• SITI NURBAYA COLABORATIVE BLOGGING: Akun Media Sosial untuk Anak, Perlukah?

  • Yup, kita kaum wanita memang lebih mudah terserang infeksi saluran kemih. Salah satu penyebabnya adalah karena saluran kemih wanita lebih pendek dibanding pria. Lalu bagaimana cara mengatasinya? Yuk baca lebih lanjut

  • KULINER: Ngobrol Bareng Farah Queen Sambil Mamam Queen Apple. Cucok Cyn!

Thursday, September 21, 2017

KULINER: Kepoin Dapurnya Farah Quinn

Jadi ceritanya, bulan lalu khan saya dan temen-temen blogger dari Malang Citizen dapet undangan untuk mengunjungi salah satu outlet Queen Apple dan launching varian baru, tuh. Kali ini kami dapet undangan lagi dari Queen Apple untuk mengintip dapur Queen Apple yang terletak di Jalan. Perusahaan no. 6. Tanjungtirto, Singosari, Malang. Eh, bukan mengintip, denk. Kita dibolehin masuk, liat-liat proses pembuatan Queen Apple cake dan strudel, plus ngrecokin Farah Queen yang kebetulan lagi ada di sana. Akh! We're so excited!

Farah Quinn udah nunggu di dapur, sementara kami masih intip-intip dari luar nunggu disuruh masuk. Halah.... malah tunggu-tungguan ceritanya. 

Yes, dapur Queen Apple yang terletak bersebelahan dengan Guest House Syariah Malang ini dilengkapi dengan sebuah dinding kaca gede di salah  satu sisinya. Jadi para pengunjung Guest House yang kebetulan lewat dapat mengintip aktifitas di dapur ini. Di dapur inilah semua produk Queen Apple dibuat dan diolah untuk selanjutnya didistribusikan ke outlet-outlet yang tersebar di Malang dan Batu.

 Oven yang bikin semua emak-emak ngiler. 

Gimana nggak ngiler, Bok. Guede badai, oven tangkringan saya di rumah bagaikan butiran debu dah kalo dibandingin sama oven yang ini. Hahahahaha... Dengan tiga oven seukuran gajah ini, dapur Queen Strudel mampu menghasilkan kurang lebih 1500 box produk Queen Apple pada hari-hari biasa. Pada saat weekend dan public holiday, kapasitas produksi dinaikkan sesuai kebutuhan pasokan stock outlet. Ngerih!

Kalo kemaren saya berkesempatan mencicipi Queen Apple cake, di kesempatan kali ini saya nyobain Queen Strudel yang nggak kalah enak. Bahkan menurut temen saya yang sudah nyobain aneka versi strudel, strudelnya Queen Apple ini yang paling juara. 

Ini lho rahasia kelezatan Queen Strudel. Isiannya terbuat dari apel murni dengan potongan apel yang besar. Potongan apelnya sama sehingga kelezatan dan kenikmatannya merata di setiap gigitannya. Potongan apel ini tidak langsung diisikan ke dalam strudel, tapi diolah terlebih dahulu dengan proses dua kali pemanggangan.


Selain isiannya yang istimewa, lapisan kulit Queen strudel ini juga renyah dan crunchy. Terasa mak krenyes gitu lho waktu dikunyah. Pokoknya endoy, lah!


Jangan khawatir, kalo temen-temen beli dan membawa pulang Queen strudel, potongannya nggak bakalan berantakan kayak gini. Strudel yang kita cobain potongannya ancur-ancuran begini karena kita nggak sabar kepengen segera mencicipi dan ngotot minta dipotongin strudelnya selagi masih hangat. Padahal seharusnya motong strudelnya waktu sudah dingin. Hihihihi......

Chef Komar dan Farah Quinn yang cuma bisa senyum-senyum melihat dapurnya kita jajah. Bahkan tempat cuci piringnya aja ikutan kita intip. Hahahahaha..... Baik banget, ya. Jarang lho ada chef atau baker yang mau dapur dan proses detail pembuatan produknya diamat-amati oleh orang asing.

Farah Quinn juga menjelaskan kalo dese dan Chef Komar bakal terus berusaha menciptakan varian-varian baru Queen Apple. Rencana kedepannya, Queen Apple akan meluncurkan produk kue kering yang daya tahannya lebih lama dibanding Queen Apple cake dan strudel. Jadi kita nggak takut oleh-olehnya bakal basi kalo mau dibawa ke luar kota.

Sebelum pulang, kami menyempatkan diri foto bareng Farah Quinn dan Chef Komar. Thank you guys. You both are rock! Sok gaul banget sih saya. Kapan-kapan kita maen lagi ke Apple Queen.  




Sunday, September 17, 2017

JALAN-JALAN: (Kepengen) Second Honeymoon

Pada dasarnya, saya dan Oni sama-sama nggak begitu suka traveling dan explore tempat-tempat baru. Karena apa? Karena kita berdua kurang pinter hunting tempat murah, gampang kesasar, dan cinta kenyamanan (baca: lebih memilih tidur di rumah daripada 'menikmati' perjalanan). Itulah sebabnya, kami jarang banget bepergian ke tempat wisata apalagi ke luar kota. Kalopun bepergian, biasanya cuma saya dan anak-anak. Oni hampir selalu bersikeras tinggal di rumah dengan segudang alesan. Banyak kerjaan, lah. Nggak enak badan, lah. Endebre endebre. Yang sebenernya ya intinya dia males kemana-mana. 

Tapi akhir-akhir ini kok kepengen rasanya pergi ke mana gitu. Berdua aja sama si Oni, tanpa anak-anak. Sekali-sekali kita menikmati quality time berdua. Sudah lama kita nggak jalan santai sambil gandengan tangan tanpa ribet dengan bawaan bayi segambreng dan lari-larian nguber bocil, atau sekedar makan berdua di warteg sambil suap-suapan. Eaaaaa..... emak-emak alay.

Nah, Si Oni khan akhir-akhir ini sering ke Jogja untuk urusan kerjaan, tuh. Perginya nggak lama, cuma sehari. Wong disana cuma ngecek kerjaan fisik tukang batu doang. Dateng ke workshop batunya, ngliat progress kerjaan dan apakah hasilnya sama dengan yang direport rutin via foto, trus udah. 2 jam juga udah beres.

Pikir saya, gimana kalo sewaktu Oni pergi ke Jogja, saya ikut. Trus nginepnya di-extend buat acara jalan-jalan berdua. Nggak usah lama-lama. satu atau dua hari aja cukup, kasian anak-anak kalo dititipin kelamaan di kakek neneknya. Kasian, lho akika inih. Orang Jawa, udah usia segini, belum pernah maen ke Jogja. Waktu SMP dulu sempet sih ada acara perpisahan kelas ke Jogja, tapi saya nggak ikut karena nggak punya duit. Hauuuuu! Ya lumayan sedih dan gigit jari, soalnya sebagian besar temen-temen saya berangkat. Waktu itu khan ngetrend banget bok, acara tour kelas ke Jogja dan Jakarta.

