1 Desember 2016

TOPIK PENTING: Kisah Keluarga Ayam

Kayaknya saya sudah bolak balik saya cerita kalo waktu kami tinggal di Bali dulu kami stay di sebuah puri yang dialihfungsikan oleh pemiliknya menjadi semi apartment, ya? Ya ndak apa lah, saya cerita lagi. Biar pembaca yang baru pertama kali dolan ke blog ini tahu kalo saya pernah lho tinggal di Bali. *info maha penting pake banget. 

Alkisah, di puri tersebut ada beberapa jenis kewan peliharaan. Ada ayam, beberapa ekor anjing pudel, ikan mas dan ikan koki, juga burung. Ayam dan anjing-anjing demen banget bertandang ke unit saya. Karena selain pintu saya selalu terbuka lebar dari pagi sampe sore, saya juga paling demen kasih mereka makan. Kalo ikan saya ogah ngasih makan, soalnya lokasi kolamnya agak jauh dari unit saya. Sedangkan burung, saya males deket-deket kandang burung karena bauk.

Anjing-anjing juga dikandang, sih. Tapi mereka dilepas di taman setiap siang. Jadi saya ngasih makan dan maen sama anjingnya siang hari. Sedangkan keluarga ayam (Bapak Ayam, Ibu Ayam dan keempat putra putri mereka yang imut nan lucu) dibiarkan bebas berkeliaaran di taman sepanjang hari. Biasanya mereka sekeluarga muncul di teras unit saya pagi-pagi setelah Oni berangkat kerja. 

Eh, di foto keliatan mangkok aluminium.  Bukan, itu bukan wadah makan para ayam, tapi buat ngasih makan anjing. Kalo keluarga ayam mah percuma di kasih wadah makan begitu. Yang ada malah berasnya kocar kacir. Mending berasnya langsung dilempar aja ke tanah. Nanti mereka bakal mendekat dan matukin beras yang tercecer di tanah.

Kalau saya lupa ngasih beras, biasanya Bapak Ayam yang judes bakal berkokok-kokok ribut. Kadang dese nyelonong masuk ke ruang tamu nyari-nyari makanan. Kurang ajar betul. Ternyata budaya premanisme juga dikenal oleh ayam, ya. Hahaha.....

Iki lho tampang Bapak Ayam
Cakep ya? Bulu ekornya memburai panjang membuat Bapak Ayam jadi keliatan makin seksi kalo dilihat dari belakang. Ayam jenis apa sih ini? Saya nggak tau karena saya buta dunia perayaman. Harusnya sih jenis ayam hias, ya? 

Kata bli yang jaga puri, setiap ada kelahiran bayi, orang Bali biasanya membeli sepasang ayam untuk dipelihara. Ayam ini nggak boleh disembelih, nggak boleh dijual, pokoknya kudu dipelihara gitu. Nah, Bapak Ayam dan Ibu Ayam ini pun demikian, dibeli ketika Tujung melahirkan anak (emboh anak ke berapa.) Tujung itu aposeh? Tujung itu apa yah, semacam  kata ganti orang untuk menyebut seorang wanita Bali dari kasta ksatria. *correct me if I am wrong.

Ibu Ayam yang anggun.
Awalnya saya menganggap kalo keluarga ayam ini keluarga harmonis. Habis kemana-mana mereka selalu barengan. Bapak Ayam selalu berjalan di dekat Ibu Ayam. Mesra sekali. Relationship goal banget, deh pokoknya. 

Cuma satu hal yang mengganjal pikiran saya. Ibu Ayam ini khan anaknya empat, ya. Kok kadang-kadang (jarang, sih) dese jalan-jalan di taman cuma bareng 3 anak. Dan kalo pas lagi bareng 3 anak ini, biasanya Bapak Ayam nggak keliatan. 'Ah, mungkin Bapak Ayam lagi di rumah jagain anak bungsu," pikir saya waktu itu. Sama sekali tidak terlintas dalam benak saya bahwa Bapak Ayam ini ternyata punya istri lebih dari satu. 

What??? Iya, belakangan saya baru tau, ternyata yang saya liat siang-siang dengan 3 anak itu bukan Ibu Ayam, tetapi istri kedua Bapak Ayam. Jadi ceritanya, Bapak Ayam ini punya 3 ekor istri, Teman-temin. Istri kedua ya yang sering saya liat jalan-jalan bareng tiga anaknya itu. Penampilannya memang mirip dengan Ibu Ayam. Kalo nggak diperhatikan dengan seksama, keduanya nyaris tidak bisa dibedakan. Sedangkan istri ketiga Bapak Ayam berbulu hitam.

