16 Januari 2017

YES or NO #1: Cowok Gondrong

Saya sih jelas YES!

Nggak punya pilihan lain, Cyn. Orang suami akika gondrong. Berani-berani jawab 'NO', bisa gak dapet duit belanja bulanan saya. Hahahahaha...

Dulu, saya kurang suka sama cowok berambut gondrong. Saya juga nggak kepikiran bakal dapet suami berambut gondrong.

Well, sebenernya bukan karena rambut gondrongnya sendiri, sih, ya. Hanya saja, cowok-cowok berambut gondrong di sekitar saya pada waktu masih lajang dulu, kebanyakan kok cowok yang nggak begitu memperhatikan penampilan dan merawat diri. Rambut gondrong mereka biasanya dikarenakan mereka males menyisihkan uang untuk merapikan rambut. Alhasil, rambut gondrongnya awut-awutan, tengil, dan kadang (maaf) bau. Jadi ya, dalam pikiran saya udah terstigma kalo cowok gondrong = cowok kumel.

Selain itu, di mata saya, cowok gondrong itu biasanya kerjaannya nggak jelas, rebel, tukang melanggar aturan, bandel, nakal, berbahaya. Pokoknya yang jelek-jelek, deh.  Hahahahaha. Maklum, dari TK sampe SMA di sekolah saya ada aturan cowok wajib berambut pendek. Rambut nggak boleh menyentuh kerah. Yang go drong-gondrong ya biasanya murid-murid bandel yang suka nglanggar peraturan sekolah. Otomatis, di otak ini default settingnya kalo liat cowok, makin pendek rambutnya makin baik orangnya. Asal jangan gundul aja. Blame it to peraturan sekolah Indonesia!

Trus kayaknya kebanyakan perusahaan di Indonesia juga  masih menerapkan aturan: pegawai pria wajib berambut pendek di atas kerah. Sampe sekarang masih gitu nggak, sih?


Apalagi, ya... Oh iya, kalo nggak anak nakal, cuma ada satu kemungkinan cowok berambut gondrong. Dia pasti banci!
Pemikiran darimana sih ini. Banci atau enggak khan bukan diliat dari rambutnya, ya?
Iya, tapi banci jalan irian rambutnya panjang semua!
Ih, ampun, bikin saya diprotes para gondronger. Hahahahahaha......
Maafkan akuuuuu gondrongers. Pokoknya gitu, lah. Jangan ditanya alesannya. Saya sendiri juga nggak tauk. :p

source: http://maxpixel.freegreatpicture.com/Face-Stand-Alone-Men-1311191

Tapi itu duluuuuu.... Sebelum saya mengenal Oni. 
Pendapat saya berubah setelah saya ketemu lagi sama si Oni tahun 2009. Eaaaaaa.... suit suit! Kok malah kesengsem sama cowok gondrong, to yoooo. Haha.... Kualat!!!  Habis cowok gondrong yang satu ini walaupun wajahnya lebih cantik dari saya, kok manly, ya. Ihik.... Walaupun si Oni nggak sampe perawatan khusus demi rambut gondrongnya, tapi selalu rapi dan wangi. Rambutnya nggak pernah bau. Walaupun nggak tajir dan bergelimang duit, tapi punya pekerjaan jelas dan pekerja keras. Trus saya liat, orangnya juga nggak neko-neko. Pokoknya berkebalikan sama image cowok gondrong di mata saya.

Saya paling suka liat Oni diekor kuda begini.
Terus, setelah menikah, gimana rasanya punya suami berambut gondrong?

Yang jelas saya sering diledek oleh teman-teman saya seperti ini, "Yang jadi suami yang mana, nih?" Pasalnya rambut saya nggak pernah panjang, malah seringnya cepak. Bukan karena saya nggak suka berambut panjang, tapi karena rambut saya tipis dan sedikit. Jadi harus  selalu pendek untuk meminimalkan resiko rambut rontok. Selain itu, dari segi penampilan, saya  juga nggak cocok kalo rambutnya panjang. Ya karena rambut saya yang cuma seempret ini, gondrong sedikit, saya udah mirip tikus kecebur got. Huhuhuhuhu... sedih, ya.

Ehm, apa ya bedanya dengan punya suami berambut pendek? Oh, kalo berantem saya lebih punya peluang menang kali ya? Karena kalo sebel saya tinggal jambak aja rambutnya. Kalo Oni khan nggak bisa menjambak rambut saya. Wong cepak. Kepegang tangan aja udah ucul. Hahahahah... *apasih *nggak penting.

Apalagi kalo cowok gondrongnya model beginih!!!! 
Adek mau, Bang! Halalin adek sekarang juga!!!! #eh

so, I say YES for cowok gondrong.


Asal rambutnya selalu rapi dan bersih. Kalo masalah kerjaan, bandel atau enggak, dan sebagainya, kayaknya nggak ada hubungannya sama rambut gondrong. Entahlah.

Gimana menurut teman-temin?

10 Januari 2017

JALAN-JALAN: The Beautiful Barong Dance

Eh eh, setelah saya nulis tentang cerita jalan-jalan di Bali, saya jadi kepengen membagi cerita dan share lebih banyak foto tentang Barong Dance. Seriously, tarian ini bener-bener kece dan menghipnotis. gerakan tarian yang eksotis, dialek para pemainnya, nuansa panggungnya yang 'gitu aja' tapi sudah memberi kesan yang sangat kuat, semuanya saya suka!  One day, kalo kami berkesempatan dolan ke Bali lagi, selain nonton festival Ogoh-ogoh, saya juga kepengen liat Barong dance lagi. Huhuw..... 

