May 25, 2017

NGOBROL: Yang Seru di Bulan Puasa

Hula! Tidak terasa sebentar lagi, bukan dalam hitungan hari, tapi dalam hitungan jam, kita akan memasuki bulan Ramadhan. Saya ucapkan selamat menjalankan ibadah puasa buat teman-temanku yang beragama Islam. Semangat yaaaa! 


Sebagai bukan penganut agama Islam, saya tidak ikut berpuasa dan merayakan Idul Fitri. Tapi saya juga ikut merasakan atmosfer yang berbeda di bulan puasa. Suasananya itu lho,  nggak bisa saya jabarkan secara rinci dimana bedanya. Pokoknya beda gitu. Yang pasti lebih banyak seru dan senengnya.

Nggak enaknya cuma saya jadi susah nemu kedai makanan, terutama di hari-hari pertama bulan puasa. Bagi saya yang kadang nggak sempet bikin sarapan ini berasa banget lho. Jadi nggak bisa bangun siang. Biasanya kalo kesiangan dan saya nggak sempet masak, si Oni tinggal naek motor ke deket-deket rumah aja, nyari sarapan. Entah pecel, nasi jagung, atau soto. Pokoknya gampang lah nyarinya. Tapi di bulan puasa, warung-warung tersebut biasanya tutup. Jadi ya saya harus masak pagi di bulan puasa. Huhuhuhu.....

Untungnya kalo bulan puasa gini nggak susah nyari makan malem ye khan. Secara di bulan puasa bakal banyak penjaja takjil yang bertebaran di pinggir jalan. Di deket rumah papa saya yang terletak di jalan  Ahmad Yani (tau dong ya, di mana-mana yang namanya jalan Ahmad Yani pasti jalan utama) juga selalu muncul deretan tenda penjaja takjil. Sangking banyaknya, sampe ngalah-ngalahin bazaar tujuhbelasan.

Makanan yang dijajakan juga beragam, tidak hanya snack dan minuman yang manis-manis, tapi juga aneka lauk seperti opor ayam, rendang, tempe dan tahu bacem, pepes, bothok, dan lain-lain. Nyari makanan apa aja kayaknya ada di sunu. Ibu-ibu yang nggak sempet mempersiapkan menu makan malam  bisa belanja lauk di sana sekaligus beli makanan untuk dipake sahur.

  Baca juga: Sahur Call

Masih urusan makan,  komunitas-komunitas dan instansi-instansi juga menggelar acara buka bersama. Bagi saya sendiri, seru sekali ikut acara buka bersama walaupun saya ndak ikutan puasa. Teman-teman di kantor terutama atasan yang biasanya keliatan serem jadi lebih 'manusiawi' di acara buka bersama ya to. Soalnya khan udah di luar jam kantor, jadi lebih santai dan bisa ber haha hihi ria.  Kapan ya saya terakhir kali ikut acara bukber? Kayaknya sudah lama banget. Soalnya khan saya sudah nggak bekerja kantoran atau aktif di komunitas tertentu.  Olala...

Selain itu, saya paling demen karena setiap bulan Ramadhan, toko-toko pasti berlomba-lomba mengadakan sale. Horeee! Apalagi menjelang hari Idul Fitri biasanya ada kucuran dana non budgeter tu yaaaa. Cucok lah. Mumpung harga lagi lumayan miring dan ada duit. Haiyah....kudu kekep dompet erat-erat. 

Bukan cuma supaya nggak gampang ngeluarin duit untuk barang-barang yang sebenernya nggak perlu, tapi juga supaya dompetnya nggak digondol maling, Cyn. Biasa, di bulan Puasa biasanya angka pencurian di toko-toko dan pusat perbelanjaan memang meningkat jadi dua atau tiga kali lipat. Banyak pencuri yang beraksi dengan memanfaatkan momen ramenya toko dan kelengahan ibu-ibu yang berburu diskon. Tau sendiri ya, ibu-ibu yang lagi kusyuk rebutan barang-barang diskon kadang suka lupa sama sekitarnya. Jangankan tas, anaknya udah keluyuran ke konter sebelah aja kadang nggak sadar. Hihihihi.....

  Baca juga: Maling

Oh iya, satu lagi, biasanya stasiun tivi juga suka menayangkan film-film kece kalo pas libur Idul Fitri. Nggak hanya film, sih. Pokoknya tayangan yang digemari penonton. Inget nggak waktu Srimulat ratingnya masih bagus di era tahun 90-an? Pokoknya waktu itu Srimulat masih jaya-jayanya dan hits banget.

Papa mama saya, termasuk saya juga, tak pernah absen mrongos cantik di depan tivi nonton Srimulat. Pas libur Idul Fitri, sepanjang hari tayangan di Indosiar ya Srimulat itu deh. beneran sepanjang hari, dari pagi sampe malem. Oh ya ampun, seharian deh saya nonton tivi di rumah. Hahahahaha.... Jadi kangen nonton Srimulat.

May 19, 2017

REVIEW: La Rose Rouge Passion Series Repair Damaged Hair

Auooooooo! Saya excited banget minggu ini. Karena hari Jumat C bakalan libur dan kami berencana jalan-jalan sekeluarga. Selain itu ada lagi yang bikin saya excited.  Paket yang saya tunggu-tungu dari http://perfectbeauty.id akhirnya dateng juga. 


Paket dari Perfect Beauty yang saya terima berisi 3 buah produk, yaitu: 
La Rose Rouge Passion Series - Repair Damaged Hair Shampoo (180ml)
La Rose Rouge Passion Series  - Repair Damaged Hair Conditioner (180ml)
La Rose Rouge - Cherubim Hair Brush

Bagi teman-temin yang sudah pernah ketemu saya dan Oni secara langsung, pasti sudah tahu dong ya kalo rambut kami berdua ini sama-sama tipis. *mewek. Hanya bedanya, rambut saya memang tipis dan sedikit dari jaman saya masih bayek. Sedangkan Oni, walaupun berambut tipis tapi masih lebih lebat dibanding saya.