Oh Bapak Ayam..... saya speechless banget, lho. Saya jadi sadar, ternyata pasangan yang nampaknya mesra di depan publik, belum tentu rumah tangganya bebas dari kerikil dan batu, ya to.

Namun rupanya, walaupun Bapak Ayam memiliki 3 istri, beliau tetap paling mencintai istri pertamanya, yaitu Ibu Ayam. Buktinya saya nggak pernah melihat Bapak Ayam jalan-jalan mendampingi istri kedua maupun istri ketiga.Itu namanya pilih kasih bukan ya?

Kasihan sekali nasib istri kedua dan istri ketiga Bapak Ayam.  Apalagi istri ketiga Bapak Ayam tinggalnya bukan di dalam puri, tapi di halaman luar puri. Oh, sungguh malang nasibnya. Mungkin si Hitam ini bukan istri, tapi WIL Bapak Ayam. Itulah sebabnya Bapak Ayam nggak berani mengajak si Hitam tinggal di dalam puri. 

Dibalik kemesraan mereka, ternyata hati Bapak Ayam terbagi. Oh, sedih.....


NB: untuk alasan privasi, saya nggak pajang foto istri kedua dan istri ketiga Bapak Ayam, ya.

28 November 2016

TENTANG MAKE UP: Cara Memakai Isolasi Mata

Sudah lama, ya saya nggak berceloteh tentang make up. Iyah, soalnya sekarang saya sudah jarang pake make up dan sudah nggak update ilmu perlenongan. Jada rasanya kurang pantas kalo saya nulis tentang make up. Bukan ahlinya, Cyn.

Tapi karena ada beberapa temen yang suka nanya-nanya gimana cara pake isolasi mata ke saya, jadi dalam postingan kali ini saya memberanikan diri untuk menulis ulang artikel yang pernah saya terbitkan di beauty blog saya. Eh, Fely punya beauty blog? Punya dong, Kakak! Tapi sudah almarhum. Hihihihihihi.....

Kenapa pake isolasi mata? Ada beberapa teman yang sudah lipetan di kelopak mata tapi pengen lipetannya kelihatan lebih dalem. Sedangkan saya, memakai isolasi mata karena saya nggak punya lipetan di kelopak mata. Kalo ada lipetannya, mata berasa lebih cring-cring gituh. 

Trus kenapa nggak operasi aja? Nggak. Saya wegah disuruh operasi-operasian. Selain karena saya tidak merasa bagian tubuh yang itu perlu dikoreksi permanen, saya juga nggak kober kalo disuruh melakukan perawatan pasca operasi. 

Baiklah, tanpa banyak cingcong, cuss disimak cara pake isolasi mata ala Fely berikut inih.

Nggak ada lipetannya. Huhuw.....


Sebelum memakai isolasi mata, pastikan kelopak mata dan jari kita bersih. 


Ambil sepasang isolasi mata dengan pinset atau ujung jari


Lalu tempelin isolasi mata perlahan-lahan,
dimulai dengan merekatkan isolasi mata pada bagian dalam kelopak mata. 
Tekan lembut dengan satu jari, lalu rekatkan seluruh isolasi mata pada kelopak mata. 

 
Tekan-tekan dengan lembut agar isolasi mata menempel sempurna pada kelopak mata


 Setelah isolasi mata menempel dengan sempurna, 
tekan ujung lipatan kelopak mata ke arah atas. 


Jreng! Jadi ada lipetan kelopak matanya. Hore!


Jangan putus asa apabila hasil tempelan isolasi mata tidak sesuai dengan harapan. Pake isolasi mata memang butuh trial dan error. Cara pake isolasi mata tiap orang juga beda-beda, tergantung bentuk kelopak mata masing-masing orang. 

Begini penampakan mata saya kalo pake isolasi matanya ketinggian. 
Keliatan aneh ya. Hihihihi....



Kalau teman temin menginginkan hasil lipetan mata ala-ala anime dengan lipetan kelopak mata yang hanya kelihatan di bagian ujung luar, pasang isolasi mata dengan posisi agak nungging ke luar. Saya juga demen cara pasang isolasi mata model begini. Mata saya jadi keliatan lebih flirty gitu. Ihik.....



Kalau teman-temin mengharapkan hasil lipetan yang merata atau lipetannya lebih besar di bagian dalam, pasang isolasi mata dengan posisi nungging ke dalam. Ish, apa deh istilahnya, ya? Moga-moga teman-temin ngerti maksud penjelasan saya. Hahahahaha....


Gimana? Gampang khan pake isolasi mata? Teman-temin punya cara lain memakai isolasi mata? Yuk share di komen. Akyuh juga kepo, kakaaaaak.