Baca juga: JALAN-JALAN: When in Bali & Late Post: Nonton Festival Ogoh-ogoh

Oh iya, seperti yang sudah saya ceritain sebelumnya, tari Barong sendiri sebenernya bukan murni pertunjukan tarian, melainkan drama musikal. Dimana dialog, tarian, dan nyanyian digabungkan sehingga membangun sebuah cerita. Latar belakang cerita diambil dari kisah Mahabaratha. Sedangkan tokoh sentral dalam tarian ini adalah kebajikan yang digambarkan dalam sosok mitologi Barong dan kebatilan yang diwakili oleh sosok Rangda.

Cuss disimak futu-futu dan sinopsis yang saya buat semampu-mampunya dan masih jauh dari sempurna inih, Kak. 

Pertunjukan dibuka dengan suguhan gamelan Bali yang terletak di kanan panggung. Disusul dengan adegan Barong yang bermain bersama kera dan bertarung dengan 3 orang cebol. 


Ehm, apa cuma saya yang merasa adegan ini mirip-mirip sama tari Reog, ya? Saya jadi kepo, jangan-jangan ada pertalian yang erat antara tari Barong dan Tari Reog.

Babak pertama tari Barong adalah munculnya dua penari sebagai simbol pengikut Rangda yang sedang mencari-cari pengikut Dewi Kunti. Mata saya tak bisa lepas dari  gerakan-gerakan penari Bali dengan gesture khasnya, siku diangkat 90 derajat sambil matanya melotot jelalatan. Saya yang duduk di bangku paling depan sampe berasa sungkan sendiri karena dipelototin sama penarinya. Hahahahahaha... Di rumah saya mencoba lirak lirik sendiri kayak penari bali, eh pusing, bok. *kurang kerjaan.


Babak Kedua dan Ketiga ini, ehm saya agak bingung adegannya bagaimana sih. Tapi kurang lebih  mengisahkan kalo kedua pengikut Rangda ini akhirnya berhasil berjumpa dengan pengikut dewi Kunti. Salah satu dari pengikut Dewi Kunti kerasukan Rangda dan menjadi jahat. *nggak ada adegan penggelepar-gelepar kayak orang jaman sekarang kerasukan saiton sih. Ih amit amit getok-getok meja. Mereka pergi ke kerajaan untuk menjumpai Dewi Kunti dan patihnya.

Adegan Dewi Kunti yang sedang galau. Beliau sebenernya nggak tega membuang putranya sendiri, Sahadewa, ke hutan. Namun Patih terus menghasut Dewi Kunti untuk ngebuang Sahadewa. Well, sebenernya patih ini nggak jahat, sih. Cuma karena dia juga ikutan dirasuki Rangda, jadi ya gitu, deh. 

Dewi Kunti yang ikutan kerasukan (wolah, kerasukan juga dia) tiba-tiba marah dan berniat mengorbankan anaknya, serta memerintahkan kepada patihnya untuk membuang Sahadewa.


Adegan Sahadewa diiket di depan istana Rangda. Kasian, ya Sahadewanya ditabokin sama patih.

Duh, saya ngarep tokoh Sahadewa ini diperankan oleh penari ganteng dengan badan kekar kayak Shaheer Syeikh. Tapi ternyata yang meranin malah perempuan. Hihihihi.... Mungkin beliau penari senior di grup tari itu, ya? Jadi dapet peran utama. 

Babak Keempat menceritakan Dewa Siwa turun ke bumi dan membantu Sahadewa dengan memberikan keabadian.

Rangda yang datang hendak membunuh Sadewa dibuat kaget, terkejut, shock, emejing lebay, gitu lah.... karena ia  tidak berhasil melukai Sahadewa. Rangda kemudian menyerah, minta diselamatkan dan diampuni agar bisa masuk sorga, permintaan tersebut dipenuhi oleh Sahadewa.

Babak kelima menceritakan Kalika yang menghadap Sahadewa. Ceritanya Kalika ini pengikut Rangda dan kepengen ikutan masuk surga juga.  Namun Sahadewa menolak permohonan Kalika. Karena merasa kecewa, Kalika menyerang Sahadewa. Dalam perkelahian itu, Kalika berubah menjadi babi hutan.

Sahadewa berhasil mengalahkan Kalika yang berwujud babi hutan. Ya iya lah, orang Rangda aja kalah sama Sahadewa, Mana mungkin pengikutnya bisa menang. Aih.....

Rupanya Kalika ini pantang menyerah. Ia berubah lagi menjadi burung dan kembali menantang Sahadewa. Hasilnya? Tetep kalah, sist.

Adegan klimaks tari Barong adalah pada pertempuran antara Barong dan Rangda. Lha, bukannya Rangda udah naik ke surga ya tadi? Hooh, ini Rangda versi Kalika. Rambutnya coklat. Rangda yang udah naik ke surga pan rambutnya putih.*scroll lagi ke atas, deh. Putih, khan? Putih, khan?

Tuh, khan. Rambutnya coklat. Dalam hati saya membatin, bagus dan lebat ya rambutnya, nggak kayak rambut saya yang dikiiiit dan tipis banget ini. Hiks....

Jadi, Kalika ini masih masih ngotot aja mau ngalahin SahadewaGimana ceritanya saya nggak tau, pokoknya akhirnya Kalika berubah menjadi Rangda yang lebih gahar dan lebih sakti daripada Rangda berambut putih. Sampe-sampe Sahadewa sendiri nggak bisa mengalahkan Kalika. Untuk mengimbangi kekuatan Kalika, Sahadewa berubah wujud menjadi Barong. 

Dalam pertempuran Rangda dan Barong ini, keduanya sama kuat, tidak ada satu pihak yang menang ataupun kalah. Udah deh, gitu aja ceritanya. gantung banget. Hiaaaaaa..... Nggak kayak drama korea yang ceritanya selalu happy ending, ya? Tapi masih lebih mending dibanding sinetron Indonesia yang ceritanya nggak pernah tamat, tiba-tiba aja berhenti tayang kalo ratingnya udah jeblok. *mulai nglantur. 