Sebenernya saya kepengen lho manjangin rambut. Biar kelihatan lebih feminin. Keren betul rasanya kalo bisa sibak-sibak poni sembari mengibaskan rambut kayak model-model iklan shampoo itu.


Tapi rambut saya yang sedikit ini jadi makin keliatan sedikit kalo dipanjangin. Emoh! Aku emoh kalo rambutku jadi keliatan seiprit kayak Smegol. Hueeee! 

Bisa sih dikeriting, biar lebih bervolume. Tapi saya takut rambut saya rusak dan rontok.   Itulah sebabnya, rambut saya selalu dipotong pendek. Rekor rambut terpanjang hanya sebatas menyentuh bahu saja. Itupun dulu, sudah lama sekali, waktu saya masih duduk di bangku SMA.  

Itulah sebabnya juga, saya lumayan concern dengan urusan rambut dan agak cerewet kalo milih produk perawatan rambut.

Baiklah, tanpa bau bi bu lagi (dari tadi udah ba bi bu sih ya? Hahahaha....) Yuk kita bahas produk perawatan rambut yang baru saja saya dapet dari http://perfectbeauty.id

La Rose Rouge Passion Series Repair Damaged Hair Shampoo & Conditioner
Shampoo dan conditioner ini digadang-gadangkan  mampu melembabkan dan melembutkan rambut sekaligus menguatkan, mencegah kerontokan rambut dan membantu pertumbuhan rambut baru. Sehingga rambut menjadi lebih halus, mudah diatur, dan jatuh seperti di-smoothing.

Selain itu, penggunaan keduanya secara teratur mampu membuat warna rambut lebih hitam, dan menjadikan warna cat rambut lebih tahan lama, dan tidak mudah kusam. Dilengkapi wangi mawar yang lembut, menjadikan rambut harum seharian. Aman dikenakan sehari-hari, formula sangat ringan, no animal tested.

Uwuw! Sound very promising, right? (Yaaaa gapapa lah sekali-sekali saya sok-sokan pake bahasa Inggris. Biar kayak beauty blogger beneran gituh).
 

Packaging 
Warna dan bentuk botol yang super girly but classy ini langsung merebut hati saya (sekaligus membuat saya  rebutan botol shampoo sama C & Bree). Lumayan handy dan dilengkapi dengan tutup berbentuk pump. Anti tergencet dan aman kalo mau dibawa bepergian.
 

Ingredients
Terbuat dari deionized water, air yang sangat murni, dan keratin yang berfungsi menguatkan akar rambut. Saya biasanya cocok  dengan shampoo yang mengandung keratin. Memang terbukti, ketika menggunakan shampoo-shampoo yang mengandung keratin, kerontokan rambut saya jadi berkurang.

Selain itu produk ini juga mengandung dimethicone yang berfungsi untuk pelembab dan mencegah iritasi pada kulit kepala. Zat ini juga mengandung minyak silikon yang berfungsi untuk melembutkan kutikula rambut.

O iya, ada satu bahan yang menurut saya tidak umum terdapat pada shampoo dan conditioner. yaitu triclosan. Triclosan merupakan golongan antiseptik yang biasanya ditemukan pada produk-produk deterjen dan sabun mandi rumahan, serta pembersih alat-alat medis di rumah sakit. Kegunaan triclosan adalah sebagai pembasmi jamur dan bakteri. Jreng! Keren! Kayak punya blush on yang juga berfungsi untuk mengobati panu di pipi. (Aku memang norak. Kenapa emang? Situ oke? Hah? Hah? Hah?)

Aroma
Salah satu hal yang saya suka dari pasangan shampoo dan conditioner ini adalah aroma mawarnya yang kuat but not too much. Bertahan sepanjang hari tapi nggak bikin eneg atau puyeng. Benar-benar lembut dan elegan.

Result
Dengan memakai shampoo dan conditioner ini, saya jadi demen kibas-kibas rambut seharian. Soalnya rambut saya berasa lebih lembut dan haluuuuus gitu.

Biasanya kepala saya udah berasa lepek,  berat, dan berminyak banget kalo nggak keramas barang 1 hari saja. Seakan-akan  ada yang gremet-gremet di kepala gitu lho. Tapi dengan memakai produk ini, saya bisa bertahan satu setengah hari nggak keramas. Itupun saya akhirnya keramas bukan karena rambut sudah mulai terasa lepek, tapi karena saya habis masak sambel bajak dalam jumlah banyak sehingga dari ujung kepala sampe ujung kaki saya jadi bau cabe. Hehehe....

Kesimpulannya, saya suka suka sukaaaaak banget dengan produk ini. Recomended.

Oh iya, ini penampakan La Rose Rouge - Cherubim Hair Brush

 
Super cute! Somehow, model sisir ini kok mengingatkan saya sama Ryuk di manga Death Note. Rasanya sayang banget untuk make sisir ini. Pengennya saya pajang-pajang aja di rak mainan legonya si Oni sebelahan sama figurin L gitu. Hihihi....


Sama seperti kemasan Shampoo dan Conditioner La Rose Rouge, sisir unyu ini juga handy dan cocok dibawa bepergian. Multifungsi banget. Bisa dipakai di saat rambut basah dan kering, bisa juga dipake waktu lagi blow dry rambut. Sikatnya keliatan tajem-tajem, tapi sebenernya lembut banget. Sangking lembutnya sampe Bree yang masih berumur 1 tahun aja merem melek keenakan waktu rambutnya saya sisir pake La Rose Rouge - Cherubim Hair Brush ini. Beneran, lho.


