10 Februari 2017

DIY PROJECT: Busy Book - Januari

Seperti yang sudah saya ceritakan di postingan bulan Januari kemaren, Salah satu resolusi 2017 saya adalah membuat 60 halaman busy book. Yang artinya saya harus membuat minimal 5 halaman busy book setiap bulan.

Nah, di postingan kali ini saya mau majang-majang 5 halaman busy book yang sudah saya buat selama bulan Januari. Hehehehehe.....


Semua halaman busy book yang saya buat bukan hasil pemikiran saya sendiri, tapi nyontek dari website orang lain. Hanya saja saya membuat sendiri polanya. Sebenernya ada banyak pembuat busy book yang nggak pelit bagi-bagi pola busy book di website mereka. Tapi saya merasa lebih sreg kalo polanya bikin sendiri. Selain karena ukurannya bisa sesuai keinginan saya, bbagian-bagian yang jahitnya susah bisa saya sederhanakan bentuknya. :p 

Pembuatan busy book saya menggunakan bahan utama flanel. Teknik jahit yang digunakan adalah teknik jahit menggunakan mesin jahit, tangan, dan mulut. *maksudnya sembari menjahit busy book, mulut saya ikutan sibuk mengunyah cemilan gituh. Eaaaa.....

Beberapa bagian yang ukurannya terlalu kecil nggak saya jahit, tapi saya tempel dengan lem UHU. Kenapa begitu? Karena saya males jahit pritil-pritil. Bikin mata saya makin jereng. Huek!

01. LANDAK 
Aktivitas: 
- mengenal hewan landak
- mengenal konsep 'siang'
- memasang dan melepas kancing cetit

02. POHON APEL
Aktivitas:
- mengenal konsep 'malam'
- memasang dan melepas kancing cetit
- memasukkan apel ke dalam keranjang
(sebenernya halaman ini belum selesai karena saya masih nyari manik-manik berbentuk bintang)

03. TIC TAC TOE - IKAN
Aktivitas: 
- mengenal hewan kuda laut
- bermain tic tac toe

04. SEPATU
Aktivitas: 
- menalikan sepatu

05. POT BUNGA
Aktivitas: 
- melepas dan memasang kancing. 
- mencocokkan warna 
- memasukkan bunga ke dalam pot


Bagi teman-temin yang kepengen melihat lebih detail busy book buatan saya, monggo mampir ke second IG saya: @olala_bebe
Di sana saya juga majang video demo singkat per halamn busy book saya.
Rencana mau jualan busy book, Fel? Ah tau aja sih kalau saya cinta banget sama duit. hahahahahahaha..... Tapi itu masih rencana aja, kok. Untuk saat ini saya bikin busy book hanya dalam rangka sayang anak. *pencitraan

O iya, Saya mau banget kalo diajak sharing atau bertukar pikiran tentang seluk beluk membuat busy book. Maklum, saya masih newbie ya. Jadi butuh banyak sharing ilmu dan tips dari teman-temin. Kalo ada yang mau nanya-nanya, errr.... kalo bisa saya jawab, saya usahakan menjawab. Asal jangan nanya berat badan saya. Instead of menjawab, saya bakal lempar yang nanya pake sendal! Saya lagi sensitif sama berat badan! Graaaah!  

Silahkan komen di postingan ini, jangan di instagram ya, soalnya kalo di IG kadang komennya ketimpa notif lain jadi gak kebaca. Empat kali empat sama dengan enam belas. Sempat tidak sempat, saya akan berusaha membalas. Ahay!


8 Februari 2017

NGOBROL: Waspadai Gaya Hidup Beresiko Neuropati


Apakah teman-temin blogger sering merasakan salah satu dari gejala di atas, terutama pada kaki dan tangan? Be careful! Bisa jadi itu adalah gejala awal neuropati.