Adegan ini maksudnya hendak menyampaikan kalau sampai saat ini kebajikan terus bertempur melawan kebathilan. Oh ya ya... bener juga, sih ya. Memilih menjadi pengikut Barong atau Rangda, pilihan dan konsekuensinya ada di tangan Anda sendiri. Hm.... interesting, right? 

Pertunjukan tari Barong ditutup dengan tari keris. Menurut saya, sebenernya ini bukan tarian, ya, tapi tontonan debus yang menggambarkan pemuda-pemuda Bali bersenjatakan keris. Pemuda-pemuda ini ceritanya  menjadi pengikut-pengikut Barong dan terus memerangi Rangda sampai saat ini.

Errr.... Adegan nusuk-nusuk badan sendiri pake keris itu errr.... mungkin maksudnya mereka hendak memerangi 'Rangda' yang bersemayam dalam diri mereka sendiri? Auk.... Pokoknya medeni.

The end. Tamat. 

Pertunjukan berlangsung selama kurang lebih satu jam. Tapi saya berasa cuma bentaran doang. Soalnya pertunjukannya bagus banget. Saya serasa dibawa masuk ke dalam alur cerita. Apalagi ending ceritanya gantung, membuat hati terasa kosong dan kepengen terus duduk merenung menatap panggung, mencoba memproyeksikan ending menurut imajinasi saya sendiri. Kalo nggak ditarik-tarik sama Oni, kayaknya saya ogah berdiri dari bangku. Hihihihi....

Serius, bagus banget!!!!! 

4 Januari 2017

JALAN-JALAN: When in Bali

Bali. Destinasi favorit para turis, baik lokal maupun internasional. Baik jomblo maupun berpasangan. Baik backpacker maupun pelancong tajir. Baik yang mau menjauh dari kejenuhan sejenak maupun yang kepengen rame-ramean bareng temen untuk celebrate something. Pokoknya Bali, lah. 

Pulau Bali memang menjadi salah satu tempat wisata budaya asli terbaik di Indonesia. Sampai-sampai banyak banget orang asing yang nggak kenal sama  Indonesia tapi tau sama Bali. Ish, gimandose?! Padahal masih banyak jujukan liburan di Indonesia yang nggak kalah seru dibandingkan Bali, ya khan?

Tapi memang harus saya akui, cuma Bali yang menyajikan perpaduan lengkap antara penduduk lokal yang ramah dan wisata alam yang indah. Budaya Bali masih kental dan terjaga dengan baik walaupun banyak pendatang yang keluar masuk ke Bali. Fasilitas wisata dipelihara dan dikembangkan dengan baik untuk memanjakan para turis. Jadi nggak heran kalo sampe saat ini Bali masih menjadi tujuan wisata wajib bagi para turis. Saya dan Oni, kalo nggak karena alasan yang maha penting, sepertinya bakal memilih terus tinggal di Bali dan ogah balik ke Malang. 

Dalam postingan kali ini, saya akan membagikan sedikit cerita kami ketika jalan-jalan di Bali

Biasanya kami berdua jalan-jalan di area Bali Selatan, di sekitaran Denpasar saja. 
Karena cuma berdua, berasa rugi gitu kalo nyewa mobil, jadi seringnya pergi-pergi naik motor aja. *emak-emak pelit. 


TARI BARONG
Selain tari kecak, tari Barong adalah pertunjukan paling hits di kalangan para turis. Konon, tari Barong terbaik hanya dipentaskan di Batubulan, Gianyar. Jadilah kami berdua menyempatkan jalan-jalan ke Gianyar demi nonton tari Barong. 

Kami tiba di tempat pertunjukan jam 09.00, setengah jam lebih cepat dari jadwal pertunjukan. Karena masih belum banyak pengunjung yang datang, kami bisa memilih tempat duduk paling depan, yay! Tapi belakangan saya agak nyesel, sih. Pertunjukan memang terlihat jelas dan bagus dari bangku paling depan, tapi foto-foto yang saya ambil jadi kurang cakep karena pandangan mata sejajar dengan lantai panggung. Kalo kepengen dapet angle foto yang bagus kita harus berdiri. Khan sungkan kalo dikit-dikit berdiri dan menutupi pandangan penonton yang duduk di belakang kita.

Oh iya, tari Barong sendiri sebenernya bukan murni pertunjukan tarian, melainkan drama musikal. Dimana dialog, tarian, dan nyanyian digabungkan sehingga membangun sebuah cerita. Latar belakang cerita diambil dari kisah Mahabaratha. Sedangkan tokoh sentral dalam tarian ini adalah kebajikan yang digambarkan dalam sosok mitologi Barong dan kebatilan yang diwakili oleh sosok Rangda. Eh ciyeeee, tau banget ya gue? Iya, karena sebelumnya saya udah dapet info kalo tari Barong ini bakal disajikan dalam bahasa Bali, jadi saya googling-googling dikit tentang sinopsi cerita tari Barong. Biar waktu nonton ngerti dikit-dikit jalan ceritanya.   


Setelah pertunjukan, teman-temin juga bisa berfoto dengan para penari-penari Barong yang masih berkostum lengkap. Nggak rugi lah nonton tari Barong. Selain kita disuguhi pertunjukan amazing yang tiada duanya di manapun, ada nilai filosofis dan nilai moral yang disampaikan lewat tarian ini. Cocok kok kalo teman-temin mengajak krucils nonton Tari Barong. Asal jangan lupa ngasih penjelasan ke anak ketika adegan debus di bagian akhir pertunjukan. Itu, adegan nusuk-nusuk badan pake keris. Huhuw... serem.