Ntar saya kepengen wisata kuliner gudeg sampe mblukek di Jogja. Saya kepo gimana rasanya makan langsung di warungnya instead of makan gudeg oleh-oleh (alesan maha penting, kak.) Soalnya Oni bilang, makan di warungnya jauh lebih endoy daripada makan di rumah. Wolah, khan jadi kepo.

Trus karena workshop batu yang biasa dikunjungi Oni letaknya di daerah Gunung Kidul dan deket banget sama Pantai Ngobaran, jadi saya juga kepengen ke sana. Apalagi setelah saya googling, ternyata Pantai Ngobaran ini adalah tempat wisata yang sarat sejarah dan kisah mistis. Di pantai inilah Prabu Brawijaya V, keturunan terakhir kerajaan Majapahit, memutuskan dan melakukan upacara moksa dengan cara membakar diri karena enggan menuruti ajaran Islam dari putranya, Raden Patah. Konon, api pembakaran dirinya yang berkobar-kobar membuat pantai ini dinamai pantai Ngobaran.

Picture is taken from HERE

Selain keindahan pantai dan keragaman budayanya, di Pantai Ngobaran ini kita juga bisa menikmati kuliner khas Ngobaran yang terbilang tidak biasa, yaitu landak laut goreng. Katanya sih, rasa landak laut goreng ini kenyal dan gurih. Tapi Oni nggak doyan. Hahahahaha..... apapun yang Oni nggak doyan memang bikin saya kepo kepengen nyobain.

Selain ke pantai Ngobaran, saya juga kepengen dolan ke Jalan Malioboro. Biar kata Oni Malioboro gak ada keren-kerennya dan kurang ngehits, pokoknya saya kepengen ke sana dan foto meluk tiang nama jalan Malioboro. Absurd? Biarin!

Picture is taken from HERE
Selain ke dua tempat itu, saya juga kepengen maen ke Green Village Gedangsari, Puncak Kosakora, Goa Jomblang, dan Telaga Biru yang terletak di daerah Gunung Kidul juga. Kepengen juga sih maen ke lokasi yang lagi happening banget di kalangan instagrammer, yaitu hutan Pinus Mangunan. Tapi lokasinya kok agak jauh ya bok. Di Bantul.

Foto dicomot dari: instagram @wonderfuljogja
Singkat cerita, Oni bilang setuju next ke Jogja saya ikut, trus kita jalan-jalan berdua. Sekalian program anak ke tiga refreshing. Horeeeee! Padahal sebelumnya saya udah pesimis dia bakal ijinin saya ikutan. Asiiiik!  Cuma nggak asiknya, Oni juga bilang, "Kamu atur, lah pokoknya. Mau kemana aja, naek apa, nginep di mana. Aku males mikir." Dih! Secara dia yang pernah ke Jogja dan lebih tau tempat-tempat yang murah dan oke di Jogja, kok saya yang disuruh mikir. Gimana sih!

Setelah nanya-nanya ke temen yang biasa travelling, saya nyoba nyari-nyari PAKET HONEYMOON YOGYAKARTA TRAVELOKA di website TRAVELOKA. Kata temen saya, di TRAVELOKA kita bisa mesen hotel dan tiket pesawat sekaligus. Jadi kayak paket gitu, lho shay. Praktis dan anti rembay. Kita cukup masukin kota tujuan dan tanggal berapa mau nginepnya.


Oni sempet komplen, kenapa saya milih paket honeymoon. Ntar jatuhnya mahal kayak waktu kita honeymoon dulu, padahal bedanya cuma kasurnya dikasih bunga-bunga dan ada welcome drink-nya. "Nggak, kok," saya bilang. Khan ntar bakal muncul tuh segambreng pilihan penerbangan dan hotel. Kita tinggal milih mana yang cocok dengan budget dan keinginan kita. Gampil, khan?  Nggak perlu repot dan boros-borosin kuota dengan browsing sana sini, apalagi telepon-telepon ke travel agent.

Belum juga kopinya Oni habis, saya udah nyodorin paket yang saya pilih. Kaget dia, "Lho, kok cepet? Kok lebih murah dari yang biasa aku beli?" Eh... belum tau dia kalo bininya ini pinter mandraguna. Ish! Mesen tiket pesawat dan hotel sekaligus di Traveloka khan lebih murah daripada mesen terpisah, Shay.

Udah gitu, satu lagi yang saya suka dari Traveloka. Metode pembayarannya beragam, Cyn. Bisa pake payment installment, transfer dan ATM, atau pake credit card. Setelah melakukan pembayaran, trip vouchernya bakal dikirim ke email kita dalam waktu nggak sampe 1 jam. Asoy, lah!

So, bagi temen-temen yang masih suka rempong, capcus booking tiket + hotel via TRAVELOKA. Selain mudah dan murah, juga lebih hemat. Jadi duit lebihnya bisa dipake blanja blanji dan kulineran. Tetep yeee, hedon kamuh! Hedon!

Thursday, September 14, 2017

SENIN RUMPITA: Me Time yang Terlalu


Sudah baca salah satu tulisan terbaru member geng Siti Nurbaya di website KEB, belum Cyn? Itu lho, yang membahas tentang me time bagi kita para ibu rumah tangga, baik yang full time mom maupun career mom.  

          Kalo belum baca, capcus intipin shay: ME TIME EMAK BLOGGER

Well, sejujurnya saya nggak pernah merasa kekurangan me time. Kenapa? Karena puji Tuhan saya kebetulan punya suami kayak Oni, yang nggak canggung, bahkan dalam beberapa hal justru lebih piawai dari saya, dalam melakukan pekerjaan rumah tangga. Hail Oni! Kalo temen-temen saya suka ngeluh, "Duh, suamiku mah maunya maen doang sama anak. Tapi kalo disuruh ngurus anak mana bisa." Dalam hati saya bersyukur karena Oni nggak gitu. Oni telaten dan cekatan banget kalo disuruh mengurus anak, termasuk dalam hal memandikan dan memberi makan anak.  