Neuropati? Apa tuh? 
"Neuropati merupakan gangguan saraf yang dapat terjadi pada usia lanjut, penderita  diabetes, orang yang pernah mengalami trauma pada saraf, serta kekurangan vitamin neurotropik, yaitu B1, B6 dan B12. Semua orang berisiko terkena neuropati, hanya, risiko bisa lebih tinggi atau rendah, tergantung dari berbagai faktor, seperti gaya hidup dan riwayat keluarga."

Awalnya saya cuek-cuek aja waktu baca info tersebut. Iya sih, kadang-kadang tangan saya suka kesemutan kalo kelamaan maen gadget. Tapi saya nggak begitu khawatir karena saya belum berusia lanjut (aku masih 17 tahun, kakaaaak), gula darah saya normal cenderung rendah dan nggak pernah mengalami trauma saraf (apalagi trauma urusan cinta. Eakh!).  Jadi kayaknya kok nggak mungkin ya kena Neuropati. Kalaupun kena, ya nggak papa lah. Nggak terlalu menggangu kayaknya kalo cuma kesemutan atau kebas. Didiemin 5 menit juga sembuh-sembuh sendiri.

Apakah teman-temin juga berpendapat seperti saya? Well, yuk cuss baca penjelasan dari Ketua Umum PP PERDOSSI di bawah ini:

Menurut Prof. Dr. dr. Moh Hasan Machfoed, Sp.S(K), M.S,   serangan neuropati bisa timbul pada saraf motorik, saraf sensorik, maupun saraf otonom (saraf yang bekerja tanpa sadar). Serangan neuropati pada saraf motorik dapat berupa: gejala seperti lumpuh, kaki dan tangan lemas (foot drop atau hand drop), kram, otot berkedut dengan sendirinya dan atrofi otot (penyusutan jaringan otot).

Apabila yang terkena neuropati saraf sensoriknya, maka penderita cenderung memperlihatkan gejala kesemutan, hipersensitif, muncul sensasi seperti terbakar di kaki, alodinia (timbul nyeri dengan sendirinya tanpa ada rangsangan), serta baal (mati rasa). Sedangkan untuk  neuropati yang mengenai saraf otonom dapat berupa  kulit mengering, sering beser, diare maupun sembelit dan impotensi.

Hah???? IMPOTENSI?????? LUMPUH????? PENYUSUTAN JARINGAN OTOT????? Hah????!!!!!

Okay, this is super serious! *getok-getok meja. Saya nggak mau, ah kalo  potensi hidup jadi  terbatas gara-gara neuropati.  Apalagi kalo usia kita masih muda (yaelah, udah 35 tahun ngaku masih muda aja ye? Ya iya lah, belom lansia, Kak!) dan anak-anak kita masih kecil.  Tentunya kita  kepengen bisa beraktifitas bebas bersama  anak sampe mereka dewasa. Tul nggak? Tul nggak?

Oleh karena itu, mumpung masih muda, yuk kita ubah lifestyle kita yang beresiko neuropati.

Apa sih, gaya hidup yang beresiko neuropati itu? 

 
1. Duduk dalam jangka waktu yang lama. 
2. Mengendarai motor.
3. Menggunakan gadget.
4. Memasak
5. Mengetik. 
6. Memakasi high heels. 

Dapatkah teman-temin menemukan kesamaan pada 6 kegiatan di atas? 
Yak betul, semua kegiatan di atas biasanya dilakukan secara berulang atau terus-terusan dan dalam jangka waktu yang lama. Inilah kebiasaan yang dapat memicu timbulnya penyakit neuropati atau memperparah kondisi mereka yang sudah menderita neuropati.

Ya ampun! Gimana yah? Ini mah saya dan Oni banget!

Oni seorang interior designer dan gamer yang aktifitas kerja dan refresingnya sedikit banyak pasti madep komputer. Kalo kemana-mana Oni juga seringan naik motor daripada naik mobil. 