PURA GOA GAJAH
Selepas nonton tari Barong, kami menuju Goa Gajah yang letaknya juga di Gianyar. 

Saya kira saya bakal ketemu sama beberapa ekor gajah. Ternyata nggak ada seekor gajahpun di sana. Hihihihi.... katanya pura ini dinamakan Goa Gajah karena di kompleks pura tersebut terdapat sebuah goa yang gerbangnya dihiasi ukiran besar menyerupai gajah. 

Can you spot the 'gajah'?
Pura Goa Gajah ini terbuka untuk umum, kok. Hanya saja, perempuan yang mengenakan bawahan pendek diwajibkan memakai sarung untuk menjaga kesopanan di tempat ibadah.   Saya juga diwajibkan mengenakan sarung soalnya saya pake celana pendek.




PURA ULUWATU
Pura Uluwatu terletak di sebuah tebing yang menjorok ke laut. Pemandangannya, jangan ditanya. Indah luar biasa. Sama seperti di Pura Goa Gajah, pengunjung wanita yang datang ke sana diwajibkan mengenakan sarung. 

Sebenernya kami maen ke sana pas banget bertepatan dengan kegiatan keagamaan umat Hindu. Seru sekali melihat arak-arakan pria-pria Bali berpakaian putih dan wanita-wanita Bali yang menyunggi aneka sesaji. Sayang saya tidak bisa banyak mengabadikannya dalam foto karena takut kamera saya dirampas monyet. 

Iya, di pura Uluwatu banyak monyet berkeliaran. Yang gendut cuma duduk-duduk manis sambil ngliatin pengunjung sih lucu.  Tapi tidak sedikit monyet yang lebih nakal dan agresif. Mereka nggak segan merampas benda-benda bawaan pengunjung yang menarik perhatian mereka. Entah itu makanan, perhiasan, ataupun kamera. Walaupun kamera saya ini nggak mahal, tapi khan sayang kalo diambil monyet. 



Demen banget khan berlama-lama berdiri di sini. Ah, suatu hari, kalo ada budget lebih, saya kepengen nginep di villa/hotel yang berlokasi di Uluwatu. Seharian penuh nggak apa-apa deh diem-diem nggak kemana-mana. Asal bisa menikmati pemandangan indah ini.


GARUDA WISNU KENCANA CULTURAL PARK (GWK)
Duh, ini patung. Belum jadi aja sudah keliatan kece, apalagi kalo udah jadi. Kapan ya? Entahlah. Kayaknya pembangunan patung  GWK ini nggak dilanjutkan lagi. Terhenti sampai pembuatan badan Dewa Wisnu sebatas pinggang dan kepala burung Garuda.

Biar keliatan kayak turis beneran, si Oni saya paksa pake T-shirt Beer Bintang. Hahahahaha.... Kenapa, sih ya? Di Bali banyak bule yang demen pake kaos bergambar logo Beer Bintang. Norak, ah. Makanya Oni setengah manyun diminta bininya pake kaos begituan. Huahahahhaha.... *ketawa jahat.

Komples GWK ini luas banget, bok. Isinya nggak cuma unfinished patung GWK. Ada amphitheatre, exhibition hall, Indraloka Garden, Lotus Pond, Tirta Agung, Wisnu Plaza, dan beberapa resto. Tak lupa sebuah toko souvenir yang biasanya paling dicari oleh pelancong emak-emak kayak saya ini. Lumayan lengkap, lah. Banyak spot kece yang bisa dipake untuk berfoto-foto ria. Misalnya deretan bukit kapur di bawah ini. 


Sebenernya, di spot-spot tertentu di GWK digelar street theatre dan dance perfomance. Tapi nggak sepanjang hari, ada jadwalnya. Saya dan Oni kurang beruntung, ketika kami datang, pertunjukan tari Barong (nggak lengkap kayak di Batubulan, cuma Barong nari-nari sambil keliling kompleks) baru saja berakhir. Kita mau foto-foto bareng, barongnya udah kabur aja. Mungkin Barongnya lagi kelaperan, pengen buru-buru makan siang. Kita datengnya pas jam 12, sih. Hihihihi....  

Sutra, lah. Akhirnya kita foto bareng Boneka Barong yang didisplay aja. Saya nggak berani lama-lama deketan sama boneka Barong. Takut, Kaaaaak! 


GUNUNG & DANAU BATUR
Katanya sih, Danau Batur itu luar biasa indah. Iya saya percaya, diliat dari jauh aja udah cakep banget. Apalagi kalo dari deket. Saya sendiri belum pernah maen ke sana. Saya dan Oni cuma sempat makan di
restoran Grand Puncak Sari Kintamani 2. 

Makanan disajikan prasmanan. Menu dan rasa yang disajikan standard-standard saja, yaitu salad, sup jagung, sup tomat dan roti. Ada juga nasi putih, capcay, mie goreng, ayam goreng, dan sate lilit. Tapi kalo menikmati makanan standard itu dengan bonus pemandangan view gunung dan Danau Batur yang indah, oh lala...
Pst, restoran ini hanya menyajikan menu halal, lho. Jadi bebas was-was lah teman-temin muslim yang berkunjung ke sini.


Hia, panjang banget ya postingan ini. Nggak berasa saya udah ngetik seabrek-abrek. Padahal masih banyak hal yang kepengen saya ceritain, lho.  Selain yang saya sebutkan di atas, masih banyak tempat wisata yang bisa teman-temin kunjungi. Tergantung selera dan budget aja. Pusing ya nentuin mau ke mana aja? Hahahahaha... iya. Akika juga suka mumet kalo ada temen yang minta saran rute dan tujuan wisata di Bali. Banyak banget soalnya.