21 November 2016

LOVE: SARA


Akhir-akhir ini kondisi Indonesia agak demam-demam gak enak. Gara-gara ada konflik yang sedikit banyak berbau-bau SARA gitu. Ah, bukankah semboyan negara kita ini adalah Bhineka Tunggal Ika, ya? Lha kok malah ribut masalah SARA. Sedih, ih. Harusnya perbedaan bukan menjadi masalah, tapi justru melengkapi dan memperkaya bangsa Indonesia. Pak Harto bilang, lukisan yang indah tidak akan terbentuk hanya oleh satu warna. Eh, bener khan ya kalimat itu Pak Harto yang bilang? Lupa-lupa inget akyuh.   

Demikian juga dalam sebuah hubungan percintaan, perbedaan biasanya membuat kita dan pasangan jadi saling melengkapi dan sekaligus menjadi bumbu dalam hubungan asmara. Ihir...ihir..... Tapi ada 3 jenis perbedaan yang sifatnya prinsip dan kerapkali menjadi tantangan dalam hubungan cinta, terutama hubungan yang sudah berada di bawah ikatan pernikahan. Yaitu SUKU-ADAT-RAS (satu paket lah itu kira-kira), STATUS EKONOMI dan AGAMA. 

Woooo Fely SARA wooooo. Enggak, dalam postingan ini saya nggak bermaksud menjelek-jelekkan suku dan adat, ras, atau agama tertentu. Beneran enggak. Saya hanya mengajak teman-temin untuk melihat SARA dan kesenjangan ekonomi dalam hubungan pernikahan melalui kacamata netral. Gak pake memihak. 

Kenapa saya bilang ketiga hal itu merupakan tantangan dalam sebuah hubungan pernikahan? Yah, karena dalam pernikahan, ketika dua individul menjadi satu, urusannya bukan pada masalah cinta saja. Ada keluarga besar yang nggak mungkin nggak dilibatkan dalam urusan pernikahan kita. Ada Tuhan yang menjadi sentral kehidupan. Ada anak yang menjadi tanggung jawab pasangan sumi istri untuk membesarkan dan mendidik.  

Lha kalo dua individu menjadi satu tapi 'pegangan' nya berbeda, lak ya memang membutuhkan effort lebih untuk bisa sejalan. Gimana bisa berbaur dengan keluarga besar kalo bahasanya aja beda? Gimana caranya menyembah Tuhan dan mendidik anak kalo dasar konsep keTuhannya juga beda? 

Jadi? Jadi? Impossible ya, kalo ada perbedaan SARA dan status ekonomi dalam sebuah pernikahan? Jawabannya adalah: Tergantung. 

Tergantung menurut saya jelas sifatnya subyektif. Karena kadar ke'fanatikan' setiap orang berbeda-beda, demikian juga dengan saya. Ada orang yang lebih mementingkan persamaan agama daripada suku.
Ada juga yang menomorsatukan kesamaan status ekonomi, macam marimar yang nggak disetujui kawin sama Sergio gara-gara Marimar anak gembel. Ah, kenapa film-filmnya Thalia selalu temanya tentang  gadis miskin yang jatuh cinta kepada pria kaya, yah? *mulai ngglambyar

Kamu pilih yang mana?

Balik lagi ke masalah 3 tantangan dalam pernikahan. menurut pendapat saya,

Kalau ada 1 dari 3 perbedaan dalam pernikahan, 
Well, mungkin susah, tapi masih bisa jalan lah. Buktinya banyak kok pasangan yang pernikahannya langgeng. 

Kalau ada 2 dari 3 perbedaan dalam pernikahan, 
Itu susah! Kemungkinan gagalnya gede. Tapi masih bisa. Hanya saja memang dibutuhkan keteguhan dan kebesaran hati untuk menjalaninya. 

Kalau ada 3 dari 3 perbedaan dalam pernikahan, 
Mission impossible! Saya baru menemukan 1 pasangan dengan perbedaan status ekonomi, suku-adat-ras, dan agama yang pernikahannya langgeng jaya sampai maut memisahkan. Mereka adalah kakek dan nenek saya *senyum-senyum bangga.  


Ini menurut saya sih. Bagaimana menurut teman-temin? 

*Maaf ya, kalo ada komen negatif yang MENYINGGUNG  suku, adat, ras, dan agama tertentu, komennya bakal saya hapus.


18 November 2016

NGOBROL: Jangan Panggil Aku 'Mama"




Waktu baru melahirkan C, rasanya hidup saya sebagai seorang perempuan terasa lengkap sudah. Ya, hampir semua perempuan yang sudah menikah mendambakan kehadiran seorang anak. Wajar, khan? 