Saya sendiri? Saya gak bakalan bisa kalo diharuskan menghentikan empat dari enam kebiasaan di atas. Berhenti megang gadget?  No way! Saya pedagang online yang dituntut berinteraksi dengan calon pembeli dan pelanggan via gadget. Memasak juga merupakan kewajiban saya sebagai ibu rumah tangga. Ya kalik kalo duit saya udah cukup banyak dan bisa hire chef. eakh....  Menghentikan kebiasaan mengetik juga gak mungkin. Lha wong saya adalah seorang blogger! Keyboard komputer is my second husband.  Dan saya pasti suka lupa waktu kalo lagi semangat nulis blog. Saya bisa duduk di depan komputer berjam-jam.

Kebiasaan naik sepeda motor dan memakai high heels enggak, sih ya. Soalnya saya nggak bisa naik sepeda motor dan kaki saya pernah mengalami cidera engkel, jadi sama dokter disarankan nggak usah kecentilan pake high heels. Tapi saya yakin banyak dari teman temin yang merasa keberatan kalo disuruh menghilangkan dua kebiasaan ini. Banyak teman saya yang walaupun memiliki mobil tetapi lebih memilih naik sepeda motor karena alasan praktis. Nggak sedikit kantor yang mencantumkan sepatu high heels dalam standard grooming.

Nggak heran, sekarang nggak cuma orang-orang yang berusia lanjut saja yang beresiko terserang neuropati, kita-kita yang masih muda dan produktif juga beresiko terserang neuropati. Karena apa? Karena keenam hal di atas sudah menjadi gaya hidup kita, masyarakat Indonesia pada umumnya. Termasuk saya dan Oni. Hueeeeee!!!!!


Selain enam hal di atas, ada beberapa kebiasaan lain (Hah? Masih ada lagi? Doenk!) yang tanpa kita sadari juga dapat menyebabkan penyakit neuropati. Apa tuh? Yaitu kebiasaan menjalankan gaya hidup tidak sehat seperti kurang tidur dan mengkonsumsi gula/pemanis dalam jumlah berlebih.

Hiaaaaa. Ini juga saya banget! T_T Saya khan night person yang justru lebih tenang dan konsen ngerjain apa-apa pada malam hari. Trus trus... biar nggak ngantuk, begadangnya sambil minum kopi atau teh manis gitu. Err......

Baca juga: Morning Person yang Gagal

Oke oke, masalah kurang tidur dan mengkonsumsi gula dalam jumlah berlebih menurut saya agak mudah diatasi. Tinggal kitanya aja menambah jam tidur dan mengurangi konsumsi gula. Tapi gimana dengan 6 kegiatan pemicu neuropati di atas? Masa  kita nggak boleh naik motor, nggak boleh memasak, nggak boleh maen gadget, nggak boleh mengetik, dan nggak boleh pake high heels ya kalo nggak kepengen terserang neuropati? Trus kalo kita pegawe kantoran, gimana dah kalo nggak boleh duduk dalam jangka waktu lama? Masa kerjanya sambil tiduran? Bisa-bisa digeplak sama pak bos dong, ya? Hahahahaha..... Susyeh!

Tapi jangan khawatir teman-temin. Untuk mengimbangi gaya hidup beresiko neuropati di atas, ada beberapa kebiasaan baik yang bisa membantu kita untuk mencegah neuropati.

7 kebiasaan mudah yang dapat kita lakukan untuk mencegah neuropati:


Apa yang harus dilakukan apabila kita mendapati bahwa diri kita mengalami gejala neuropati?
Untuk mengobati dan mencegah dampak lebih lanjut neuropati, tentunya harus ditelusuri penyebab dasar yang mengakibatkan munculnya neuropati. Jadi, pengobatan yang dilakukan tergantung pada faktor atau kondisi yang menyebabkan neuropati sejak awal. Kebanyakan, jika penyebab dasarnya terobati, maka neuropati yang terjadi juga akan hilang atau sembuh dengan sendirinya.

