enggak?

          Kamyuh termasuk: IBU-IBU KEKINIAN ALAM INSTAGRAM

Saya sendiri, seiring bertambahnya usia, pergaulan,  dan pengalaman bersosial media, jadi menemukan banyak manfaat lain selain untuk eksis. Kebutuhan untuk eksis masih, tapi sudah berkurang jauh. 

1. Jualan Online

Sejak berhenti kerja kantoran di tahun 2009, saya mencoba mencari duit jajan dengan berjualan online. Mulanya saya berjualan online di Facebook dan kaskus. Lalu sejak para onlineshop berbondong-bondong berjualan di IG, sayapun ikut jualan di IG. Sekarang, sudah banyak media jualan online yang pure gratis seperti Shopee, Tokopedia, dan sebagainya. Tapi untuk berkomunikasi dengan lebih intens dengan para pelanggan online shop, sampai saat ini saya merasa media sosial tetep paling efektif.

          Monggo dibaca, Cyn: YUK PAKE PRODUK ASLI INDONESIA

Besarnya hasil jualan online menang tidak terlalu besar, karena saya memang nggak nggetu jualan. Tapi lumayan, lho. Nggak bisa dianggep remeh. Temen-temen saya di komunitas seller online juga banyak yang sudah berhasil meraih kemapanan finansial dari berjualan online. Dan semuanya sama, menggunakan media sosial sebagai media pendukung atau media utama jualan online.

2. Mendekatkan yang Jauh

Seneng kalo punya keluarga besar kayak Oni. Soalnya kebanyakan tinggalnya juga di Malang. Jadi kalo mau meet up dan acara keluarga enak dan gampang. Keluarga besar saya sendiri kebanyakan engga berada di Malang. 6 dari 9 saudara kandung papa saya tersebar di Cina dan Hongkong. Sedangkan om tante saya dari mama kebanyakan stay di Jawa Tengah. Otomatis kami jadi jarang ketemu. 

Saya inget banget, waktu saya masih sekolah, saya kadang suka sedih kalo tante-tante saya yang dari luar negri dateng. Karena apa? Mereka khan suka bawa oleh-oleh baju, tuh. Nah, baju oleh-oleh yang buat saya suka kekecilan. Huhuhuhu... Soalnya lama nggak ketemu dan liat. Dalam bayangan mereka, saya masih cilik aja nggak gede-gede. Hahahahaha... sangking jarangnya ketemu. 

Tapi sekarang, sodara-sodara saya udah pada punya media sosial. Jadi lumayan apdet kita. Walaupun masih jarang ketemu, tapi udah jauh lebih sering bersapa salam, ngliat foto-foto terbaru di media sosial, dan sebagainya. Dan pastinya nggak salah ukuran lagi kalo ngasih oleh-oleh baju buat saya dan anak-anak saya. Penting gitu ya, Mak? Hahahaha....

3. Mendapatkan Berbagai Informasi dan Komunitas Pendukung

Informasi apa yang nggak bisa diperoleh di media sosial? Nggak ada! Semua informasi dan sharing pengalaman bisa kita dapatkan dengan mudah melalui media sosial. Dari resep masakan, tips parenting, info diskon, sampai tips supaya lemari es engga bau, ada semua. 

Nggak hanya butuh informasi, tapi nyari temen yang sehati sama kita dalam hal-hal tertentu? Banyak banget komunitasnya di media sosial.  Tinggal pilah pilih mana yang cucok dengan kita. Ya sama kayak milih jodoh itu lho, shay. Cucok-cucokan.

4. Arsip Praktis

"Henpon gua ilang! Banyak foto-foto berharga anak-anak di sana. Duh... Untung foto anak-anak rajin gua posting di FB." Nggak cuma satu temen saya lho yang pernah ngomong begini, ada beberapa. Ya nggak melulu sama persis. Ada yang henponnya tiba-tiba kereset lah, henpon mati total, apalah apalah. Tapi semuanya sama, masih punya simpenan foto-foto anak di FB. Hore! Terpujilah FB! *kecup-kecup Babang Mark.

          Read this too: AKUN MEDIA SOSIAL UNTUK ANAK, PERLU GAK SIH?

Kalo untuk arsip, memang kayaknya FB paling enak. Karena foto-foto bisa kita kelompokkan dalam album, ya. Kalo di Instagram khan ngacak kecampur jadi satu, tuh.