Tapi ada satu hal yang terasa gimanaaaa gitu. Saya nggak suka dipanggil 'Mama'. Lho kenapa? Ehm, mungkin karena belum terbiasa, ya? Apalagi dipanggil pake sebutan, 'mami'. Aduh, saya kok berasa kayak jadi germo gitu. Maaf lho, bukan nyindir atau mengolok-olok teman-temin yang pake sebutan mami-papi ke anak. Serius enggak. Ini cuma perasaan saya aja, sih.

Waktu suster rumah sakit membawa baby C sambil ngomong, "Mama, yuk belajar nyusuin babynya.", berasa yang ngomong di depan saya itu bukan suster RS, tapi bakul sate langganan yang tiap sore suka jerit-jerit manggilin mama saya di depan rumah,  "Sate Mammaaaaaaa......" Gedubrak!

Sepulang RS, giliran si Oni yang suka manggil-manggil saya, "Mama." Aneh rasanya. Apalagi kalo saya harus balas memanggil Oni dengan sebutan "Papa.", berasa yang saya panggil itu buka suami saya, tapi bapak saya di rumah sana. Hahahahahaha...

Jadinya selama beberapa bulan setelah punya anak, si Oni tetep manggil saya dengan sebutan 'Yank.' karena saya selalu komplen dan pura-pura nggak denger kalo dipanggil 'Ma'.  Saya juga tetep manggil Oni dengan sebutan 'Koko' yang artinya 'kak'. Trus kalo ngomong sama anak? Saya menyebut diri sendiri dengan kata, 'saya'.

Aneh sih memang, masa ngomong sama anak bilangnya, 'saya'. Tapi gimana, dong, kuping saya gatel kalo pake kata 'mama'. Sudah banyak sanak kerabat yang memprotes saya, tapi saya cuek aja, wes.

Dan saya nggak bisa cuek ketika C udah mulai belajar ngomong dan manggil saya dengan sebutan 'saya' juga. Wualah, kok jadi ruwet. Hahahahahaha.....

Terpaksa saya mulai membiasakan diri menyebut diri saya sendiri, 'mama' kalo lagi ngobrol sama C. Dan puji Tuhan ni anak juga nggak keterusan manggil saya pake sebutan 'saya', sih. Dia juga bisa manggil bapaknya, 'papa' walaupun saya tetep manggil Oni dengan sebutan 'koko'.  

Rembay ya? Urusan cara memanggil aja ribet amat. Kalo teman-temin sendiri bagaimana? Nggak ribet ya sama urusan panggilan ke anak? 

17 November 2016

Yang Muda Yang Mengatur Uang

 
Kayak miss shopaholic gini lho kira-kira
"Gajian hasil kerja sebulan cuma mampir di dompet sehari, Cyn." begitu kira-kira caption salah seorang teman saya pada sebuah foto di Instagram lengkap dengan hastag "#gajipertama. Di foto itu, teman saya tampak sumringah berpose menenteng aneka tas belanja dari outlet-outlet branded dengan latar belakang sebuah mall terkenal di Jakarta Selatan.

Saya tersenyum, saya ingat sekali, di tahun-tahun pertama bekerja dan mendapatkan penghasilan sendiri, saya juga seperti teman saya ini. Begitu terima gaji, selalu langsung kalap belanja-belanji. Belanja baju, sepatu, dan kosmetik dong cyn. Biar penampilan makin cetar! Tak lupa setelah puas belanja, saya ngupi-ngupi syantiek di kafe bersama teman-teman kost. Gaya banget lah pokoknya.

Ketika menjelang akhir bulan, tingkat kesejahteraan hidup berbalik 180 derajat. Acara mamam syantiek di kafe dan  foodcourt mall berpindah menjadi makan terong penyet di kost. Itu juga terong dan sambelnya masak sendiri dengan modal urunan. Sedangkan nasinya memang sudah disediakan oleh kost-kost an. Agak basi sedikit tak mengapa, asal hemat dan nggak bikin sakit perut.  Kadang menu terong penyet diganti dengan tumis pare agar tidak bosan. Super sekali. Hihihihi....

Ada juga teman saya yang nggak suka makan luar, juga nggak suka blanja blanji bergembira. Tapi samirawon, duitnya selalu habis dan  kalo tanggal tua dia juga ikut pesta terong penyet di ruang makan kost-kost an. Usut punya usut, ternyata uang si teman ini habis dipake untuk beli coin game online.

Di masa-masa akhir bulan inilah kebiasaan 'lupa naruh duit di saku jaket' menjadi amat berguna. Kebayang khan betapa berharganya nemu duit dua puluh ribu rupiah di saku jaket pas lagi baper karena laper dan nggak punya duit babar blas?