Where to buy? 


May 17, 2017

4 Hal Paling Penting yang Perlu Kita Pahami Sebelum Naik Kereta Api



  Moda angkutan kereta api sampai saat ini masih menarik banyak peminat. Tarifnya murah, armadanya nyaman, rutenya terus berkembang, dan waktu perjalanannya pun cukup cepat.
Mungkin banyak di antara Anda yang belum pernah naik kereta api. Mungkin Anda masih ragu apakah kereta api bisa menjadi pilihan transportasi yang nyaman untuk perjalanan Liburan Anda. Tapi, pada dasarnya kereta api layak untuk dijadikan andalan perjalanan, tak hanya untuk urusan kerja atau pulang kampung tetapi termasuk pula urusan jalan-jalan.
Nah, untuk Anda yang belum pernah atau jarang naik kereta api, tentunya ada hal-hal yang perlu dipahami dulu. Dengan mengetahui hal-hal penting ini, Anda akan lebih familiar dengan kereta api dan pastinya jadi lebih tertarik untuk berani mencoba dan mulai mengandalkannya pada perjalanan selanjutnya. Setidaknya 4 hal berikut adalah yang paling penting untuk kita pahami, terkait memilih kereta api sebagai angkutan perjalanan agar tidak bingung sampai keliling-keliling.

1. Pesan tiket
Pemesanan tiket kereta api dulunya hanya dilayani melalui loket di stasiun. Saat ini, pemesanan tiket tersedia dalam 4 cara utama, yaitu melalui loket stasiun, booking via telepon, beli via merchant resmi, dan booking online. Dari cara tersebut, booking online menjadi andalan utama masyarakat saat ini.
Pemesanan online tiket kereta api bisa kita akses di situs resmi PT. KAI maupun melalui agen tiket online. Dengan membeli online, kita bisa menghemat banyak waktu dan energi, serta lebih fleksibel memilih waktu keberangkatan, bahkan tempat duduk. Agen tiket online saat ini sudah tersedia banyak. Traveloka yang lebih dulu populer dengan layanan tiket pesawat dan hotel termurahnya pun kini turut menyediakan layanan pemesanan tiket kereta api. Untuk info lebih lengkap dan pemesanannya, silakan lihat di situs Traveloka.

2. Lingkup operasional
Saat ini, kereta api di Tanah Air masih melayani perjalanan antar-kota yang berada di Pulau Jawa dan Sumatera.
Untuk Pulau Jawa, kereta api Indonesia beroperasi menghubungkan seluruh provinsi, baik kota besarnya seperti Jakarta, Bandung, Jogja, Solo, Semarang, dan Surabaya, maupun kota-kota kecil dan alternatif seperti Bogor, Tangerang, Sukabumi, Purwakarta, Cirebon, Madiun, Malang, dan lainnya.
Sementara itu, lingkup operasional di Pulau Sumatera menghubungkan provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Lampung; dengan jalur utamanya menghubungkan kota-kota seperti Medan, Rantauprapat, Padang, Pariaman, Bandar Lampung, Lubuklinggau, dan Palembang.

3. Jenis kelas penumpang
Selayaknya maskapai, kereta api di Indonesia beroperasi dengan kelas penumpang yang berbeda-beda. Jenis kelas penumpang yang dilayani oleh PT. KAI adalah kelas Eksekutif, Bisnis, dan Ekonomi. Seluruh kelas sudah menyediakan AC dan toilet. Layanan makan dan minum tersedia dengan biaya tambahan. Dalam kereta api, ada juga pramugari yang siap melayani kebutuhan penumpang.
Kelas Eksekutif adalah layanan termewah atau tertinggi. Fasilitas unggulannya meliputi (1) tempat duduk sofa dengan sandaran yang bisa dimiringkan dan bangku bisa diputar agar berhadapan, (2) sandaran kaki, (3) colokan listrik di setiap tempat duduk, serta (4) bantal dan selimut gratis.
Untuk kelas Bisnis, perbedaan fasilitas terletak pada tempat duduk penumpang yang tidak bersekat (1 bangku untuk 2 orang) serta sandaran belakang tidak bisa dimiringkan. Tempat duduknya pun bukan sofa, melainkan berlapis kulit. Bantal dan selimut disediakan dengan biaya sewa.
Sementara itu, kelas Ekonomi terbagi atas 2 jenis, yaitu komersial dan non komersial (kereta subsidi). Khusus kelas Ekonomi, tempat duduk penumpang juga berlapis kulit serta tidak bersekat. Dibandingkan kelas Eksekutif maupun bisnis, tempat duduk di kelas Ekonomi diposisikan paten berhadapan (tidak bisa diputar balik).

4. Tempat duduk
Jenis tempat duduk di setiap kelas penumpang berbeda-beda, sebagaimana telah dijelaskan pada poin sebelumnya. Susunan setiap kelas pun berbeda, di mana tempat duduk penumpang untuk kelas Eksekutif dan Bisnis tersusun 2-2 (2 bangku di sisi kanan dan 2 bangku di sisi kiri), sementara kelas Ekonomi tersusun 3-2, 2-2, atau 3-3. Untuk kereta api kelas Eksekutif, kapasitas tempat duduk tersedia umumnya untuk total 50-52 penumpang; kelas Bisnis total 64 penumpang, dan kelas Ekonomi kurang lebih 104 penumpang. Jenis kereta api Ekonomi terbaru yang diluncurkan tahun 2016 memiliki pengaturan tempat duduk mirip kelas Eksekutif dengan bangku terpisah (1 orang 1 bangku) dan berkapasitas sekitar 80 penumpang.
Terkait pemilihan tempat duduk, saat membeli tiket kereta api online, penumpang bisa langsung memilih sendiri tempat duduknya. Dalam memilih tempat duduk, orang-orang yang sudah sering menggunakan kereta mengaku tempat duduk ternyaman berada di barisan tengah gerbong. Alasannya, barisan tengah merupakan tempat duduk paling tenang (jauh dari pintu keluar masuk dan bordes/ruang pemisah antar-gerbong kereta) serta paling sedikit