Trus apa hubungannya dengan me time? Yah, setiap kali saya merasa butuh me time, saya nggak akan khawatir pekerjaan rumah tangga dan anak saya bakal terbengkalai, karena ada Oni yang back up. Asalkan Oni lagi nggak dikejar tenggat waktu dari klien, biasanya Oni akan dengan senang hati menawarkan bantuan kepada saya. 
Trus apakah cukupnya me time ini membuat saya menjadi lebih bahagia, mengalami kehidupan yang seimbang,  dan menjadi istri serta mama yang baik? Sejujurnya, enggak juga. Seringkali justru saya malah jadi kebanyakan me time alias overdosis me time. Nah lo! Jadinya malah saya capek dan setres sendiri. Halah...halah.....

Satu contoh kecil. Kemarin Oni ngliat saya lumayan kusyuk nonton serial India di youtube,  jadi Oni berinisiatif megang C dan Bree supaya saya nggak terganggu nontonnya. Yah, karena nggak ada gangguan, bebas dari kewajiban nidurin anak dan beberes mainan anak-anak, jadinya saya lupa waktu dan nonton terus sampe jam 3 subuh. Akibatnya hari ini saya lemes seharian karena kurang tidur. Kerjaan rumah hari ini nggak ada yang beres karena saya kurang fokus. Trus saya bad mood deh. Duh! It's all your fault, Mr. Ranbeer Raichand!!!!  Btw, ada yang demen ngikuti serial-serial garapan Vikram Bhatt juga? Ngacung!

Makanya, di postingan kali ini saya kepengen membagi tips gimana caranya supaya me time yang kita lakukan memang bener tepat sasaran seperti kata Mbak Shanty temen saya, yaitu mengisi ulang energi, mendengar suara hati, dan menyeimbangkan kebutuhan dan kebahagiaan diri kita sendiri dengan peran kita sebagai mama dan istri. Tips dari saya? Ouw, jelas bukan. Orang saya sendiri juga masih sering OD me time. Hihihihihi..... Tips dari Oni, dong inih. 

Tentukan dan patuhi batasan frekwensi dan waktu untuk me time yang sudah kita tentukan sendiri. 

Penentuan frekwensi dan waktu me time tentunya disesuaikan dengan kebutuhan kita dan kondisi keluarga kita. Biar sama-sama enak, boleh banget kalo kita berdiskusi dan minta pendapat sama suami serta anak-anak. 

Setelah menentukan batas waktu dan frekwensi, Ya udah harus patuh dan straight. Misal, nih, untuk me time shopping make up dan baju ke mall adalah 22 kali dalam sebulan (maklum, horang kayah!), berarti kalo nggak super urgent dan berkaitan dengan hidup msti seseorang, ya nggak usah shopping kalo bulan itu udah 22 kali ke mall. (Usut punya usut, ternyata kerjanya emang pegawe mall. Hahahaha.....)

Demikian juga dengan urusan waktu. Misal waktu untuk shopping yang kita tentukan adalah weekday ketika anak-anak lagi di sekolah seharian. Enggak peduli di mall ada Saturday super crazy sale, pokoknya gak boleh shopping! 

Pastikan semua tugas kita sebagai istri dan ibu sudah beres sebelum me time.

Which is menurut saya mission impossible! Kerjaan ibu rumah tangga itu kayaknya nggak bakal pernah bisa beres dan selesai. Bangun tidur beberes kasur, abis mandi beberes kasur lagi karena abis dibuat loncat-loncatan sama anak. Jalan ke ruang tamu, beberes ruang tamu karena anak-anak yang baru aja diusir dari kamar pindah daerah jajahan ke ruang tamu. Trus? Balik lagi beberes kamar karena anak-anak maen  ke kamar lagi. Abis itu ngepel minyak goreng yang dituangin anak ke lante dengan sengaja dan dalam keadaan sadar tanpa paksaan dari pihak manapun. Trus? Balik kamar buat ganti seprei karena anak yang habis maen minyak goreng dan belum sempet dibersiin guling-guling di kasur.  Udah gitu aja terus sampe malem. Arg! Ini masih urusan beberes rumah, ya. Belum masak, ngurus anak, ngajari anak bikin PR, endebreh endebreeeeeh.

Bapak Oni juga setuju kalo yang namanya kerjaan rumah nggak pernah bakalan bisa selesai. Tapi gimana-gimana kita kudu bikin standar 'selesai' sebagai batas udah boleh me time atau belum. Let say,  siang hari boleh nonton drama Korea kalo anak-anak sudah berangkat ke sekolah, udah cuci dan jemur cucian, udah nyiapin makan siang. 

Pinter banget khan, bapak Oni menjawab dalih istrinya yang suka maen game padahal kerjaan rumah belum ada yang dipegang. Ihik.....

Me time yang menghasilkan duit? Nggak papa, kok. Hanya saja.......

Sebagai pecinta uang, saya memang suka banget memonetize hobi. Termasuk hobi saya bikin busy book. Yang awalnya bikin busy book ini cuma untuk me time sekaligus program sayang anak, jadinya sekarang saya jual-jualin busy book sampe C nggak sempet punya busy book sendiri. C biasanya maen-maen sama halaman-halaman busy book baru atau busy book yang udah jadi tapi belum dikirim ke pembeli.

Menyenangkan? Yeah, of course. Tapi kadang saya bukannya seger habis bikin busy book, tapi sumpek. Karena apa? Karena hari itu sebenernya saya nggak mood bikin busy book. Tapi jadinya terpaksa karena ada orderan yang harus dikirim.

I think me time is not me time anymore kalo lebih banyak memberikan pressure daripada kesenangan buat yang melakukannya. No? Solusinya? nggak ada. cari me time baru.



Monday, August 21, 2017

SENIN RUMPITA: Akun Media Sosial Untuk Anak, Perlukah?


Yang saya maksud di sini adalah akun media sosial kayak punya Natusha, anaknya Glen Alinski dan Chelsea Olivia itu, lho. Dimana anak yang masih piyik banget, jalan aja belum bisa apalagi pegang gadget, dibikinin akun media sosial oleh emak bapaknya. Nanti yang mengelola akun itu ya emak bapaknya sendiri, bukan anaknya. 

Saya sendiri sebenernya pernah bikin akun instagram untuk C. Awal mulanya, C beberapa kali mendapat tawaran untuk jadi model produk jualan temen-temen saya di komunitas pedagang online shop. Nah, saya pikir, boleh juga nih C saya bikinin akun IG sendiri. Selain untuk dokumentasi pribadi, yah barangkali dese bisa jadi selebgram gitu. Khan lumance, mendukung karir anak sejak dini. #eaaaa *bilang aja mamaknya matre.

Memang, setelah memiliki akun IG sendiri, C jadi lebih banyak mendapatkan tawaran endorse. Tapi setelah beberapa bulan mengelola akun IG nya C, saya memutuskan untuk menutup akun tersebut. Lho kok? Lho kok?