Well, sebenernya bisa dimaklumi kalo kita mengalami euphoria gaji pertama. Namanya baru pertama kali menerima duit dari hasil kerja keras sendiri, ya khan? Apalagi semasa masih tergantung pada ortu ada banyak yang sebenernya kepengen dibeli tapi tak enak hati kepada ortu. Sah-sah saja. Wong duit yang kita pake hepi-hepi juga hasil keringat kita sendiri, bukan hasil mencuri. 

Tapi sebenernya, lebih bijaksana apabila kita bisa me-manage penghasilan kita. Saya sendiri agak terlambat menyadari pentingnya mengelolah uang, yaitu pada usia 25++, setelah saya mengenal Oni dan berkali-kali di tegur Oni, "Yuk, atur uangmu." 

Bukan melebih-lebihkan suami saya, ya. Tapi memang berkebalikan dengan saya, Oni sudah bisa mengatur keuangan sejak jaman kuliah. Tak heran, dia nggak pernah mengalami 'hidup miskin' di akhir bulan. Bahkan di awal masa kerja dia sudah memiliki asuransi. Sekarang masa pembayaran premi asuransi Oni sudah selesai. Yang artinya Oni tinggal menikmati manfaat berasuransi. Duh, kenapa nggak dari dulu-dulu saya kepikiran ikut asuransi, ya.

Ucapan mama saya yang beribu-ribu kali saya dengar, "Fel, mumpung masih muda, uang gajimu jangan dipake hore-hore melulu. Ditabung. Biar jadi 'sesuatu' di masa depan. Sayang kerja keras di masa muda  kalo hasilnya cuma dipakai untuk membeli hal-hal yang sifatnya sesaat," sungguh 100% benar.  Melihat baju-baju mihil yang saya beli dulu, ah nggak ada yang masih nampak cring-cring seperti saat pertama beli. Dipake juga sudah tidak bisa, karena sudah tidak muat lagi. 

Eh, jadi maksudnya kita yang masih muda nggak usah beli baju mihil, Fel? Enggak! Saya nggak bilang mengatur uang itu sama dengan tidak memakai uang untuk bersenang-senang, lho yo. Bersenang-senang, me time, memberi hadiah untuk diri sendiri, apapun istilahnya, perlu banget. Entah dengan membeli baju-baju mahal, beli voucher game, beli koleksi figurine, atau mbolang ke mana-mana. Pokoknya wajib lah itu. Semasa masih muda, lakukan dan raih apapun yang bisa kita raih, termasuk menikmati kesenangan-kesenangan masa muda.  Tapi tentu saja harus diatur dan dibatasi. Berapa batasannya? Tergantung kemampuan ekonomi kita masing-masing tentunya.

Tips dari saya, ihir.... gaya amat ngasih-ngasih tips


1. Begitu terima gaji, langsung bayar semua hutang, tagihan, dan cicilan. Apabila jatuh temponya masih nanti pertengahan bulan, SISIHKAN! Jangan diotak-atik! Hidup nggak bakal tenang kalo kita masih punya hutang. Jadi kalo kita sudah terlanjur punya hutang, prioritaskan penghasilan yang baru kita terima untuk membayar hutang sebelum membelanjakannya untuk keperluan lain-lain. Ini berlaku juga untuk cicilan dan tagihan kartu kredit, ya. Jangan sampai molor dan terlambat membayar karena tidak ada dana. Bunga cicilan yang terlambat dibayar seringkali mencekik leher, Kakak! Dan ingat, jangan nambah hutang lagi! Apalagi kalo ngutang cuma buat beli barang-barang kesenangan pribadi.

sumber: Pexels, Public Domain
2. Kemudian bayar atau sisihkanlah dana untuk  semua  biaya hidup yang bersifat urgent. Urgent itu yang kayak gimana, ya? Yang jelas, beli jegging baru bukan termasuk urgent yaaaaaa, walaupun bulan ini lagi ada diskon 70% di counter itu tuuuuuh. Biaya hidup yang bersifat urgent yang saya maksud adalah kebutuhan bulanan yang kalo nggak kita penuhi, maka kerja dan aktivitas kita bakan terhambat. Misal uang bensin, kalo nggak beli bensin, otomatis kita nggak bisa berangkat ke kantor karena sehari-hari kita ke kantor naik motor.  Kebutuhan apa lagi yang urgent? Listrik, air, telepon, belanja makan selama sebulan, dan sebagainya. 

3. Tabungan, Investasi dan Asuransi. Poin ke tiga ini yang seringkali tidak dipikirkan oleh kita-kita yang masih muda. Padahal penting banget lho. Karena apa, cuma ketiga pos ini yang bisa kita andalkan kalau amit-amit kita dalam kondisi darurat atau amit-amit tiba-tiba ada butuh dana mendadak.