May 14, 2017

Ibu-Ibu Kekinian ala Instagram

Ada yang suka ber 'me time' ria dengan maen Instagram? Sama, saya juga. Saya paling demen ngepoin postingan ibu-ibu kekinian di Instagram. Kenapa? Karena senasib, ya to. Sambil kepo, saya juga bisa nyari ide yang bisa saya terapkan di rumah saya. Eh tapi saya juga kepo-kepo liat IG nya Awkarin, kok. Hihihihihi....

pic from: IG: @tvllankz
Nggak kece banget ya? Me time kok maen IG. Opoooo ikuh.

Iya habis mau gimana lagi. Kepengennya sih me time dengan nongki-nongki cakep di setarbak, shoppang shopping kece di mall, seharian ngedon di spa perawatan dari ujung rambut sampe ujung kaki, gitu ya. Tapi apa daya, daku emak-emak dengan dua bocil. Kalo saya me time nya di luar, trus dua bayek itu siapa yang ngurus coba? Kalo bawa bocils, itu namanya bukan me time, tapi rempong time. Arg!

May 10, 2017

AXIOO: Gadget Indonesia yang Keren Gak Bikin Kere


Sebenarnya saya sudah sering mendengar brand AXIOO. Entah dari obrolan dengan teman, melihat iklan di surat kabar, atau melihat kerabat yang menggunakan brand ini. Tapi saya baru bener-bener memperhatikan dan tertarik dengan AXIOO setelah mengetahui bahwa AXIOO adalah produk lokal Indonesia dan  melihat video ini:


May 2, 2017

ONI VS FELY: Si Tukang Komplen

"Kamu ini hobi banget komplen, sih," begitu komentar yang sering dilontarkan Oni kepada saya. No..no..no.. KOMPLEN yang  dimaksud Oni di sini bukan mengeluh ke pasangan, tetapi mengajukan aduan berkaitan dengan pelayanan jasa atau barang yang saya beli atau bayar.   
 
Si Oni orangnya memang suka cing cai. Urusan beli-beli barang, dia biasanya 'nggak papa' dengan kekurangan yang sifatnya nggak terlalu relevan dengan fungsi barang/jasa yang dibeli. Misal dulu ketika membeli sepasang baju training untuk olah raga via online. Ketika barang dateng, ternyata warna celana dan jaketnya beda. Nggak sampe beda-beda gimana gitu, sih. Tapi diliat sekilas aja sudah keliatan lho kalo warnanya beda. Serat kainnya juga beda. Mungkin jenis kainnya sama, tapi beda merk gitu. Oni bilang, ya udah lah, wong warnanya masih sama-sama biru tua. Yang penting nggak sobek dan bisa dipake jogging. 

Dibanding Oni yang penuh toleran serta tenggang rasa, yaaaa saya memang doyan banget kalo disuruh komplen-komplen. Kalo saya jadi Oni, ish saya bakal komplen ke sellernya. Nggak perlu sampe minta ganti barang, tapi tetep harus komplen.  Puji Tuhan kalo diganti, nggak diganti yo wes. Yang penting udah komplen.

"Terus, kalo nggak minta ganti barang, ngapain kamu komplen? Hobi kok ngajak orang berantem," gitu kata Oni ketika itu. Lheeee, gimana sih! Ini khan bukan masalah ngajak orang ribut, tapi ya supaya sellernya tau gitu kalo barang yang dikirim itu  cacat. Jadi dia juga bisa komplen ke suppliernya atau gimana lah. Iya nggak, sih? Enggak ya? 

Menurut Oni, hal yang saya lakukan itu adalah membuang-buang energi, rese, kurang kerjaan.  Kalo memang nggak puas dengan pelayanan suatu toko, mending saya nggak usah balik ke toko itu lagi. Udah, beres, khan. Masalah selesai. 

Well, pernah bekerja di bidang yang erat kaitannya dengan customer service memang membuat saya jadi lebih peka dengan kualitas barang/jasa yang saya beli. Kalo barang/jasa tersebut memiliki kekurangan atau dibawah ekspektasi saya (baca: mengecewakan), saya dengan saaaaaangat senang hati akan mengajukan komplen instead of diem aja.

Menurut jej saya rese? Ish, enggak yooo. 

Begini, 
Teman-temin tau nggak, sih. Berdasarkan riset kecil-kecilan yang saya lakukan semasa masih bekerja, customer-customer yang mengajukan komplen itu sebenernya adalah para customer yang loyal, lho. Ya nggak semua, sih. Ada juga customer rese atau customer baper. Tapi ya itu tadi, kebanyakan customer yang demen komplen biasanya akan datang lagi berbelanja di toko yang dikomplennya. 

Sama halnya dengan saya. Saya sendiri sebenernya juga pilih-pilih kalo mau komplen. Saya hanya akan mengajukan komplen kalo saya merasa suatu hari nanti saya bakal beli barang/jasa ke dia lagi. Ya puji Tuhan ya kalo sellernya peka dan memberikan ganti. Tapi sebenernya tujuan utama saya komplen adalah saya maunya si seller memperbaiki kualitas dan memberikan saya pelayanan yang lebih baik di kemudian hari. 