Kalo teman-temin bepergian bareng keluarga dan the krucils, Kayaknya memang lebih nyaman kalo teman-temin menginap di hotel. Rekomendasi booking hotel murah di indonesia dengan promosi menarik cuss intip di http://hoterip.com/

Males rempong bikin itinerary dan kepengen memanfaatkan liburan secara maksimal? Pake jasa travel agent, dong. Kita tinggal bilang ke travel agentnya, mau wisata yang kayak apa. Wisata air? Wisata belanja? Wisata kuliner? Nanti travel agentnya bakal ngaturin paket wisata yang pas dengan budget kita dan diusahain rutenya nggak loncat-loncat, biar nggak terlalu banyak buang waktu di jalan.

Saran saya, pilihlah travel agent yang memiliki kredibilitas baik dan direkomendasikan oleh banyak orang. Salah satu travel agent handal yang dapat teman-temin pertimbangkan adalah HIS Travel Indonesia. HIS Travel Indonesia sudah memiliki branch offices yang tersebar di 9 kota di Indonesia. Pilihan paket travel yang disajikan oleh HIS Travel Indonesia juga tak hanya sekedar paket travel ke Bali, tetapi juga paket travel ke kota-kota lain di Indonesia dan mancanegara.

http://his-travel.co.id/
So? How? How? How? Apakah teman-temin merencakana acara liburan keluarga di Indonesia. Mumpung tahun 2017 ini banyak HARPITPETNAS, lho. Hihihihi.....

Baca juga: NGOBROL: Tahun 2017, Tahun Panen HARPIT/PETNAS



Tulisan ini diikutsertakan dalam:
HIS Domestic Holiday - Blogger Competition

2 Januari 2017

NGOBROL: Tahun 2017, Tahun Panen HARPIT/PETNAS

Yuhuuuu.... selamat tahun baru buat teman-temin blogger yang masih setia maen ke blog saya. Walaupun yang ninggalin komen makin sedikit, (please komen, dooong. Kalian nggak kasian sama fakir komen kayak akoooh?) saya seneng karena akhir-akhir ini traffic blog ini mulai merangkak naik.

Ngemeng-ngemeng, saya antusias banget, lho menjalani tahun 2017 ini.  Karena eh karena, banyak hari libur nasional di  tahun 2017 yang 'posisi'nya kejepit ataupun kepepet. Sasaran empuk banget buat planning-planning berlibur ke luar kota. Secara saya males banget kalo pergi berliburnya waktu Natal atau Lebaran. Rame banget, cuy. Yang ada bukannya kita menikmati obyek wisata, tapi malah ngabisin waktu buat bermacet-macet ria dan ngantri di mana-mana. Udah gitu tempat berliburnya pasti nggak nyaman karena harus uwel-uwelan bersama banyak pengunjung lain.

Coba mari kita amati hari libur nasional tahun 2017:   


Ada 5 HarPetNas alias hari kepepet Nasional. Karena hari besarnya bersebelahan dengan weekend, sehingga kita bisa planning berlibur selama 3 hari. Atau kalo mau, sekalian nambah 1 hari cuti biar bisa extend jadi 4 hari:
28 Januari (Imlek) : Sabtu - eh, ini bukan harpetnas, denk ya? Sabtu khan emang libur. Hahahahahaha....
14 April (Wafat Isa Almasih) : Jumat
24 April (Isra Mi'raj) : Senin
1 Mei (hari buruh nasional) : Senin
 1 September (Idul Adha) : Jumat

Ada 5 HarPitNas alias Hari kejepit Nasional. Karena Hari besarnya jatuh pada hari Selasa atau Kamis. Bikin tangan gatel pengen nulis form pengajuan cuti 1 hari biar bisa dapet 4 hari libur:
28 Maret (Nyepi) : Selasa
11 Mei (Waisak) : Kamis
25 Mei (Kenaikan Isa Almasih) : Kamis
17 Agustus (Kemerdekaan) : Kamis
21 September (Tahun baru Hijriyah) : Kamis

Tuh, khan. Banyaaak! Total ada 10 HARPIT/PETNAS. Bisa dibilang hampir tiap bulan kita bisa jalan-jalan ke luar kota karena punya hari libur yang masing-masing sebanyak 4 hari. Asal ada budgetnya aja, sih. Kenyataan memang pahit, Kakak.

Gimana? Teman-temin sudah punya rencana untuk memanfaatkan banyaknya HARPIT/PETNAS di tahun 2017? Cerita dong di komen.

Kalo saya, sih pengennya maen ke Bali di tanggal 25-29 Maret. Saya kepengen nonton festival ogoh-ogoh lagi. Tapi entahlah, C demen nggak ya kalo diajak nonton ogoh-ogoh yang serem-serem itu?

Intip ceritanya di sini: Late Post: Nonton Festival Ogoh-Ogoh

27 Desember 2016

NGOBROL: #Resolusiku2017


Hula haloooo! 

Apakah teman temin sudah membuat resolusi tahun 2017?  Saya sudah! 

Sebenernya, sudah beberapa tahun terakhir ini saya nggak pernah membuat resolusi tahun baru. Alasannya karena biasanya resolusi saya nggak tercapai. Resolusinya terlalu lebay, trus sayanya sendiri kurang nggetu, kurang doa, kurang usaha. Bikin resolusi cuma buat ngikut-ngikut trend. Hahaha... *bangga banget.

Selain itu, saya sebenernya agak-agak gimana gitu kalo disuruh share tentang resolusi tahun baru. Kalo resolusinya muluk-muluk, ntar katanya omdo. Kalo resolusinya mengandung nominal rupiah, ntar dikiranya pamer. Takutnya udah koar-koar sana sini, eh gak taunya nggak bisa melaksanakan. Khan malu. Mau ditaruh di mana wajah adek, Bang? Di manaaaaaaah?????!!!!!