Apabila gejala neuropati dirasa sudah mengganggu aktifitas kita, segeralah mencari bantuan medis. Biar nggak salah diagnosa gitchu. 

Sedangkan bagi kita yang masih merasakan gejala awal neuropati, selain harus sesegera mungkin menerapkan kebiasaan hidup yang baik  untuk mencegah neuropati, kita juga sebaiknya mengkonsumsi vitamin neurotropik yang fungsinya membantu memperbaiki gangguang dan kerusakan saraf. 

Soalnya gimana ya, kadang makanan yang kita konsumsi kurang memenuhi kebutuhan harian vitamin B1, B6 dan B12 kita. Apalagi anak kost dan pekerja kantoran, fakir miskin musiman, yang miskinnya cuma kalo pas tanggal tua, hahahahahaha....... Bisa makan 3 kali sehari aja udah syukuuur gitu yah. Atau Diantara teman temin ada yang berprofesi sebagai wanita karir yang merangkap sebagai ibu rumah tangga. Sangking sibuknya, jangankan memikirkan kecukupan vitamin neurotropik harian, makan aja kadang lupa. 

Nah disinilah gunanyanya vitamin neutropik. Yaitu untuk mencukupi kebutuhan  vitamin B1, B6, dan B12 kita yang tidak terpenuhi hanya dari makanan yang kita makan. 

Salah satu vitamin neurotropik yang dijual bebas di pasaran adalah Neurobion. Neurobion adalah vitamin neurotropik yang dapat memperbaiki sel saraf tepi penyebab kebas dan kesemutan yang disebabkan karena kekurangan vitamin B1, B6, B12.

Mengapa harus Neurobion
Sebenarnya ada banyak vitamin neurotropik yang beredar di pasaran. Tapi Neurobion inilah yang paling cucok bok disebut sebagai ahlinya vitamin neurotropik. Kenapa eh kenapa? 



Merc mengeluarkan dua varian neurobion yang disesuaikan dengan kebutuhan kita.

NEUROBION PUTIH
Untuk memperbaiki sel saraf tepi penyebab kebas dan kesemutan
Komposisi:
Vitamin B1 100 mg,
Vitamin B6 200 mg,
Vitamin B12 200 mcg

NEUROBION FORTE
Untuk gejala sedang yang sudah mengganggu 
aktifitas sehari-hari
Komposisi:
Vitamin B1 100 mg,
Vitamin B6 100 mg,
Vitamin B12 5000 mcg

 
Nah, gimana teman-temin? Praktis dan mudah, khan melawan bahaya penyakit Neuropati. 

Yuk lawan neuropati dengan mengkonsumsi Neurobion dan mulai menerapkan kebiasaan hidup sehat. Agar kita bisa terus beraktifitas dengan bebas dan menikmati keceriaan bersama orang-orang yang kita sayangi tanpa gangguan neuropati. 


Referensi tulisan ini dan info lebih detail 
mengenai neuropati dan Neurobion 
dapat teman-temin intip pada link berikut: 


Tulisan ini diikutsertakan dalam
https://www.facebook.com/notes/neurobion/lawanneuropati-blogging-competition/10155711486665031
 
Apakah Anda kerap merasakan kebas dan kesemutan? Jangan anggap sepele, karena bisa jadi itu gejala neuropati.

Source: http://www.dokterdigital.com/id/news/1156_waspadalah-neuropati-bisa-menyerang-di-usia-muda.html
Copyright DokterDigital.com
Apakah Anda kerap merasakan kebas dan kesemutan? Jangan anggap sepele, karena bisa jadi itu gejala neuropati.

Source: http://www.dokterdigital.com/id/news/1156_waspadalah-neuropati-bisa-menyerang-di-usia-muda.html
Copyright DokterDigital.com

2 Februari 2017

NGOBROL: Aku Anak Diluar Nikah!

Di akte kelahiran saya hanya tertulis nama mama saya, dengan embel-embel tulisan 'ANAK DILUAR NIKAH'. Doenk! Oh my! Oh my! Oh noooo! Jadi aku anak haram, ma? *nangis sambil ngesot-ngesot.