Lha sebenernya ikut asuransi itu rugi dong ya? Misal asuransi kesehatan, nih. Kalo kita nggak sakit khan sama aja kita ngasih duit cuma-cuma ke perusahaan asuransi. Eh, enggak, kok. Jangan pernah mikirin timbal balik atau laba apa yang kita dapet kalo bayar premi asuransi. Karena sesungguhnya, yang kita beli dengan mengikuti asuransi itu bukan hanya sekedar untuk meng-cover kalau kita mendapat musibah sakit, tapi juga rasa 'aman' terhadap resiko-resiko tadi.

Kalo isu-isu sulitnya mencairkan biaya asuransi, itu mah tergantung kredibilitas perusahaan asuransinya aja, sih ya menurut saya. Oleh karena itu, kita harus cerdas dan selektif memilih perusahaan asuransi. Jangan hanya memilih perusahaan asuransi yang menjanjikan mafaat lebih paling banyak tanpa melihat sehat tidaknya perusahaan. Dan yang penting, pilihlah perusahaan asuransi yang kantor pusatnya berbasis di Indonesia. Biar nggak susah kalo mau urus-urusan sama kantor pusatnya, gitu. 

Lalu pilihlah perusahaan asuransi yang fleksibel dan bisa memberikan manfaat asuransi sesuai budget dan jenis kebutuhan kita. Nggak lucu dong kalo gaji kita masih berkisar 5 jutaan, trus kita kudu ambil asuransi kesehatan yang preminya 3 jutaan hanya karena perusahaan asuransi tersebut tidak menyediakan asuransi dengan premi lebih rendah. 

Ada ya perusahaan asuransi yang memenuhi kriteria di atas? Ada kok. Sinarmas MSIG Life. Cuss deh intip website resminya untuk mengetahui lebih detail mengenai profil dan jenis-jenis produk dari Sinarmas MSIG Life.

4. Baru deh sisanya boleh kita pakai untuk berhepi-hepi hore-hore. Pengembangan diri, fashion, jalan-jalan,  wisata kuliner, beli novel dan lain-lain. 

Gimana? Nggak sulit khan mengatur keuangan tapi tetep bisa bersenang-senang menikmati masa muda? 


www.sinarmasmsiglife.co.id

13 November 2016

TOPIK PENTING: Film Horor dan Keramas



Film horor apa yang menurut teman-temin paling serem?

Menurut saya, tetep ya, The Ring paling juara. Yang original version bikinan Jepun itu. Bukan yang remake. Biar kata banyak film horor yang lebih mencekam dan menggunakan teknologi lebih canggih, nggak ada yang bisa ngalahin efek seremnya Sadako yang ngesot-ngesot keluar dari layar tivi. Semacam mbak Sad ini sodaraan sama suster ngesot apa, yah? Kok gayanya mirip-mirip. 

Saya ingat sekali, saya nonton the Ring semasa kuliah. Nontonnya di kost-kostan. Ketika itu suasana kost lagi sepi karena weekend. Biasaaaaa, kalo wikenan khan anak kost pada pergi jelong-jelong dan pacalan. Waktu itu saya sendiri nggak pergi kemana-mana karena sang pacal lagi ikut lomba band di mana gitu. Saya nonton The Ring via komputer dan pake headphone! Kebayang gak sih gimana efek seremnya. Haduh..... kalo pas adegan serem atau mengagetkan, jantung saya berasa melorot sampe ke dengkul. 

Setelah nonton film itu, kurang lebih dua mingguan lah saya parno-parno bergembira gitu. Kalo lampu dimatiin langsung berasa ada yang lagi ngliatin saya di pojok ruangan. Kalo lagi jalan sendiri berasa lagi diikutin orang. Malem-malem jadi takut ke kamar mandi. Dan yang paling gitu amat, saya jadi takut keramas!

Ya gimana yah? Soalnya kalo kita keramas khan kudu merem biar mata nggak kena shampoo dan guyuran air. Sementara tiap merem (apalagi di kamar mandi) khawatir pas melek lagi, di hadapan saya tiba-tiba sudah berdiri Sadako yang lagi nyisir rambut. Hiaaaaa!!!!! 

Coba waktu itu udah ada yang namanya topi keramas, berapapun harganya, kayaknya bakal saya beli, deh. Itu lho, topi yang bentuknya kayak payung dan bolong di bagian tengahnya. 

Bisa keramas sambil melek, Cyn. Hihihihi....
Berhubung di jaman saya kuliah itu belum ada penemuan yang namanya topi keramas, yah jadinya terpaksa saya keramas sambil dikit-dikit melek.