Tapi tahun 2017 ini saya memutuskan menulis resolusi lagi. Dan beberapa poin resolusi akan saya beberkan di postingan ini. Nggak semua sih, soalnya ada beberapa poin terlalu pribadi untuk diungkap ke publik *kedip-kedip manjyah. Soalnya setelah saya pikir-pikir, ada benarnya juga kata Mbak Hidayah, dengan menuliskan resolusi tahun 2017, siapa tahun lebih banyak orang yang mendoakan dan bisa terwujud. Amin...amin...amiiin.

Wait, sebenernya resolusi itu apa ya? Saya sudah bertanya-tanya ke beberapa teman dan BW ke beberap blog yang menuliskan resolusi tahun 2017. Ada yang resolusinya lebih ke arah perbaikan diri dan pola hidup. Misalnya kepengen diet, kepengen bisa rutin puasa senin kamis, kepengen bisa salat 5 waktu, kepengen berhenti ngrokok, kepengen lebih sabar menghadapi anak, kepengen bisa ngadain charity di panti jompo, dll Ada juga yang jawabannya: pengen foto di depan menara Eiffel, beli rumah, beli mobil, jalan-jalan ke Thailand, dll. Intinya resolusi tipe kedua ini lebih ke target mengumpulkan dana untuk mewujudkannya.

Well, yuk kita intip definisi resolusi menurut KBBI: 

resolusi/re·so·lu·si/ /rĂ©solusi/ n putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal: rapat akhirnya mengeluarkan suatu -- yang akan diajukan kepada pemerintah

Kalo boleh saya bilang, berarti resolusi tahun baru itu artinya kebulatan tekad kita untuk memenuhi permintaan/tuntutan (yang kita buat sendiri) di tahun yang baru. Lak gitu, to ya? Jadi sah-sah saja mau bikin resolusi yang sifatnya perbaikan sikap dan gaya hidup ataupun target yang lebih terukur nominal. 
 
Kalo saya, kayaknya sebagian besar  resolusi 2017-nya lebih ke tipe yang pertama. Ini beberapa resolusi tahun 2017 saya. Tentunya karena dikoar-koarin di blog, jadi masih ada kaitannya dengan aktifitas blogging saya.

60 Halaman Busy Book
Ada yang tau busy book itu apa? Coba masukin keyword 'busy book' atau 'quiet book' di google. Bakal muncul tuh segambreng macem busy book.  Nah iya, saya mau bikin begituan sebanyak 60 halaman. Bukan 60 halaman dijadiin 1 buku, tapi 60 varian halaman busy book. 

Jadi begini awalnya, saya akhir-akhir ini merasa kalo saya sudah terlalu banyak menghabiskan waktu bersama gadget. Bisa dibilang kecanduan. Kalo gadget saya nggak ada di dekat saya, saya berasa insecure dan putus hubungan dengan dunia. *lebay.  

Makanya saya nyari-nyari kegiatan apa yah yang bisa dilakukan di rumah dan bisa saya lakukan untuk mengalihkan keedanan saya pada gadget? Dan CRING! Ketika lagi maen instagram, saya melihat teman saya posting halaman-halaman busy book yang dia buat. Eh rasanya kok seru yah bikin prakarya lucu begitu. Udah gitu berguna banget buat anak. Jadilah saya mau ikut-ikutan temen saya itu bikin-bikin halaman busy book. 
Saya sudah membayangkan kalo busy booknya udah jadi, harusnya bisa lah dipake buat nenangin C yang suka explore dan agak 'liar' kalo lagi di luar rumah. Selama ini, saya dan Oni kadang suka kewalahan dan nggak menikmati acara yang kami hadiri karena kami sudah kewalahan lari-larian duluan nguber C. Huft.....
   
Nanti ya, akan saya ceritakan lebih detail di postingan terpisah tentang perkembangan dan proses proyek busy book saya. Hehehe....

3 Post 1 Lomba
Apaan, tuh? Saya menargetkan blog saya ini minimal harus menerbitkan 3 postingan dan mengikuti 1 lomba blog setiap bulan. Jadi total post yang harus saya bikin adalah 4 tulisan.

Semoga bisa! Malu lho saya sama blogger-blogger yang baru nulis blog 1 atau 2 tahun, tapi sudah bisa mengelolah dan mengembangkan blognya dengan baik. Bahkan sampai bisa mendapatkan penghasilan dari blog. Lha saya? Sudah 11 tahun ngeblog tapi blog nya juga gini-gini aja. Bahkan beberapa waktu yang lalu, ada blogger yang ninggalin komen di blog saya seperti ini, "Semangat menulis ya, Mbak. Saya senang karena semakin banyak bermunculan blogger-blogger baru seperti Anda." Ketika saya intip blognya, ya elah, usia blog dia baru 5 tahun, Cyn. Tapi blognya kece badai dan trafficnya joss. Malu akuh! Maluuuuuu!
 
Stop Jadi Tukang Kritik

Yup, harus saya akui kalo saya ini orangnya agak-agak sotoy dan suka ngritik. Kombinasi yang sempurna, khan. Jadi saya suka ngritik-ngritik padahal saya sendiri sotoy alias sebenernya nggak punya banyak pengetahuan juga tentang hal yang saya kritik itu. Hahahahahha.....

Tapi akhir-akhir ini saya sudah banyak mengurangi, kok. Karena saya sadar, kritik itu nggak ada yang sifatnya membangun. Kalau memang mau membantu dan membangun seseorang, sebaiknya jangan memberi kritik, tapi berilah saran. Kritik hanya akan memancing sikap defensif, tapi saran akan membuka hati orang lain. Ea ea eaaaa..... 