Yes, saya setuju kalo saya dianggep rese menurut kacamata pegawai toko tersebut. Karena apa? Karena saya telah mengganggu ketenangan hidup dan bekerjanya. Huahahahahahaha... *ketawa jahat. Tapi bagi owner toko, saya ini (seharusnya, sih) tipe customer yang harus disayang-sayang, dipertahankan, dan diberi aneka bonus dan diskon (maunya). Karena apa? Karena saya loyal dan jarang menjelek-jelekkan suatu toko ke orang lain. Ya karena saya sudah ngomong yang jelek-jelek (baca: komplen) secara langsung ke tokonya . Ya to ya to? 

Hayo, kalo teman-temin jadi owner toko. Pilih customer kayak saya atau kayak Oni?

April 25, 2017

TOPIK PENTING: 3S

Teman-temin, kalo lagi jalan-jalan cantik ke mana gitu, pernah memperhatikan nggak perbedaan turis lokal Indonesia dan turis bule?


Errr... kalo foto di atas sih jelas ya bedanya. Turis bulenya embak-embak cantik kece cetar ulala. Turis Asiannya embok-embok kucel alisnya cuma separoh pake sarung bali karena takut masuk angin. Hahahahahaha.... *ketawa sedih

Turis bule kalo dolan ke Bali, demennya: SUN, SEA, SEX
Turis ASIA kalo dolan ke Bali, demennya; SELFIE, SHOPPING, SIAO PIEN

Uwuw! Masa sih bule kalo dolan ke Bali nyarinya sex? Hadeh, serem amat. Kayaknya nggak semua bule begitu, lah. Tapi memang nggak bisa dipungkiri, tidak sedikit bule yang maen ke Bali bertujuan untuk having fun, termasuk mencari kenikmatan terlarang ini. No no no, bukan melulu prostitusi. Tapi lebih ke hubungan sesaat dengan kenalan, baik sesama bule atau enggak. One night stand, no commitment relationship, fun partner, holiday only partner, apalah you name it.  Sedangkan turis Asian? Ada juga lho yang maen ke Bali untuk memburu kenikmatan terlarang, tapi jumlahnya nggak sebanyak bule. 

SUN & SEA jelassss. Selama saya dolan ke pantai-pantai di Bali, yang demen jejemuran dan maen di laut lama-lama dan tiap hari ya emang bule yang kulitnya pale-pale ituh. Kalo kita mah paling ke pantai cuma sehari. Itu juga cuma mau mamer pake bikini, selfie-selfie yang banyak biar tsakep dipajang-pajang di Instagram, trus udah langsung ngabur ke bawah payung biar gak item. Kalo yang embok-embok macam saya, yaaaa bisa bertahan lebih lama dikit. Bukan karena demen, tapi terpaksa karena membuntuti bocah. Itu juga sibuk nutupi kepala pake topi lebar dan sarung bali.

Beberapa temen bule suka saya tanya, kenapa bok demen banget maen aer sambil panas-panasan?  Kalo saya, maen air sebentar aja udah was-was takut kulitnya trataken. Itu lho, kulit jadi item tapi itemnya nggak rata, ada blentong-blentong putihnya. Biasanya kulit kita jadi begitu karena kita kering maen aer di bawah sinar matahari. Kulit saya sendiri juga sudah trataken di bagian lengan dan pipi dan nggak bisa hilang sampe sekarang. Itu karena saya pernah bekerja di waterpark selama 1 tahun. Alhasil jadi sering dituduh panuan dan disarankan pake kalpanax. Ealah!

Ternyata temen-temen saya yang bule itu mengaku nggak begitu khawatir kalo kulitnya trataken. Asal bisa menikmati sinar matahari berbonus kulit jadi tanned. Soalnya memiliki kulit tanned itu susah banget. Harus berjemur secara rutin biar hasilnya nyata. Kalo jemurnya cuma sesekali, paling kulit cuma memerah doang, abis itu balik pale lagi. Ealah Mbak, sini tinggal di rumahku aja kalo gitu. Tiap hari nganter anak ke skul dan jalan kaki ke pasar udah bisa bikin tanned, kok. Dan hasilnya pasti bagus, mengkilap, hitam merata. Eh, enggak denk. Itemnya nggak rata, soalnya di kaki ada belang bekas tali sandal jepitnya. Haiyaaaa....

Lalu lalu.... bagaimana dengan turis Asia? Saya setuju banget kalo turis Asia (at least Indonesian. At least saya lah.....) memang kalo pergi ke mana-mana demen banget 3S itu. Terutama SHOPPING, ya. *dasar emak-emak gila ngemall.  Yes! Wajib!

Well, mungkin ini ada kaitannya dengan kebiasaan saling memberi oleh-oleh apabila kita bepergian ke suatu tempat. Seperti mama saya contohnya. Setiap pergi kemana-mana, beliau pasti ribut mau shopping nyari  oleh-oleh dulu. Kalo oleh-oleh sudah didapat, barulah hatinya tenang dan bisa ke obyek wisata lain. Kalaupun daerah wisata yang dikunjungi itu tidak memiliki barang dan souvenir khas, mama saya tetep bakalan belanja barang apasaja yang kira-kira bisa dan cocok dijadikan oleh-oleh.


Contohnya ketika mama mengunjungi kami di Malaysia ini. Dese bela-belain lho beli selusin pouch make up buat oleh-oleh temen-temennya di Indo. 'Yailah, Ma,' pikir saya. Pouch make up begitu bukannya banyak dijual di Pasar Atom atau Pasar Besar, ya? Harganya nggak selisih jauh. Ngapain sih beli jauh-jauh di Malaysia. Mana bawanya susah, menuh-menuhin bagasi. 