Pertama kali saya melihat akta kelahiran saya sendiri adalah ketika saya masih kelas 2 SMP. Saya lupa kenapa, pokoknya waktu itu saya disuruh oleh bagian tata usaha sekolah untuk membawa fotokopian akta kelahiran. Jadilah saya minta fotokopian akta kelahiran ke mama saya. 

Shock? Iyalah! Apalagi mama nggak ngasih penjelasan apa-apa waktu ngasih foto kopian akta kelahiran. Cuek-cuek aja ngliat anaknya udah hampir nangis menatap nanar tulisan di hadapannya. Haish! 

Kok bisa sih? Kok bisa sih? Jelas-jelas mama saya menikah dengan papa saya di bulan November 1980. Sedangkan saya lahir pada bulan Oktober 1981. Ada kok foto-foto wedding mama papa saya yang dibaliknya ada tanggal cetaknya, ada juga foto saya yang baru lahir procot digendong oleh papa saya.  Kalo dirunut, semuanya menguatkan dan menjadi bukti kalo saya bukan anak diluar nikah. Tapi kenapa statusku kok ANAK DILUAR NIKAH????

Usut punya usut, ternyata dulu mama papa saya memang menikah, tapi ala-ala film silat gitu, deh. Pokoknya kedua kakek nenek saya udah setuju,  udah pai ciu, trus ngadain resepsi untuk memberi tahu sanak saudara dan teman kalo mereka udah menikah. Trus? Udah gitu aja. Nggak pake acara gereja, nggak ke catetan sipil dan sebagainya karena pernikahan mama papa saya nggak bisa dicatatkan. Kenapa begitu? Tak lain karena status papa saya yang masih WNA. Ealaaaah.....

Karena itu juga, waktu saya lahir, di akta kelahiran saya tertulis nama paman dan bibi saya di isian nama orang tua. Iya, maksudnya biar nggak ribet gitu. Soalnya paman dan bibi saya udah WNI. 

Mama saya bilang, sebenernya sejak masih belum menikah papa udah berkali-kali berusaha mengajukan kewarganegaraan Indonesia, tapi selalu dipersulit dan ada aja kendalanya. Papa baru berhasil mendapatkan kewarganegaraan Indonesia pada tahun 1992. Itupun setelah mengeluarkan banyak biaya dan makan ati. Pada tahun yang sama, papa saya membereskan semua surat-surat identitas, ternasuk surat nikah orang tua saya dan akta kelahiran saya.

Begitulah ceritanya kenapa ada embel-embel 'ANAK DILUAR NIKAH' di akta kelahiran saya. Secara saya lahir tahun 81, sedangan orang tua saya oficially menikah tahun 92. Ya emang bener, sih, officially, saya memang anak diluar nikah!

Itulah sebabnya juga, di bagian belakang akta kelahiran saya ada catatan tambahan kalo saya sudah diakui oleh papa saya sebagai anak pada tahun 92. Yiah, kesannya bapak saya menghamili mama saya pada tahun 81, trus bapak saya minggat dan nggak mau mengakui saya. Trus akhirnya bapak saya bertobat dan kembali padas keluarganya 12 tahun kemudian gitu ya? How awkward. Hahahahahaha.......

NOTE:
Bagi para mama di luar sana, yang karena satu dan lain hal nggak punya buku/akta nikah, tetep bisa kok bikin akta kelahiran buat anak! Nggak ada nama bapaknya juga nggak masalah. Di akta kelahiran jaman sekarang, tulisan  'ANAK DILUAR NIKAH' juga sudah ditiadakan. Yuk yuk diurus, biar anakmu  bisa sekolah, bisa masuk KK, bisa ikut asuransi, dll. Singkatnya tercatat dan mendapatkan hak sebagai warga negara Indonesia, gituh. 