Semoga saya nggak meninggalkan komen yang bernada mengkritik ketika blogwalking ke blog teman-temin. Saya akan berusaha  



 

23 Desember 2016

Yuk Pakai Produk Asli Indonesia

Kalo teman-temin mengintip make up pouch saya, sebagian besar barang yang mejeng di sana adalah produk-produk buatan Indonesia. Ada sih beberapa brand luar, tapi jumlahnya nggak banyak. Yes, untuk urusan blanja-blanji kebutuhan pribadi, termasuk make up dan skin care, saya termasuk orang yang lebih suka pake produk buatan dalam negri. Kenapa begitu? Jujur, alasan utamanya adalah karena harganya relatif lebih murah dibanding produk impor. 

Apalagi sejak punya anak, mau beli barang yang harganya 'mewah' dikit suka pikir-pikir dulu. Bukannya nggak mampu, (tapi nggak rela dan ngeluarin duitnya kudu setengah ngeden, haha..) tapi gimana sih ya pemikiran emak-emak. 

Misal kepengen  lipstick mihil, nih. Kalo dulu, saya nggak bakalan banyak pikir, langsung aja beli. Tapi kalo sekarang, saya pasti itung-itung dan bingung-bingung dulu (yang biasanya karena kebanyakan itung dan bingung, akhirnya gak jadi beli. Eaaaakh..... )Harga lipstick segitu bisa dapet pampersnya Bree buat berapa minggu, ya? Duit segitu udah bisa dipake bayar 1 bulan uang sekolahnya C, nih. Masih dapet kembalian pula. Gimana kalo saya udah terlanjur beli mahal-mahal tapi nggak cocok? Belum lagi kalo produknya nggak habis-habis sampe tanggal expired, khan rugi kitanya udah keluar duit. Helah, mau beli lipstick aja mikirnya udah kayak mikirin urusan negara, bok. Ya maklum, lah, saya memang emak-emak yang kadang pemikirannya ruwet. Hahahaha....

Oh ya, selain itu, ini alasan saya memilih skincare dan kosmetik buatan dalam negri:


Lebih cocok dipake orang Indonesia 
Namanya juga produk asli 100% Indonesia, otomatis pasti disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi orang Indonesia. Baik dari segi tekstur, warna, dan sebagainya. Jadi kemungkinan besar cocok kita pake.

Beberapa tahun yang lalu, saudara sepupu saya yang baru saja berpergian dari Eropa datang membawa oleh-oleh body lotion. Dia bilang body lotion ini produk bagus dan saya tahu harganya nggak murah. Tapi begitu saya pake, kulit saya berasa berminyak banget. Jadi lengket-lengket nggak nyaman, apalagi kalo hawa lagi panas dan tubuh saya lagi kemringet.

Akhirnya body lotion mahal itu dengan berat hati saya buang karena mama dan saudara-saudara saya yang lain juga nggak ada yang mau pake. Alasannya sama, kulit jadi berasa kayak diblonyoi minyak goreng. Hahahahahaha..... Ya mungkin karena body lotion ini dibuat untuk bule yang kulitnya suka kering karena hawa dingin di Eropa sonoh. Lha kalo dipake di Indonesia ya kurang cocok, lah yaw.

Kualitas nggak kalah dibanding produk impor
Yes, produk buatan Indonesia sekarang sudah banyak yang bagus kualitasnya. Bahkan nggak sedikit yang kualitasnya melebihi produk impor. Padahal harganya jauh lebih murah.

Hm... kalo dipikir-pikir, sebenernya bukan lebih murah, ya. Produk impor pasti harganya juga murah kalo dijual di negara asalnya sana. Cuma karena dijual di Indonesia, jadi kena ongkos kirim, pajak impor, dan sebagainya, jatohnya jadi mahal. It means, sebenernya harga mahal yang kita bayar itu sebagian besar bukan untuk membayar nilai produk, tapi lebih ke biaya blukutuk-blukutuknya itu.

Walaupun saya bukan produksen kosmetik di Indonesia (yakaliiik. hahahahaha...) saya bangga banget lho kalau ada saudara yang dari luar negeri beli kosmetik Indonesia untuk dijadikan oleh-oleh. Kata tante saya yang tinggal di Hongkong, temen-temennya pada ketagihan waktu dicobain kosmetik buatan Indonesia. End up akhirnya mereka suka nitip dibeliin setiap kali tante mudik ke Indonesia. Di sana ada sih toko yang menjual barang Indonesia, tapi jumlahnya nggak banyak, dan harganya lebih mahal.

Ternyata orang asing juga gemar pake produk buatan Indonesia. Masa kita yang orang Indonesia sendiri malah lebih demen pake produk impor. Kepriben, to?

Nyarinya gampang 
Kalo kita udah cocok dan rutin pake suatu produk, khan kudu repeat order, tuh. Kalo pakai produk lokal, ya tinggal ngesot ke toko kosmetik depan gang. Nggak perlu repot nitip ke sodara yang mau pergi ke luar negri, khan.  Yang dititipin juga belum tentu seneng. Orang mau jalan-jalan kok disuruh hunting barang titipan kita, ya to.

Sebagaimana penantian cinta adalah hal yang paling menyiksa (halah), saya juga males kalo disuruh beli produk yang sistemnya pake PO.  Nunggunya kelamaan dan keburu lupa, Cyn. Wes lah, mending beli produk dalam negri aja. Kalaupun mau beli secara online, biasanya barangnya pasti ready stock. Paling juga makan waktu 1-3 hari nunggu barang kita tiba di tangan.


Produk lokal gitu juga dijual online? Iya dong, ah. Di jaman serba digital begini, semua perusahaan dalam negeri berlomba-lomba memanjakan pelanggan dengan aneka bonus dan kemudahan belanja. Pastinya biar nggak kalah saing dengan produk impor. Salah satunya dengan cara menyediakan fitur order pada website resmi mereka atau bekerja sama dengan marketplace-marketplace besar yang ada di Indonesia.