So, gimana dengan teman-temin? Biasanya pake Media sosial buat apa? 

Thursday, September 21, 2017

KULINER: Kepoin Dapurnya Farah Quinn

Jadi ceritanya, bulan lalu khan saya dan temen-temen blogger dari Malang Citizen dapet undangan untuk mengunjungi salah satu outlet Queen Apple dan launching varian baru, tuh. Kali ini kami dapet undangan lagi dari Queen Apple untuk mengintip dapur Queen Apple yang terletak di Jalan. Perusahaan no. 6. Tanjungtirto, Singosari, Malang. Eh, bukan mengintip, denk. Kita dibolehin masuk, liat-liat proses pembuatan Queen Apple cake dan strudel, plus ngrecokin Farah Queen yang kebetulan lagi ada di sana. Akh! We're so excited!

Farah Quinn udah nunggu di dapur, sementara kami masih intip-intip dari luar nunggu disuruh masuk. Halah.... malah tunggu-tungguan ceritanya. 

Yes, dapur Queen Apple yang terletak bersebelahan dengan Guest House Syariah Malang ini dilengkapi dengan sebuah dinding kaca gede di salah  satu sisinya. Jadi para pengunjung Guest House yang kebetulan lewat dapat mengintip aktifitas di dapur ini. Di dapur inilah semua produk Queen Apple dibuat dan diolah untuk selanjutnya didistribusikan ke outlet-outlet yang tersebar di Malang dan Batu.

 Oven yang bikin semua emak-emak ngiler. 

Gimana nggak ngiler, Bok. Guede badai, oven tangkringan saya di rumah bagaikan butiran debu dah kalo dibandingin sama oven yang ini. Hahahahaha... Dengan tiga oven seukuran gajah ini, dapur Queen Strudel mampu menghasilkan kurang lebih 1500 box produk Queen Apple pada hari-hari biasa. Pada saat weekend dan public holiday, kapasitas produksi dinaikkan sesuai kebutuhan pasokan stock outlet. Ngerih!

Kalo kemaren saya berkesempatan mencicipi Queen Apple cake, di kesempatan kali ini saya nyobain Queen Strudel yang nggak kalah enak. Bahkan menurut temen saya yang sudah nyobain aneka versi strudel, strudelnya Queen Apple ini yang paling juara. 

Ini lho rahasia kelezatan Queen Strudel. Isiannya terbuat dari apel murni dengan potongan apel yang besar. Potongan apelnya sama sehingga kelezatan dan kenikmatannya merata di setiap gigitannya. Potongan apel ini tidak langsung diisikan ke dalam strudel, tapi diolah terlebih dahulu dengan proses dua kali pemanggangan.


Selain isiannya yang istimewa, lapisan kulit Queen strudel ini juga renyah dan crunchy. Terasa mak krenyes gitu lho waktu dikunyah. Pokoknya endoy, lah!


Jangan khawatir, kalo temen-temen beli dan membawa pulang Queen strudel, potongannya nggak bakalan berantakan kayak gini. Strudel yang kita cobain potongannya ancur-ancuran begini karena kita nggak sabar kepengen segera mencicipi dan ngotot minta dipotongin strudelnya selagi masih hangat. Padahal seharusnya motong strudelnya waktu sudah dingin. Hihihihi......

Chef Komar dan Farah Quinn yang cuma bisa senyum-senyum melihat dapurnya kita jajah. Bahkan tempat cuci piringnya aja ikutan kita intip. Hahahahaha..... Baik banget, ya. Jarang lho ada chef atau baker yang mau dapur dan proses detail pembuatan produknya diamat-amati oleh orang asing.

Farah Quinn juga menjelaskan kalo dese dan Chef Komar bakal terus berusaha menciptakan varian-varian baru Queen Apple. Rencana kedepannya, Queen Apple akan meluncurkan produk kue kering yang daya tahannya lebih lama dibanding Queen Apple cake dan strudel. Jadi kita nggak takut oleh-olehnya bakal basi kalo mau dibawa ke luar kota.

Sebelum pulang, kami menyempatkan diri foto bareng Farah Quinn dan Chef Komar. Thank you guys. You both are rock! Sok gaul banget sih saya. Kapan-kapan kita maen lagi ke Apple Queen.