Pertama karena saya lumayan shock ketika tiba-tiba ada orang yang menghubungi akun IG nya C lewat DM. Di DM tersebut, awalnya orang ini nanya-nanya sopan. Sayapun menjawab dengan sesopan mungkin seperti layaknya menjawab pertanyaan pelanggan onlineshop saya. Terus dia mulai muji-muji C. C lucu lah, C cantik, lah. Di sini saya mulai curigong, ya. Kok muji-muji nggak jelas. DM cuma saya read aja. Saya pikir kalo orang mau nawarin endorse, biasanya udah ngomong di depan. Lha ini kok ngomong dan nanya muter-muter melulu. Eh setelah saya cuekin kok terus berlanjut nanya yang enggak-enggak menjurus ke pertanyaan yang nggak patut dan nggak pantes. Muji-muji foto-foto C dengan komentar-komentar nakal. Ya ampun, pikir saya, kelainan ni orang. Masa ya muji flirty bitchy ke bocah. Wong anaknya ya pake baju lengkap dan sopan. Oke, BLOCK!

Lalu saya jadi negthink, kalo orang sejenis ini komen-komen atau DM nakal, saya bisa langsung block supaya orang itu nggak bisa liat foto-foto C lagi. Tapi gimana dengan orang-orang yang sekedar 'menikmati' foto-foto C tanpa komen dan DM. Trus orang-orang yang sudah saya block itu bisa saja khan bikin akun baru? Hih serem!

Kedua, lama-lama saya jadi males update IG nya C. Ya gimana yah, saya sendiri punya 4 akun instagram. 1 akun saya pribadi, 2 akun jualan, dan 1 akun IG nya C. Kalo akun jualan masih enak, tinggal repost-repost foto testimoni pembeli, Tapi akun pribadi saya dan akunnya C banyak mangkraknya. Orang memang saya jarang banget foto-foto. Jadinya sering banget, foto-foto C yang sudah saya pajang di IG saya, saya pajang ulang di IG nya C, biar apdet aja. Lha kalo isinya sama, trus buat apa ya bikin 2 akun IG? Followernya juga kurang lebih sama.

Ketiga, simpel aja. Anaknya nggak dapet benefit apa-apa dari punya akun IG. C bukan (atau belum?) artis cilik yang butuh media sosial pendukung untuk karir. Juga bukan foto model anak. Benefit yang sifatnya bukan materi juga nggak ada. Supaya anaknya eksis, supaya keep in contact sama temen-temennya, dan endebreh endrebreh? Ya enggak, orang yang pegang akun socmed bukan anaknya sendiri. Kalo untuk arsip, sudahlah pake akun media sosial emaknya aja. Sama saja, khan?

Jadi kalo bagi saya, enggak perlu itu yang namanya bikin akun media sosial untuk anak.

Eh, ini kalo saya, ya. Bukan berarti teman-temin yang bikin akun media sosial untuk anak itu salah. Khan keperluan tiap orang juga beda-beda. Sah-sah saja kalo ada ortu yang bikinin akun media sosial buat anaknya.

Kalo saya boleh sotoy, ada beberapa hal yang harus diperhatiin kalo kita kepengen bikin akun media sosial untuk anak:

Pertama-tama kudu kita pastiin dulu, apa tujuan kita bikin akun media sosial untuk anak. Untuk mendukung karir anak, mau orbitin anak jadi selebgram, atau sekedar untuk dokumentasi dan sharing kabar tentang anak melalui foto dengan teman dan kerabat deket aja? Dari sini nantinya kita bisa memutuskan, foto-foto seperti apa yang bakal dipajang di media sosial anak. Juga tingkat privasi akun media sosial tersebut.

Kalau tujuannya untuk dokumentasi dan konsumsi pribadi, kita bisa memilih level privasi paling maksimal agar foto-foto anak kita tidak bisa dan tidak mudah diakses oleh sembarang orang. Dengan begitu, resiko foto anak-anak kita dipake sembarangan tanpa ijin juga minim.

Lain halnya apabila akun media sosial tersebut digunakan untuk mendukung karir atau untuk mengorbitkan anak menjadi selebgram, tentunya tingkat privasi akun media sosial tidak bisa terlalu tinggi. Karena level privasi yang tinggi justru akan membatasi fans dan follower. Padahal tujuan bikin akun media sosial khan untuk menyentuh fans dan follower.  Tingkat privasi yang rendah ini juga membuka kesempatan bagi orang-orang yang tidak beritikad baik.

Nah lo? Siap nggak kita sebagai ortunya kalo foto-foto anak kita tiba-tiba dipake tanpa ijin oleh orang lain? Mending kalo digunakan untuk hal positif. Temen saya ada lho yang foto anaknya tiba-tiba dipake oleh penyebar berita hoax di FB. Jadi ceritanya, bayi temen saya ini memang kulitnya putih banget, sementara papanya item. Nah, temen saya ini mengunggah foto anaknya yang lagi bugil, cuma pampers an doang lagi digendong dan dicium papanya sendiri. Kok ya pas ekspresi anaknya kayak nggak suka dan berontak gitu.  Eh lha kok tiba-tiba foto tersebut beredar di internet dilengkapi dengan tulisan warning supaya orang tua berhati-hati terhadap orang asing yang menyentuh anak kita. Temen saya dan suaminya mencak-mencak. tapi ya udah sampai di situ aja, engga ditelusuri lebih jauh siapa penyebar foto tersebut. Hahahahaha.... Ada-ada aja.

Kedua, jangan mengunggah foto-foto yang sekiranya akan mempermalukan anak di kemudian hari. Misal foto anak kita sedang makan upil gitu *yuck! Well, kalo masih bayi sih lucu ya. Tapi kebayang nggak kalo foto tersebut bisa jadi bahan untuk membully anak kita beberapa tahun kedepan?  Hm.....

Ehm, bukan ngasih tips ini ya? Malah nakut-nakuti. Hahahaha.... mangap...mangap.

Kalo diantara teman-temin, adakah yang sependapat dengan sya? Atau mungkin ada yang punya akun media sosial buat anak? Sharing dong alasan dan pengalaman kalian di komen postingan ini.

Oh, iya, tema tulisan tentang media sosial ini adalah tema minggu ini di SITI NURBAYA COLABORATIVE BLOGGING, lho. Geng ngeblog saya yang bersama beberapa emak-emak kece di grup KEB. Ihik....