Masalah pelik nggak berhenti sampai di situ aja. Lama-lama saya merasa nggak nyaman karena mata kriyep-kriyep perih kemasukan shampoo. Saya memutuskan berganti gaya keramas. Biasanya saya keramas sambil berdiri tegak, berganti sambil nunduk. Dengan begitu wajah saya nggak kecipratan air dan shampoo. Horeeee, bisa keramas sambil melek! 

Ya tetep ada parno-parnonya, sih. Gimana kalo pas ndongak tiba-tiba Sadako nya udah nangkring di atas bak air kamar mandi. Hiaaaaaa!!!!

11 November 2016

#TravelioMore: Mengapa Bukan di Hotel?

Lebih Leluasa
Alasan paling wahid emak-emak rembay dengan dua baby kayak saya, nih. Kalo nginep-nginep, jangan di hotel, deh. Lebih leluasa nginep di apartment or rumah, atau sekalian aja sewa villa. Karena kamar hotel nggak ada dapurnya, Cyn. Nggak bisa masak-masak dan manasin makanan bayi. Kudu nelpon petugas hotel dulu kalo butuh air panas. Belum lagi si C kalo lagi maen sama bapaknya ribut banget. Sementara Bree kalo nangis suka dikenceng-kencengin. Masa kalo Bree nangis kudu saya bekep mulutnya biar nggak ganggu penghuni kamar sebelah? Ngebayangin itu aja udah bikin saya males bepergian kalo nginepnya harus di hotel. Bukannya liburan keluarga, yang ada malah saya stress sendiri. Hadeuh....

Ngemeng-ngemeng tentang liburan keluarga, keluarga besar mama saya demen banget pergi berlibur bareng. Karena nggak ada yang tinggal dalam satu kota dan jarang ketemu, jadi begitu ngumpul, jatah ngobrol selama 6 bulan dirapel dalam 3 malam. Walopun tiap keluarga udah ada kamar sendiri-sendiri, pasti mereka bakal ngumpul di satu kamar. Sempit-sempitan tak mengapa, asal bisa ngobrol sampe pagi. Jadi kegiatan utama liburan keluarga besar adalah: ngobrol. Pokoknya di mana-mana ngobrol. Ngobrol terus sampe bibir varises. Hahahahahaha......

Kalo nginepnya di villa atau rumah sewa khan enak, tuh. Kami nggak perlu uwel-uwelan di salah satu kamar. Selain itu, nggak ada yang kamarnya acak-acakan karena dikorbankan jadi 'mabes'. Acara ngobral ngobrol jadi lebih nyaman karena ada ruang keluarga atau ruang makan. Plus bisa bikin acara, games, kejar-kejaran, dan sebagainya.

Lebih muat banyak dan  murah
Yak, betul! Sewa apartment, villa, atau rumah muatnya lebih banyak dan jatuhnya relatif lebih murah dibanding hotel. Kalau menginap di hotel, walaupun kita sudah minta extra bed, tetep lah ya ada  batesan berapa orang yang boleh tinggal di dalam satu kamar. Lain halnya dengan menyewa villa/rumah/apartment, kita bebas mau masukin berapa orang. Tergantung kitanya aja sih, membutuhkan tingkat kenyamanan sejauh apa. 

Apalagi kalo menginapnya dalam rangka backpacking rame-rame dan cuma butuh tempat nebeng tidur, meletakkan barang bawaan, plus mandi, saya rasa uwel-uwelan bobok ala ikan sarden di dalem apartment juga nggak masalah, khan. Toh sebagian besar waktu lebih banyak dihabiskan di luar penginapan.

Di beberapa kota, biaya sewa apartment/rumah/villa jauh lebih murah dibanding hotel di lokasi yang sama.  Apalagi kalo kita perlu menginap dalam jangka waktu agak lama.

Satu contoh, ketika saya masih tinggal di Bali, kami memilih tinggal di sebuah puri yang oleh pemiliknya sudah dialihfungsikan menjadi semi apartment. Biaya sewa 1 unit apartment tipe studio per 15 hari adalah Rp. 700.000,- . Sedangkan tarif hotel yang letaknya tak jauh dari puri tempat kami tinggal adalah sebesar Rp. 300.000,- per hari. Bila dikali 15 hari, harga menginap di hotel adalah sebesar Rp. 4.500.000,-  . Hampir 7 kali lipat!

Padahal  fasilitas yang didapat kurang lebih sama, lho. Yaitu kamar plus perabot standard, AC, kamar mandi dalam yang ada bath up dan air hangatnya. Bahkan menurut saya, puri suasananya lebih asri dan hommy.