23 Januari 2017

NGOBROL: Moody Blogger


Teman-temin blogger, pernah nggak sih kalian merasa jenuh bikin postingan di blog, sampe berbulan-bulan nggak menulis barang 1 post aja? Sementara di lain waktu, justru sebaliknya, hasrat menulis begitu menggebu sampe-sampe seharian kerjaannya cuma mantengin lappie, nulis-nulis sambil blogwalking sampe subuh. 


Saya? Sering bangeeeet. *bangga maksimal

Yeah, you can call me a moody blogger. Nulis blog cuma kalo lagi mood aja. Nulis blog cuma kalo lagi butuh syurhat aja. Ngaku sebagai blogger tapi langsung hiatus 1 tahun gara-gara lebih sibuk FB an dan twitteran. Eh, enggak, denk. Itu cuma waktu FB baru happening di Indonesia aja. Sekarang saya udah agak males maen FB lagi karena di sunu banyak yang suka sharing berita hoax dan menebar kebencian. Males ah malesssss. 

Beberapa temen blogger yang rajin dan konsisten ngeblog, kalo saya amat-amati (baca: kepoin), pasti punya grup blogger. Walaupun bukan grup dengan nama kece lengkap dengan logo komunitas, ya minimal lingkaran pertemanan di grup WA atau grup arisan gitu lah. Pokoknya berkelompok.  Jadi saya simpulin, kayaknya saya moody banget ngeblog karena saya blogger yang single fighter alias nggak ikutan komunitas blogger. 

Lho... lak yo adaaaa aja alasan saya untuk males ngeblog. Padahal saya udah bikin resolusi biar rajin ngeblog lho. Hahahahahaha....... Sebenernya, walaupun nggak punya temen, kalo memang udah niat dan konsisten, harusnya saya tetap menulis, ya? 


Lha piye maneh, ngeblog itu ibarat olah raga. Kalo nggak ada temennya pasti lebih males dan terasa lebih berat untuk dilakukan secara rutin. Kalo ada barengannya, khan bisa saling menyemangati dan memotivasi kalo kitanya lagi males atau down. Begitu? 

Well, sebenernya saya sudah join di beberapa komunitas blogger. Tapi karena perubahan lifestyle dan lingkungan, lama-lama saya berasa beda 'bahasa' dengan teman-teman di komunitas tersebut. Saya udah nggak nyambung sama temen-temen di komunitas Malaysian blogger karena saya udah 3 tahun lebih pulang ke Indonesia dan nggak update dengan trend di sana. Komunitas beauty blogger, elaaaah apalagi ituuuu. Dunia make up dan kosmetik cepet banget muternya. Tiap detik selalu bermunculan produk-produk baru, tiap saat selalu ada teknik-teknik make up baru yang ditemukan. Saya yang udah tobat dari dunia perlenongan yo jelas ndak mudeng dengan topik-topik heits yang dibahas oleh para beauty blogger. Hihihihihi.......

Ada juga komunitas blog yang sebenernya seru dan saya cucok. Sampe sekarang saya juga masih merasa banyak terbantu dan sreg join di sana, tapi saya kerap gigit jari, karena setiap ada kegiatan komunitas, saya nggak bisa join karena lokasinya di luar kota. Ya kalik kalo saya masih single or anak-anak saya udah agak gedean, saya pasti langsung capcuss kabur ikutan acara komunitas. *curcol.

Oleh karena itu, sejak beberapa waktu yang lalu saya mencoba mencari-cari komunitas blogger yang sekiranya bisa saya ikuti baik di darat maupun di laut, baik di dunia maya maupun dunia nyataaaaah!

Dan akhirnya saya nemu Malang Citizen! Komunitas para blogger yang tinggal, berdomisili, pernah tinggal di Malang, atau yang memiliki hubungan dan kenangan tersendiri dengan Malang Raya.

Tinggal? Check! Saat ini saya tinggal di Malang. 

Berdomisili? Check! *tinggal sama berdomisili apa ya bedanya? Mboh.   