Sila baca juga tulisan member SITI NURBAYA COLABORATIVE BLOGGING yang di muat di website KEB berikut inih:



Sunday, August 13, 2017

TULISAN AYU #1: Surat Buat Paijo

Halo!  Postingan kali ini bukan tulisan saya, tapi tulisan si Ayu. Teman-temin yang sudah lama membaca blog saya pasti mengenal Ayu. Ayu adalah salah satu sahabat saya yang beberapa kali saya sebut di beberapa postingan. Si Ayu ini sebenernya demen banget nulis-nulis, tapi entah kenapa nggak mau bikin blog walopun saya maksa-maksa. *yes, I'am tukang paksa. 
Di sebuah chat ngalor ngidul, tiba-tiba terlintas dalam pikiran kami berdua. Gimana kalo sesekali Ayu jadi penulis tamu di blog saya. So, this is it, tulisan pertama si Ayu di blog ini. Please feel free to read and to comment. Dese pasti bakal baca komen teman-temin di blog ini, kok. ^_^ 



Dear Pay

Lama ya kita ga ngobrol. Mungkin sudah hampir 10 tahun?
 
Pay, mungkin agak aneh tapi aku ada 1 hal yg ingin sekali sampaikan…..
Pay, sudah hampir 15 tahun (mungkin lebih? Entah) ini sosok kamu rutin hadir dalam mimpiku. Aku berani jamin, aku mimpiin kamu itu ga sekalipun karena aku ingat apalagi mikirin kamu. Dan bukannya senang, aku malah merasa bingung campur kesel sdikit (soalnya kan ngapain juga sih ya mimpiin kamu..). Kamu kan sudah jauuuuuuuuh banget entah dimana, dan pastinya aku sudah ga punya perasaan tertentu thd kamu.

Sekedar cerita aja, beberapa tahun belakangan ini aku punya masalah kejiwaan. Haha…iya Pay, aku depresi berat (ga usah kepo pengen tau kenapa ya. Hehe), yang bikin aku harus berurusan dengan psikiatri. Dan dalam masa yang berat itu, sosok kamu selalu muncul setiap hari dalam mimpiku. Setiap hari. GILA. Makin aku depresi jadinya. 

Sosok kamu muncul dalam beragam cerita di mimpiku, dan TIDAK SEKALIPUN bicara…alias diam aja. Bikin makin kesel kan? Ngomong apa kek…say helo kek…apa gitu?

Dulu…..dulu buangettttt……jaman New Kids On the Block belum bubar, dan Justin Beieber belum lahir (hehehe)….mimpiin kamu itu kalau lagi kangen. Lha sekarang? Aku bisa dihujat istri kamu.
………………

Pay, aku cerita ini bukan ingin mengingat-ingat memori masa muda (hm…skarang sudah tua ya?). Tapi aku penasaran sekali… Ini bukan sekedar bunga tidur. Bayangkan, sudah hampir 15tahun. Sampai ada satu pagi dimana aku bangun tidur dengan kesal. 

Ya aku kesal… Kesal karena aku bosan ketemu kamu stiap malam. (dalam mimpi). 

Aku sudah bicara dg psikiatriku, dan beliau hanya bilang kalau sosok kamu itu representasi akan sesuatu dalam hidupku. Tapi apa?? Apaan ya? Entah.

Aku bosan lihat kamu setiap malam. Aku bingung bagaimana mau sampaikan ini ke kamu. Aku sungkan mau cerita ke kamu. Aku ga berani kontak kamu bahkan via fb.

Oya, kamu pengen tau “cerita dalam mimpiku”? Biasanya kamu hadir itu sekilas wajah. Sekelebat. Kadang juga duduk atau melakuan sesuatu. Dan semua adegan itu kamu perankan dengan DIAM. Macam nonton filmnya Charlie Caplin. Film bisu.

Pay, taukah kamu betapa aku ingin sekali bermimpi ketemu seseorang (yg wkt itu calon suamiku dan gak jadi nikah. Ehhh…kok curhat?). Dan kadang kala aku ingin tidur ga usah pakai mimpi. Aku ingin bisa tidur nyenyak, Pay.

Tapi lagi-lagi, mimpi kamu.

-Karawang, agustus 2017-

Saturday, August 12, 2017

KULINER: Ngobrol Bareng Farah Quinn Sambil Mamam Queen Apple. Cucok Cyn!

Halooooo! Hari ini saya lagi puasa karena kemaren saya khilaf makan banyak banget bolu. Bukan bolu, biasa, ya Mak. Tapi bolu dari Queen Apple. Yes, betul. Queen Apple ini adalah salah satu oleh-oleh khas Batu dan Malang yang diusung oleh Farah Quinn, si chef cantik dan seksi mandraguna.


Jadi ceritanya, kemarin, saya dan teman-teman dari Malang Citizen diundang secara khusus oleh tim Queen Apple ke acara meet and greet sama Farah Quinn. Dese sengaja datang dalam rangka new product launching. Uwuw, what a pleasure, bisa mencicipi produk baru sekaligus ketemu dengan salah satu ownernya.


Di acara meet and greet itu, chef yang punya background pastry art ini  menjelaskan dan mempresentasikan keistimewaan produk baru Queen Apple, yaitu bolu dengan filling apel malang dan coklat dengan topping crunchy cocoa di atasnya. 

Seperti yang dibilang sama Farah Quinn, iyes, saya mengamini, memang bolu Queen Apple ini beda dengan bolu-bolu lain. Teksturnya lembut dan lumer di mulut. Topping crunchy cocoa-nya juga nggak pelit. Duh, favorit saya nih coklat.

          Ini juga favorit akika: BARANG BEKAS FAVORIT

Eneg, duong?  Enggak sama sekali. Karena rasa cocoanya mild dan nggak manis-manis amat. Cuma agak rembay makannya, karena toppingnya luber-luber, jadi brodol ke mana-mana kalo makan sambil jalan-jalan. Ya khan saya nggak mau ketinggalan nyimak penjelasan Farah Quinn nya. Tapi saya juga nggak bisa menahan godaan ngambil lagi dan lagi kalo bolu di mulut saya habis. Makanya saya mondar mandir melulu ke meja saji. Hahaha... Yes, I am danjek. Apalagi kalo berhadapan dengan makanan enak.

photo by: Tim medsos Queen Apple


Tuh, khan. Topping crunchy cocoanya banyak dan gede-gede. 

Selain itu, yang bikin bolu ini spesial adalah filling apel Malang-nya lebih terasa. Trus pake bahan kayu manis juga gitu. Jadi di antara manisnya cocoa, ada asem-asem khas apel Malang yang mengimbangi serta semriwing samar-samar aroma kayu manis. Kadang juga bau menyan kalo makannya pas lagi ngantri konsul ke dukun. What a perfect combination! Pinter amat sih kamu bikin resepnya,  Farah. Iiii gemes gemes ..... pengen nyakar jadinya.