Tapi mama saya tetep ngotot beli. Selain karena beliau ingin membalas teman-temannya yang juga selalu memberi oleh-oleh setiap kali pulang dari bepergian, menurut mama saya, walaupun barangnya mirip, tapi sensasinya tetep beda ya kalo dibeli dan diberikan sebagai oleh-oleh. Hahahaha.... entah, deh.

SELFIE. Kalo kebiasaan yang satu ini saya jarang melakukan. Menurut saya selfie is boleh-boleh aja. Tapi ya nggak perlu lah ya kita selfa selfi di setiap sudut obyek wisata. Jujur, saya kadang merasa turis-turis yang demen dikit-dikit  selfie itu err.... norak.  Ada juga yang nggak suka selfie, tapi tiap ada yang hendak berfoto, dia selalu kepengen ikut nimbrung. Ini lebih norak dan annoying! Kesannya pengen banget eksis di semua foto gitu ya. Hadeuh.....

Ditambah lagi sejak adanya media sosial instagram yang menjadi medan ajang eksistensi diri para generasi muda. Semua orang (yes, semua orang, termasuk saya, lah jreng. Saya khan juga masih muda. Ihik...... Tapi saya nggak demen majang foto selfie, lho. ) kayaknya jadi makin giat cekrak cekrek. Bukan untuk dokumentasi atau mengabadikan momen spesial, tapi untuk di upload di Instagram. 

SIAO PIEN Ini yang paling menarik menurut saya! Oiya, bagi teman-temin yang belum mengerti, siao pien itu artinya buang air kecil. Huahahahahahahahahahahahaha.... Saya baru tahu lho kalo kebiasaan pipis dulu sebelum pergi dan ketika tiba di tempat tujuan (walaupun nggak kebelet pipis)  itu hanya dilakukan oleh orang Asia. 

Saya ingat betul, sedari kecil saya memang dibiasakan untuk pipis dulu sebelum dan sesudah bepergian. Kalau saya nggak mau ke kamar mandi, mama saya bakal menegur sambil setengah melotot, "Kalau nanti di jalan kebelet pipis, mama nggak tanggung jawab, ya. Iya kalo di sana ada kamar mandi. Kalo nggak ada?" Dan kebiasaan ini juga saya terapkan ke anak saya. Hahahahahaha..... Ah sudah lah, kalo kebiasaan yang satu ini, saya nggak peduli meskipun dianggep agak-agak aneh oleh teman-teman saya yang bule. mending ipis dulu di rumah daripada pas lagi asyik jalan-jalan kudu ribet nyari toilet. Ya to... ya tooooo......

KULINER: Chicken Fingers

Yak, lagi-lagi saya bikin posting tentang makanan. Habis gimandose, saya nggak sabar pengen cerita tentang kedai bernama Chicken Fingers yang menurut saya enak enak enak! Seriously! Enak!

In case you are kepo siapa pemilik tangan lentik di foto ini. Itu bukan sayah! Ini teman saya, Mbak Ria. Penulis cerpen dan puisi yang karya-karyanya sudah banyak diterbitkan di mana-mana. Uwuw....

Alkisah, tadi sore saya dan teman-teman dari Malang Citizen berkesempatan  nongki-nongki cantik di Chicken Fingers, sebuah kedai mungil yang terletak di Jalan Coklat no. 1 Malang.

Mata saya langsung tertuju pada lukisan mural pada dinding kiri dan kanan kedai. Kayaknya jarang ya bok, tempat makan yang memilih dominasi warna hitam pada pewarnaan cat dinding. Menurut informasi dari Mbak Wenti, owner Chicken Fingers, warna hitam dipilih sebagai warna dominan karena suaminya memang penggemar warna hitam. 

Seperti yang teman-temin lihat, ukuran kedai tidak terlalu luas. Kami bersepuluh sudah cukup membuat suasana kedai uwel-uwelan. Eh, ini belum sepuluh orang, lho. Karena masih ada beberapa yang belum datang.

Dari nama kedainya, sudah bisa ditebak dong ya, kalau menu khas dari Chicken Fingers ini adalah Hot Wolverine alias ceker ayam! Ceker yang telah digoreng tepung disiram dengan kuah pedas yang gurih dan segar, lengkap dengan taburan cabe dan daun kemangi.

 
 
Teman-temin yang nggak doyan krokot-krokot ceker, bisa memesan Hot Wings dan Hot Drumsticks. Bumbu dan kelezatannya sama persis dengan menu ceker.

Kalo yang ini aneka menu dengan embel-embel 'Cripzy' atau' Krezz' di belakangnya. Variannya tidak hanya sebatas ceker, paha, dan sayap ayam saja. Ada juga pilihan menu tahu, baso, dan kekian.

Aneka menu "Cripzy' dan 'Krezz' ini cocok dinikmati begitu saja ataupun dengan sambel.  Yes, Chicken Fingers menyediakan 5 varian sambel yang bisa dijadikan pelengkap menu serba crisp ini, yaitu sambel bawang, sambel bajak, sambel tauco, sambel ijo, dan sambel petis. Sambel mana yang paling enak? Semuanya enak! 

Oh, ya. Masih ada satu menu lagi yang menjadi menu andalan dari Chicken Fingers. yaitu Ayam Geprek. 
 
Kita bisa meminta ayam geprek pesanan kita disiram dengan salah satu pilihan sambal Chicken fingers. Selain itu, kita juga bisa request ayam gepreknya disiram pake keju mozarella. JRENG! Mozarella? Iyes! Mozarella. Dan amazing, rasanya enak-enak aja tuh di lidah saya.