Marketplace favorit saya, yaitu blibli.com juga ikut mendukung dan menjual produk asli buatan Indonesia.  Bahkan menurut saya, blibli.com lumayan concern dengan produk buatan Indonesia. Coba deh intip websitenya.

Di homepage, kalo kita pencet menu 'KATEGORI BELANJA', di bagian paling bawah kita bakal nemuin kategori 'GALERI INDONESIA'. Pilih, deh. Akan muncul seabrek-abrek produk-produk yang merupakan  100% Produk Kreatif Asli Indonesia. Nggak hanya produk skincare & make up, tapi juga produk kuliner, home deco, pakaian, bahkan tiket dan travel lokal Indonesia. Lengkap ya?

Ngemeng-ngemeng,  blibli.com tidak membebankan ongkos kirim kepada pembeli lho. Kecuali untuk pembelian barang tertentu, televisi, perlengkapan bayi, dan makanan. Makanya saya demen banget blanja blanji di sunu.

Back to the topic, karena saya demennya kepo-kepo produk kosmetik, jadi saya langsung memilih sub kategori 'GALERI PRODUK KECANTIKAN'

Jreng! Di halaman pertama Galeri Produk Kecantikan langsung mejeng Wardah Intense Matte Lipstick no.11 yang memang sudah lama saya incer. Harganya sama dengan harga resmi counter Wardah. Ya ampun! Gimana tangan saya gak gatel pengen pencet tombol beli.

Syenang...syenang... hatikuh syenang! Untuk pembelian lipstick Wardah yang saya inginkan bayarnya bisa COD alias waktu barang dianter ke rumah. Trus kalo kita mau, produk yang kita order itu bisa di drop di 7-eleven terdekat. Well, saya nggak pernah pake fasilitas ini, sih, soalnya di Malang masih jarang berdiri 7-Eleven. Teman-temin sudah ada yang pernah mencoba fasilitas ini? Cerita, dong.

*UPDATE:  
Dapet bonus Nescafe Green Coffe, Cyn.
Lipstick pesanan saya tiba Senin, tanggal 26 Desember. Termasuk cukup cepat khan, mengingat saya order barangnya hari Jumat, tanggal 23 Desember. Selain terkena jeda weekend, tanggal 26 Desember bukannya hari cuti bersama, ya? Perkiraan saya, Blibli.com baru akan mengirim barang saya tanggal 27 Desember.
 
Kualitas lipsticknya,seperti yang sudah saya duga. Enak banget dipake. Terasa ringan di bibir, dan mudah diaplikasikan. Cukup satu kali oles warnanya udah keluar dan merata di bibir saya. Walaupun nggak termasuk warna nude, tapi  Wardah Intense Matte Lipstick no.11 ini terlihat natural di bibir saya. Cocok dipake untuk acara santai maupun acara formal. Oke dipake buat jemput anak sekolah ataupun ke pesta. Suka, deh. 

source: blibli.com
Next time, saya mau beli batik sarimbit di blibli.com, ah. Sudah lama saya kepengen pake baju couple bareng si Oni.  Biar keliatan keren dikit kalo pergi ke kondangan. Hihihihi. Eh, kalo sarimbitnya merah dan berkerah shanghai kayak gini, kayaknya cucok nih dipake waktu Imlek, yes?

22 Desember 2016

RESEP GAMPIL: Seblak Sosis ala Mbok Na



Teman-temin doyan makan seblak? Saya jugaaaaa! Saya gagal move on (pake banget) sejak pertama kali mencoba makanan khas Bandung ini. Memang enak dan unik sih rasanya. Saya rasa, harusnya penggemar kue tiaw demen ya makan seblak. Secara teksturnya mirip (walaupun bumbu dan bentuknya beda). 

Seblak is an Indonesian savoury and spicy dish made of wet krupuk cooked with protein sources in spicy sauce. Seblak is a specialty of Bandung city, West Java, Indonesia. Seblak can be acquired from restaurants, warungs or gerobak street vendors. - Mbak Wikipedia

Awalnya saya beli seblak di abang-abang penjual seblak gerobak deket rumah mertua saya. Tapi berhubung abang seblak jualannya  siang aja, sementara saya kadang ngidam seblaknya malem, jadilah saya browsing-browsing resep seblak di internet dan saya modif-modif dikit biar sesuai dengan salero bundo Felyina. Hihihi....

Yuk cuss dicobi aja resepnya. Gampil banget bikinnya.

BAHAN:
75 gram kerupuk bawang
1 buah sosis sapi potong tipis-tipis aja
1 butir telur kocok
1 sdm SAMBEL BAWANG MBOKNA atau sesuai selera
1/2 sdt bawang cincang,
seiris kencur
Sejumput merica & garam
1 sdm minyak ikan 
150 ml kaldu

CARA:
rebus kerupuk bawang hingga empuk, tiriskan, rendam dalam air dingin

Tumis bawang putih hingga wangi, masukkan telur kocok. Aduk-aduk sampai menjadi telur orak arik

Masukkan potongan sosis dan SAMBEL MBOKNA, aduk

Masukkan kaldu plus kencur, setelah air kaldu mendidih, masukkan kerupuk rebus. Tambahkan merica dan sedikit garam

Rebus sampai kuah hampir habis *untuk 1 porsi

#resepmbokna #resepgampang #resepseblak #yum!

Oiya, sambel Bawang Mbok Na bisa teman-temin dapetin dengan cara memesan di onlineshop saya. *promo terselubung banget, ya. Hahahahahahaha.... Tapi teman-temin bisa kok mengganti sambel Mbok Na dengan rajangan cabe.  Kadang saya juga masukin bawang bombay cincang dan gochujang di adonan bumbu seblak. Seblak ala korea gitu ceritanya. Wenuk juga!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...