Yang baju merah itu sopirnya Farah Quinn adik saya si Mel yang kebetulan lagi senggang. Jadi saya ajak sekalian. Barangkali kalo berdiri deket-deket Farah Quinn, kita bisa ketularan kece kayak dese. Bree juga saya ajak, biar image saya kerenan dikit, emak-emak sayang anak. Eaaa.... Tuh ya, saya dan Mel keliatan kayak minion kalo sebelahan sama Farah Quinn.  Genter dan langsing banget, cuy. Benci deh, ah.  Udah gitu, ternyata orangnya jauh lebih cantik daripada yang biasa saya liat di tivi. Ramah banget lagi. Sehabis foto-foto, dese sempet unyel-unyel Bree sambil nyoba ngajak bicara  Bree. Sayang Bree-nya no respon, cuma melongo ngliatin Farah Quinn sambil ngiler. Hadah!

          Memang anak-anak saya unik, Kak: YANG UNIK


Beberapa temen-temen saya dari Malang Citizen lagi heboh moto-moto biar dapet foto produk yang purrrrfect. Saya? Masih ngunyah bolu dong, ah. Eaaa.......

Andai daya tahan Queen Apple agak panjangan gitu, mungkin saya bakal open jastip. Saya yakin bakal banyak yang minat order dan repeat order. Sayangnya bolu ini daya tahannya nggak panjang, cuma 3 harian. Bagus sih ya, tidak mengandung bahan pengawet. Jadi kalo kepengen menikmati kesempurnaan dan keseksian rasa Queen Apple ini, mending beli langsung aja. Itulah sebabnya juga, kenapa Farah Quinn juga nggak menyediakan layanan pesan online di website resmi Queen Apple.

Bagi kamyuh-kamyuh yang ngidam kepengen nyobain Queen Apple ini, sori yeeee.... Farah Quinn udah bilang kalo dese nggak bakal buka cabang Queen Apple di kota lain. Soalnya Queen Apple ini mempertahankan bahan khasnya, yaitu apel Malang. Maksudnya biar  wisatawan yang ke Malang akan dengan bangga membawa Queen Apple sebagai oleh-oleh gitu.

          Hayuk lah sini maen ke Malang. Mumpung banyak:  HARPITNAS 2017 

Jadi kalo teman-temin lagi jalan-jalan kece manis manja ke Malang, mampir aja ke salah satu outlet Queen Apple di bawah inih:

1. Fariz pusat oleh-oleh Batu (Depan Museum Angkut).
2. Kafe Ria Jenaka Batu.
3. Hotel Harris - Malang.
4. Kafe Box Bandara Abdul Rahman Saleh - Malang.
5. Kafe Box MOG - Malang.
6. Kribo pusat oleh-oleh Jln. Tumenggung Suryo 110 A - Malang.
7. Queen Appel jl. Perusahaan no. 6 Karanglo – Singosari – Malang.
8. Kencana pusat oleh-oleh Singosari – Malang.
9. Social Palace, Jl. Raya Danau Maninjau, Sawojajar - Malang.
10. Queen Appel Jl. Kawi Atas No. 23 - Malang.

Borong yang banyak, Cyn. Ngga perlu khawatir basi sebelum habis. Farah Quinn ngasih tips buat kamyuh yang kepengen nyimpen Queen Apple lebih lama. Sesegera mungkin ketika tiba di rumah, bolunya kita buntel pake plastic wrap. Trus simpen deh di kulkas atau freezer. Kalo mau makan, tinggal didiemin di suhu ruang atau di reheat pake microwave selama 30 detik.


Foto bareng dulu sebelum pulang. Ni liat tampang-tampang kita yang bahagia soalnya udah pada kenyang  nyobain Queen Apple. Hihihi.....

Oh iya, buat kamyuh yang nggak gitu doyan coklat, jangan khawatir. Queen Apple juga ada 3 varian lain, yaitu vanilla, cinnamon, dan cheese. Semua dipatok dengan harga Rp. 60.000,- 
Buat kamyuh yang kepengen variasi cake selain bolu, Cuss beli Queen Strudel. Varian Queen Strudel juga ada empat, yaitu original apple, cheese, apple vla, dan chocolate banana. Semua dipatok dengan harga Rp. 65.000,-. Eh enggak, denk. Yang choco banana lebih mahal goceng, harganya Rp. 70.000,- 

Photo by: Tim medsos Queen Apple

Kata Farah Quinn, sih rasa Queen Strudel ini juga nggak kalah enak. Karena menggunakan bahan pilihan, jenis kulit luarnya strudel flucky butter yang renyah, dan diisi dengan potongan apel yang besar-besar. Biar lebih ngapel gitu. Ngapel ke rumah pacar. Bawa Queen strudel. Biar camer bahagia. Nglantur maksimal. Ntar lah kalo kita lagi ada waktu, saya dan Mel mau maen ke outletnya Queen Apple buat nyobain Queen Strudel.Kepo, kita kepooooo!

Thursday, August 03, 2017

REVIEW: Sariayu Lipstick Toba 02


Halo, apa kabar? Akhir-akhir ini hawa kota Malang dingin dan windy banget. Bikin saya jadi selalu ngantuk seharian dan males ngapa-ngapain. Termasuk males ngeblog. Hahay... Apalagi seminggu ini C dan Bree bebarengan terkena flu.Hadeh, rembay, Cyn.

Di postingan kali ini saya mau mengulas tentang lipstick Sariayu seri Toba 2. Elah, bahas urusan lenung-lenung lagi. Gapapa ya, Bok. Maklum, akika lagi kemayu. 😋


Kemasan 

Sariayu Lipstick Toba 2 ini termasuk dalam trend warna 2010 Sariayu Martha Tilaar koleksi Toba. 

          Baca juga: YUK PAKAI PRODUK ASLI INDONESIA

Kalo kita intip di review-review para beauty blog, di awal-awal launching koleksi Toba ini, cap penutup lipsticknya transparan dengan hiasan gambar bunga. Tapi punya saya capnya berwarna silver. Saya lebih sukak. Karena keliatan lebih elegan gitu.

Berat bersihnya rata-rata lipstick pada umumnya ya. 4,5 gram. 

Cakep deh, di lipsticknya ada grafir bentuk apa ya itu? (malah nanya.) Pokoknya bikin first impression lipstick ini keliatan mewah. Sedangkan di badan lipsticknya ada grafir tulisan Sariayu. Well, hal-hal begini memang bukan essential. Bagi saya, yang paling penting adalah kualitas lipsticknya sendiri. Tapi tetep aja saya syeneng. Selama ini produk kecantikan Indonesia khan suka kalah dalam hal kemasan. Nah ini nih, Sariayu kemasan dan penampilannya sudah yahud dan siap go internesyenel. Ahay!