Penampakan gerbang puri. Adem dan hommy banget
Bedanya cuma, di puri tempat kami tinggal nggak ada telepon yang terhubung dengan petugas resepsionis. Jadi kalo butuh apa-apa kudu ngesot ke kantor puri. 

Selain itu kita kudu bayar listrik sendiri. Hm.... apa lagi ya. Oiya, kita juga nggak dapet morning coffe dan jasa bebersih kamar harian kayak di hotel.

Tapi bisa kok kita minta mbak pegawe puri untuk bersih-bersih unit kita sekalian nganter kopi tiap pagi. Cukup kasih kopi dan gula, serta tips untuk si mbak. Kalo ditotal, biaya sewa unit ditambah biaya pulsa listrik, biaya kopi, dan tips buat si mbak jumlahnya tetep jauh lebih murah, nggak sampe sepertiga biaya tinggal di hotel. Serius! 

Privasi lebih Terjaga
Teman-temin membutuhkan tempat menginap dengan privasi lebih? Sewa rumah atau villa bisa menjadi pilihan paling tepat.

Emang nginep or sewa kamar di hotel kurang privat, ya?  Hooh, menurut saya, dalam hal-hal tertentu  memang hotel kurang privat. Misal nih, kita lagi bikin acara khusus di hotel, let say akad nikah. Acara jadi berasa nggak sakral banget khan, kalo pas tengah prosesi ijab kabul ada backsound suara gedebak gedebuk orang lari-larian di koridor hotel.

Atau mungkin pas lagi kepengen berenang syantiek sambil menikmati sejuknya senja, eh tiba-tiba ada anak kecil lempar-lempar rempeyek ke kolam renang. Kayaknya anak seumuran C emang tingkat keusilannya tinggi, ya? Dese mengira kalo nglempar makanan ke kolam renang, orang-orang yang berenang di situ bakal berbondong-bondong mendekat sambil mangap-mangap kayak koi. *nutup muka pake tangan terus pura-pura nggak kenal. 

Makanya, nginep di villa yang ada private poolnya aja. Pasti nggak ada yang ganggu. Apalagi kalo acara nginepnya dalam rangka bulan madu. *ihik.....


Gimana? Lebih worth it khan dibanding menginap di hotel? Secara space lebih gede. Harga lebih miring. Dan masih banyak kelebihan lain. 

Jangan khawatir, sekarang nggak susah kok nyari info tentang sewa villa/rumah/apartment. Khan ada www.travelio.com say. Situs penyewaan apartemen, rumah, villa, dll secara harian/mingguan/bulanan dengan inventori di lebih dari 12.000 properti yang tersebar di berbagai kota/negara di wilayah Asia-Pasifik. Wow!

Di Travelio.com kita gak cuma bisa milih properti yang disewakan dengan aneka pilihan harga, tapi kita juga bakal dibantu untuk booking. You know what, Travelio.com nggak mengenakan  biaya administrasi tambahan ataupun charge pembayaran pake kartu kredit. Free hidden cost, no jebakan betmen lah pokoknya. Asyik khaaaaaan.....

Makanya, bagi teman-temin yang sedang merencanakan bepergian ke luar kota dan lagi nyari-nyari tempat menginap, yuk cuss maen-maen ke Travelio.com. Cara mendaftar dan melakukan transaksi di situs itu gampil banget. Nggak rempong sama sekali.

Dapetin juga diskon sebesar 40% untuk menyewa rumah/apartment/villa melalui Travelio.com dengan menggunakan kode voucher di bawah ini:

#TravelioMore: More Choice, More Space, More Value

*) SYARAT DAN KETENTUAN PEMAKAIAN VOUCHER:
  • Kode hanya bisa digunakan untuk pemesanan tipe properti Apartment, House, dan Villa yang tersedia di situs web Travelio.com, baik di desktop, mobile web, maupun aplikasi “Travelio”;
  • Kode berlaku sampai dengan tanggal 30 November 2016 pukul 23.59 WIB;
  • Nilai maksimum diskon yang dapat dinikmati setiap pelanggan adalah sebesar Rp300.000,00;
  • Setiap pelanggan hanya bisa menggunakan kode sebanyak maksimal 1 (satu) kali;
  • Kode voucher hanya bisa digunakan oleh pelanggan yang telah registrasi dan login saat melakukan pemesanan;
  • Kode voucher tidak dapat digabungkan dengan promo lainnya atau dengan penggunaan Travelio Reward Point; dan
  • Travelio berhak membatalkan pemesanan apabila terjadi penyimpangan atau pelanggaran pada Syarat dan Ketentuan ini maupun Syarat dan Ketentuan layanan Travelio.com.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...