Untuk minuman, saya memilih orange flip. Kalau teman-temin ada kesempatan makan di Chicken Fingers, kayaknya mending nyobain minuman-minuman lain yang nampaknya lebih unik dan menarik untuk dicoba seperti Tropis, Blue Sky, atau Black Forrest Cheese. 

Will I come back? YES! YES! YES! Selain enak mandraguna, harga makanan di kedai ini menurut saya termasuk murah banget. 

Murah khaaaaan? Iya, murah gilak!

Jam buka: 15.00-00.00
Lokasi: Jalan Coklat no. 1 Malang.
Rate: 8/10


April 24, 2017

KULINER: Yala Eatery

Beberapa pekan yang lalu saya menyempatkan diri makan di YALA EATERY. Sebuah kedai makanan populer dengan sentuhan Timur Tengah. Kenapa saya sebut kedai makanan 'populer'? Well, Nanti akan saya ceritakan. *macak misterius. 

Nuansa Timur Tengah langsung terasa ketika saya memasuki Yala Eatery. Cat tembok yang didominasi warna oranye kecoklatan berpadu dengan aneka pernak pernik interior khas Timur Tengah menyambut hangat para pengunjung. 

Setelah mengintip ruang meeting di lantai bawah (iya, ngintip doang. Maksud hati mau masuk kepo-kepo bergembira gitu. Ternyata ada mas mas lagi boci di sana. Lak aku sungkan jadinya. Hihihihihi....) saya langsung cap cup ke lantai atas. 

Suasana di lantai atas lebih terkesan modern, walaupun tetap bernuansa hangat dihiasi dengan sedikit aksen Timur Tengah. Kalau ingin makan-makan santai sambil nongki-nongki, teman-temin bisa memilih duduk di sofa-sofa yang disediakan. Cocok lah buat mojok romantis atau sekedar bertatap muka dengan rekan bisnis. Apabila kita datang dengan jumlah pasukan lebih banyak, selain menggunakan rung meeting yang dilengkapi dengan proyektor dan sound system, kita juga bisa meminta waiter menata sofa-sofa di lantai dua ini  dengan posisi memanjang. Ah, multifungsi sekali.  Fix, this resto give me a good first impression.
Karena saya datang dengan tujuan utama yaitu 'MAKAN', maka saya memilih duduk di teras lantai dua yang tinggi meja kursinya sama dengan dining table set. Pas dan pewe lah dipake makan dibanding sofa, ya to. 

Ketika waiter menunjukkan daftar menu, JRENG, saya melongo. Ish kok menunya giniiiih! Ada ayam penyet, ada jamur krispy, ada tahu sutra. Bahahahahahahahaha.......  yang paling gitu amat, ada pat bing soo! Lha pat bing soo itu lak ya jelas-jelas bukan makanan Timur Tengah to jek? Kepriben sih?
Saya pikir-pikir (iya mikir-mikir doang. Mau nanya bingung nanya ke siapa. Harusnya nanya ke ownernya, ya? Tapi berhubung saya nggak tau ownernya yang mana dan menurut saya pertanyaan saya nggak penting-penting amat sampe saya harus minta tolong dipanggilin ownernya) Ah mungkin ownernya sengaja menyisipkan banyak jenis non Timur Tengah (terutama makanan yang sedang hits di kalangan pecinta kuliner) karena tidak semua pengunjung meyukai makanan Timur Tengah yang rasanya cenderung berat dan kaya rasa. It's a smart idea. Dengan begitu, pengunjung tetap bisa datang dan makan ke sana walaupun bukan pecinta makanan Timur Tengah. Oleh sebab itu, saya sebut Yala Eatery ini termasuk kedai makanan POPULER dengan sentuhan Timur Tengah.

Harga yang tertera nggak mahal, kok. Berkisar antara Rp. 5.000,- s/d Rp. 35.000,- Cucok lah buat kantong mahasiswa. Lha kok mahasiswa? Lho iya, wong lokasinya deket kompleks kampus UB dan UN. Jadi saya rasa target pasar utama Yala Eatery adalah kalangan mahasiswa.
 
Saya memilih Chicken Chizz, lemon tea,  dan Choco Nut Maroko. Selain itu saya juga mendapat free seporsi ayam bakar cobek. Wuzzzz.... orang penting gitu ya saya? Dateng ke sana dikasih free mamam. Anu anu anu... enggak sih. Saya dateng memang bertepatan dengan masa promosi grand opening Yala Eatery. Semua pengunjung yang datang pada minggu itu mendapatkan free ayam bakar lengkap dengan nasinya. Lumayaaaan. 



Hidangan ini tidak ada dalam daftar menu. Jadi memang khusus disajikan sebagai menu free selama grand opening Yala Eatery. Tapi kalo boleh saya bandingkan, sepertinya menu ini paling mirip dengan  menu ayam bakar cobek. bedanya hanya terletak pada nasinya. Dalam gambar di daftar menu, ayam bakar cobek seharga Rp. 13.000,- disajikan dengan kentang instead of nasi. 

Ayamnya kecil,  hueee...... Ya iya lah ya, harga tiga belas rebok kok mau minta ayamnya segede paha bayi. Apadeh, ah! Bukan size ayamnya yang saya masalahin, tapi nasinya kok agak kering gitu. Jadi pas dimakan berasa kemrotok di mulut. Rasa sambelnya agak ehm..... lidah saya menangkap ada sedikit hint rasa rempah-rempah. Unik, tapi bukan termasuk sambel yang enak menurut standard lidah saya. Sambel yang enak seharusnya bikin nagih dan membuat kita pengen nambah lagi, lagi, dan lagi.  Tapi ketika saya nyobain sambel ini, hm... bukan nggak enak, tapi nggak bikin saya pengen nambah.