 

Warna & Tekstur

Sariayu Lipstick Toba 2 ini berwarna pink dengan hint oranye yang cukup kuat. Jujur, biasanya saya selalu menghindari warna-warna yang orenji-orenji untuk lipstick. Bibir saya yang sudah memble ini kelihatan makin memble kalo pake warna yang ada unsur oren-nya. Warna kulit wajah saya yang cenderung kemerah-merahan jadi makin menyala gitu kalo pake lipstick warna oren. Singkatnya, saya anti lipen oren! Kalo ada lipen warna orenji yang saya beli, biasanya karena lapar mata aja. End up nggak pernah dipake dan dijadiin campuran warna lipstick lain.

          Baca yuk: CAPUR-CAMPUR WARNA LIPSTICK

pic: https://marthatilaarshop.com
Tapi Sariayu Lipstick Toba 2 amazingly cocok-cocok aja sih saya pake. Keliatan natural dan nggak medok. Teksturnya lumayan creamy. Jadi nggak susah untuk dioles dan diratakan di bibir. Cuma karena pigmentasinya kurang gahar, jadi nggak bisa nutupin 100% warna asli bibir saya yang agak kehitaman. Cucok, lah dipake buat sehari-hari atau acara casual. Bisa bikin bibir keliatan seger tanpa harus  bold dan mencolok banget. Dan yang terpenting, makenya gampang, Cyn. Kalo lagi cepet-cepetan, tinggal sret srettttt. Nggak perlu hati-hati banget makenya kayak pake lipen-lipen dengan pigmentasi tinggi. Kayaknya saya bisa sering-sering pake lipen ini. 

          Mungkin juga bisa masuk list ini: HIT PAN PROJECT
 
Foto atas itu warna asli bibir saya. Sedangkan foto bawahnya adalah bibir saya yang sudah saya olesin Sariayu Lisptick Toba 2. Ngolesinnya tanpa ngadep kaca, lho, Cyn. Nggak beleber-beleber, khan. 

Kalo ditanya ini lipen glossy atau matte, eeeeng... saya nggak tauk. Soalnya nggak glossy, nggak matte. Nggak satin finish juga. Pokoknya lipen standard jadul itu, deh. 

Oiya, satu lagi yang saya suka dari lipen satu ini. Aromanya manis kayak permen. Samar aja sih, nggak kuat banget.

Overall, lipstick Sariayu Toba 2 ini masih worth to buy. Kalo di website resmi Sariayu, harganya around 55K. Nggak murah banget, sih. Tapi juga nggak bikin suami migren. Recomended terutama buat kamu-kamu penggemar warna pink dengan hint orange. Cocok buat sehari-hari atau bikin make up korean look yang bibirnya minyuk-minyuk cutie-cutie innocent gitu. Bisa banget dipake sehari-hari. Nggak bikin bibir kering juga, say. Soalnya mengandung vitamin E yang juga berfungsi sebagai antioksidant.

But NO, i will not buy this product again. Mau nyoba warna lain aja. Hehehe.....

Monday, July 24, 2017

REVIEW: Roro Mendut Royal Black Spice Whitening Scrub and Mask


Adakah teman-temin yang sudah pernah mendengar brand 'RORO MENDUT TRADITIONAL BEAUTY'? 

Roro Mendut Traditional Beauty adalah perawatan tradisional kecantikan organik. Diformulasikan dari ramuan resep jamu yang digunakan untuk ritual kecantikan tradisional Keraton Mataram Yogyakarta. Memanfaatkan penggunaan dedaunan, akar-akar, biji-bijian dan rempah-rempah yang khasiatnya telah terbukti secara ilmiah oleh dermatologis bermanfaat bagi perawatan kecantikan.

Saya sendiri sudah sering mendengar merk ini dan berniat mencoba. Tapi tiap kali jalan-jalan ke mall, supermarket, dan toko kecantikan, saya nggak pernah nemu.  


Itulah sebabnya, saya super excited ketika abang kurir nongol di depan rumah membawa paket dari Roro Mendut Traditional Beauty. Asek asek asek... akhirnya kesampean juga keinginan saya nyobain Roro Mendut. 

Paket Roro Mendut Traditional Beauty yang saya terima berisi 2 sachet Royal Black Spice Whitening Scrub dan 3 sachet Royal Black Spice Whitening Mask. Keduanya bisa digunakan pada wajah maupun tubuh. Satu sachet berisi 40 gram. Untuk perawatan wajah, 1 sachet bisa digunakan 3x. Sedangkan untuk perawatan seluruh tubuh, 1 sachet digunakan sekaligus. 

Harganya? Murah, kak. 1 paket itu harganya Rp. 140.000,- Berarti 1 sachet 28 ribuan. 

Duet lulur Roro Mendut dan masker Roro Mendut ini mengandung bahan: rempah, kopi, teh hitam, rumput laut, dan beras ketan organik. Tau nggak sih, nggak hanya merupakan produk asli Indonesia, bahan baku Roro Mendut juga 100% berasal dari hasil pertanian dan perkebunan Indonesia. Vegetarian suitable, no animal testing, halal, telah ternotifikasi di BPOM dan diproses dengan standar CGMP. Karena sangat alami dan lembut, produk Roro Mendut juga dapat di gunakan untuk ibu hamil, menyusui, dan bahkan untuk baby spa. Uwuw..... jadi yakin kalo produk ini pasti aman dipake.

Selain untuk memutihkan kulit, seabrek manfaat lain yang bisa diperoleh: 
  • Membersihkan sel kulit mati, daki, dan komedo. 
  • mencerahkan kulit kusam.
  • Mengatasi noda pada kulit, baik noda jerawat maupun bintik hitam.
  • Meperbaiki warna kulit yang tidak merata.
  • Memperbaiki tekstur kulit termasuk merapatkan pori-pori. 
  • Menutrisi kulit secara optimal.
  • Mengoptimalkan regenerasi kulit. 

Singkatnya, kalo rajin dan rutin pake lulur dan masker ini, kulit tubuh dan wajah bisa jadi bersih, halus, kenyal mentul-mentul, kencang dan menambah daya tarik serta sensualitas pada kulit kita. Sensual, Cyn. Sensual! Sama kayak figur Roro Mendut yang namanya dipake buat brand produk ini, gitu lho.

Apa? Kamyuh nggak tau siapa Roro Mendut? Ah, gak gahol kamuh. Padahal kisahnya udah berkali-kali diangkat ke layar lebar. Novelnya juga sudah banyak ditulis dengan berbagai versi. Salah satunya versi si pastor sepuh tapi super heits, yaitu Romo Mangun.   Jadi gini ceritanya, Roro Mendut ini adalah tokoh mitologi dalam salah satu cerita rakyat klasik Babat tanah Jawi. Dese hidup di jaman kesultanan Mataram. Sangking cantik dan seksinya, sampe-sampe dia jadi rebutan para pria pada jaman itu. Termasuk para raja dan panglima. Jangankan rahasia kecantikannya, putung rokok bekas mulutnya dia aja laku keras dan dihargai mahal. 

Sayang perjalanan cinta Roro Mendut ini nggak berakhir bahagia. Dese menolak dijadiin selir oleh seorang panglima perang dan lebih memilih pemuda lain bernama Pranacitra. Pranacitra terbunuh dalam pertarungan dengan panglima perang tersebut. Roro Mendut sendiri bunuh diri menggunakan keris yang sama yang digunakan untuk membunuh kekasihnya. Huhuhuhu... sedih ah. Yuk balik bahas lulur dan masker Roro Mendut aja.

 
Lucu ya, sachetnya dihiasi motif rempah-rempah. Plastik sachetnya lumayan tebal dan kuat, serta dilengkapi dengan sealer. Jadi kita nggak perlu bingung gimana nutupnya kalo masih ada bubuk lulur yang tersisa. Kemasan baru rupanya. Soalnya saya intip beberapa review lama dari para beauty blogger,  foto sachetnya cuma plastik transparant  tipis polos tanpa motif. 

  
Ini penampakan bubuk lulurnya. Butiran scrubnya lebih halus daripada salt scrub, jadi nggak kerasa sakit waktu diusek-usek ke kulit. Ketika pertama kali mengendus bubuk lulur, eh baunya kok aneh, ye. Mirip thinner kuteks atau obat. Hahahahaha... serem amat. Tapi setelah dicampur air, tercium aroma kopi dan bunga. Warna dan aroma bubuk masker kurang lebih sama dengan bubuk lulur. Hanya saja nggak ada butiran scrubnya dan aromanya memang wangi rempah. 

Cara pakenya gimana? Susah? Halah gampil, tinggal campur bubuk lulurnya dengan air hangat sampe mengental. 
Karena saya suka lulur yang teksturnya sangat kental mendekati padat, jadi air yang saya campurkan nggak banyak. Yang penting bisa membantu bubuk lulurnya menempel pada kulit. 
 


Setelah itu oleskan secara merata pada daerah yang diinginkan.  Jangan lupa dipijit-pijit dengan gerakan memutar, supaya daki-daki membandel terhempas.  Baru deh habis itu dibilas menggunakan air hingga bersih.

Lanjutkan pemakaian lulur dengan pemakaian masker.  Ooo.... pake maskernya harus setelah pake lulur, ya? Ya enggak juga. Pokoknya pakenya ketika kulit sudah dalam keadaan bersih. 

Cara penggunaannya sama persis dengan lulur. Hanya saja setelah diusapkan merata ke seluruh tubuh dan wajah, nggak usah pake acara pijit-pijit, cukup didiamkan selama 15-20 menit hingga adonan masker kering dan mengencang, baru deh dibilas pake air. 
 


Keliatan nggak bedanya? Ini perbandingan tangan kiri saya yang nggak dilulurin dengan tangan kanan saya yang sudah pake lulur. Tangan kanan saya nampak lebih cerah dan mengkilap.



See? See? Tangan kiri keliatan kusam, tangan kanan keliatan halus.

Untuk maskernya, saya baru nyoba di muka. Pakenya di kamar C, siang-siang waktu Bree lagi boci. Nyaman betul. Sudah lamaaaa banget saya nggak ber-me time ria dengan merawat kulit. 

          Baca juga: Ibu-Ibu Kekinian Ala Instagram


Abaikan C di belakang saya yang kepo maksimal dan mau ikutan aja kalo ada yang lagi foto-foto. 😁 Saya lebih senang mengaplikasikan masker menggunakan kuas. Kadang pake kuas masker, kadang pake foundation brush yang bentuknya pipih. Lebih enak dan gampang merata. 

Tebel ya pake maskernya. Padahal saya ngambil bubuk maskernya nggak banyak-banyak amat, lho. Kurang dari 1 sdm. Berarti masker Roro Mendut ini bisa dipake setidaknya 6X kalo cuma buat muka aja, mah. Irit, Kak.   Cihuy.

Oiya, kalo maskeran saya demennya sambil posisi tiduran. Nggak bisa ngapa-ngapain, sih jadinya. Tapi pemakaian masker seharusnya kan memang pada waktu kondisi tubuh kita rilex dan menghindari gravitasi yang menyebabkan kulit kita menurun. Jadi yang bener ya sambil tiduran (bukan sambil tidur ye, bok). Itulah sebabnya,  waktu mengaplikasikan masker juga harus dengan gerakan ke atas. 

Karena pake maskernya tebel, saya kira bakal makan waktu lebih lama untuk menunggu masker di wajah saya mengering. Tapi nggak sampe 20 menit maskernya sudah kering, tuh. Belum betul-betul kering sempurna, sih. Acara maskerannya terpaksa bubar. Bree kebangun gegara denger C yang ribut aja pengen ikutan pake masker. 

Berbeda dengan penggunaan lulur yang hasilnya udah keliatan walaupun cuma satu kali pake, muka saya kok nggak ada bedanya ya, antara sebelum dan sesudah pake masker? Ada denk. Dikiiiiit. Muka saya berasa lebih keset dan kenyal. *Yakalik, kak. Ini pake skincare, bukan bangun candi. Please deh, ah!

Saya lupa. Namanya juga skincare, beda dengan make up. Tentu hasilnya baru akan keliatan dan bertahan lama apabila dipake secara rutin. Apalagi Roro Mendut ini menggunakan bahan-bahan organik dan alami. 

 So, YES! YES! YES! I am gonna buy this product again! 

Ayok, mari… teman-temin yang kadang lupa bahagia ber me time ria dan merawat kulit karena kesibukan sebagai ibu rumah tangga kayak saya ini. Atau karena kesibukan kerja dan lain-lain. Luluran dan maskeran yuuuuuuk…..

PROS: 

  •  Dari bahan alami & organik.
  •  Kemasannya fungsional.
  •  Wanginya enak. Dominan kopi dengan sedikit hint aroma bunga. 
  •  Butiran scrubnya halus, nggak bikin sakit waktu digosokkan ke kulit. 
  •  Hasil pemakaian lulur sudah nampak walaupun baru 1x pemakaian. 

CONS: 

  • Pemakaian maskernya ribet.
  • Susyeh kalo mau beli langsung. Toko offline nya baru ada di Mirota Jogja. 


Beli dimana?

Online :

Offline :
Mirota Batik Malioboro,
Toko Oleh-Oleh Yogyakarta.