Chicken Chizz ini enak! Ayamnya dilumuri tepung berbumbu dan diproses dengan cara goreng. Sekali lagi lidah saya menangkap taste rempah-rempah dalam hidangan ini. Ringan sekali, hampir tidak terasa kalau tidak diperhatikan baik-baik. 

Choco Nut Maroko ini juga enak! Susu coklat berpadu dengan kacang terasa begitu pas di lidah. Hanya saja ukuran sedotane iku lho maaaas. Kecil. Kacangnya jadi suka nyangkut di sedotan. Saya jadi sedikit-sedikit harus mencet-mencet sedotan untuk mengeluarkan kacang yang terperangkap didalamnya. Mengganggu sekali. (Bawel lu Fel!)

Will I come back? Yes!  Saya masih pengen nyobain Kambing Oven Maroko yang penampakan di buku menunya aja sudah bikin saya ngeces. Sayang waktu itu saya nggak bisa pesen menu banyak-banyak karena saya dateng cuma berdua dengan Mel, adik saya. Dan kami sama-sama baru saja makan siang. Selain itu, saya juga pengen say hi to this little elephant. 

Lucu khaaan. Pengen saya gondol bawa pulang aja.

Rating: 6,5/10
Location: Jl. M.T. Haryono 127 Lowokwaru, Malang

April 6, 2017

KULINER: Kimbap Rina

Beberapa waktu yang lalu, saya, adik saya, dan C makan di Kimbap Rina. Sudah lama saya kepo dengan Kimbap Rina, salah satu kedai makanan Korea di kota Malang. Menurut infu dari beberapa teman dan feed di IG, Kimbap Rina ini lumayan enak dan harganya mursida. Yak cucok lah buat emak-emak medit kayak saya.

Selain itu, konon owner Kimbap Rina ini pernah tinggal di Korea, jadi makanan-makanan yang dibuat di kedainya bisa dibilang bukan makanan Korea abal-abal gitu lah ya. Soalnya khan dese pernah tinggal dan belajar masaknya di sana. Jiwa sotoy saya mengatakan, pasti makanan di jual di sunu nggak jauh-jauh amat dari citarasa asli masakan Korea asli.   

Kimbap Rina buka dari jam 12.00 sampai jam 19.00. Kami bertiga datang pukul 13.00. Ketika kami tiba di sana, Kedai Kimbap Rina udah rame. Hanya ada beberapa meja yang kosong. Kami memilih duduk di meja yang terletak sebelah sebuah rak besar yang rupanya dijadikan pembatas antara ruang servis dan ruang customer. 

Yup, Kedai Kimbap Rina bergaya lesehan. Ukuran kedai nggak terlalu luas. Tapi bisa dibilang cukup bersih dan nyaman untuk pacalan atau hang out bersama dua atau tiga orang teman.

 Tampang hepi nungguin pesenan dateng.

Pasangan emak dan anak yang sama-sama nggak fotogenik inipun menyempatkan diri berwefie-wefie ria. Senyum anaknya maksa banget ye? Hahahahahahah.....

SPICY TUNA MAYO KIMBAP , Rp. 18.500,-
Sebenernya Spicy Tuna Mayo Kimbap ini enak menurut lidah saya yang ngefans banget sama fushion sushi. Rasa mayo dan tuna berpadu sempurna di lidah. Hanya saja citarasanya jadi  rusak karena rasa pedas yang menyengat dari potongan cabe di dalam kimbap. Yes, rasa pedas dari kimbap didapatkan dengan memasukkan potongan cabe hijau ke dalam kimbab.

Kenapa saya bilang potongan? Karena ukuran cabenya besar-besar, bok. Bukan cabe yang diiris tipis-tipis, tapi cabe yang dibelah dua. Walaupun saya termasuk orang yang kemampuan makan pedesnya di level medium dan masih bisa menikmati makanan pedas level medium to strong, tapi saya nggak suka sensasi rasa pedas yang menyengat. Menurut saya, spicy tuna mayo ini bakalan lebih tasty kalo cabenya diris tipis tipis, sehingga instead of berasa kayak 'gak sengaja ngletus lombok' tapi sensasi rasa pedas yang dihasilkan merata di setiap gigitan.

ODENG, Rp. 18.000,-
Nothing special with this odeng. Saya order karena kepo aja sama sama babang Lee Min Ho yang kalo makan odeng sampe monyong-monyong keenakan. *apadeh.

CHICKEN DOSIRAK, Rp. 22.000,-
This is yum! Ayamnya gurih, gede, dan boneless. Yay, say no to kobokan! Sausnya tasty. So-un nya pas, nggak kematengan nggak blenyek. Cuma sayang, kimchinya seiprit ah. Tambah dong kakaaak.

Oiya, update terbaru, aneka dosirak sudah dihapus dari daftar menu Kimbab Rina karena keterbatasan SDM. Hiks... sedih.....
SUDUBU JJIGAE, Rp. 28.000,-

Namanya juga hot pot, ye. Sudubu Jigae ini disajikan dalam kondisi masih panas dengan kuah masih berasap karena mendidih. Bikin monyor-monyor kalo langsung makan tanpa menunggu hidangan agak dingin. Hahahahahaha......


Will I come back? YES. Saya mau order Kimbap tuna mayo yang nggak spicy dan tokpokki (yang kapanhari sempet dihilangkan dari daftar menu karena alasan kontroversi halal atau tidak. Dan sekarang menu ini ada lagi, tentunya dengan jaminan halal. Well, saya sih sebenernya nggak ngaruh karena saya nggak masalah makan sapi kontet ataupun makan makanan yang mengandung sedikit alkohol.)

Rating: 7/10
Location:
Jl. Kalpataru No.40, Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65151, Indonesia