Pernah tinggal di Malang? Check!

Memiliki hubungan dan kenangan tersendiri dengan Malang Raya? Check!!!! Saya nggak hanya lahir dan dibesarkan di Malang. Tapi saya orang Malang generasi ketiga. Bapak saya juga lahir di Malang. Nenek saya orang Pujon Kidul asli. *info maha penting. Hahahahaha..... 
Masih kurang meyakinkan? Suami saya juga orang Malang. Kami kenal di Malang. Menikah di Malang. Dan mertua saya juga orang Malang. Eaaaakh...... *apasih

Jadilah saya menggebu sekali kepengen bergabung ke Malang Citizen. Dengan kekuatan bulan bantuan dari Mas Richo yang terharu dan iba kali ya sama saya yang awalnya plonga plongo bagaikan anak ayam yang terpisah dari induknya, nggak tau harus ngapain setelah daftar ke web Malang Citizen,  akhirnya saya ikutan gabung di grup WA Malang Citizen yang err..... satu kata: HEBOH! Hahahaha....  Seneng akyuh! Membuat hasrat blogging yang meredup kembali bergejolak!!!! 

Kenapa harus Malang Citizen? Karena ya itu tadi, jreng. Basisnya di Malang, tempat saya tinggal saat ini. It means saya bakalan nggak hanya berteman dengan mereka di dunia maya, tapi juga di dunia nyata. Hore...hore...hore.... Uwuw... I am so excited. Moga-moga saya bisa aktif belajar dan berkarya bersama teman-temin di Malang Citizen. Amiiiiin *loudly

Oiya, Buat teman-temin blogger yang berasal dari Malang Raya dan berminat gabung, cuss maen ke website Malang Citizen. Adminnya ramah-ramah dan welcome, kok. 


http://malangcitizen.com



16 Januari 2017

YES or NO #1: Cowok Gondrong

Saya sih jelas YES!

Nggak punya pilihan lain, Cyn. Orang suami akika gondrong. Berani-berani jawab 'NO', bisa gak dapet duit belanja bulanan saya. Hahahahaha...

Dulu, saya kurang suka sama cowok berambut gondrong. Saya juga nggak kepikiran bakal dapet suami berambut gondrong.

Well, sebenernya bukan karena rambut gondrongnya sendiri, sih, ya. Hanya saja, cowok-cowok berambut gondrong di sekitar saya pada waktu masih lajang dulu, kebanyakan kok cowok yang nggak begitu memperhatikan penampilan dan merawat diri. Rambut gondrong mereka biasanya dikarenakan mereka males menyisihkan uang untuk merapikan rambut. Alhasil, rambut gondrongnya awut-awutan, tengil, dan kadang (maaf) bau. Jadi ya, dalam pikiran saya udah terstigma kalo cowok gondrong = cowok kumel.

Selain itu, di mata saya, cowok gondrong itu biasanya kerjaannya nggak jelas, rebel, tukang melanggar aturan, bandel, nakal, berbahaya. Pokoknya yang jelek-jelek, deh.  Hahahahaha. Maklum, dari TK sampe SMA di sekolah saya ada aturan cowok wajib berambut pendek. Rambut nggak boleh menyentuh kerah. Yang go drong-gondrong ya biasanya murid-murid bandel yang suka nglanggar peraturan sekolah. Otomatis, di otak ini default settingnya kalo liat cowok, makin pendek rambutnya makin baik orangnya. Asal jangan gundul aja. Blame it to peraturan sekolah Indonesia!

Trus kayaknya kebanyakan perusahaan di Indonesia juga  masih menerapkan aturan: pegawai pria wajib berambut pendek di atas kerah. Sampe sekarang masih gitu nggak, sih?


Apalagi, ya... Oh iya, kalo nggak anak nakal, cuma ada satu kemungkinan cowok berambut gondrong. Dia pasti banci!
Pemikiran darimana sih ini. Banci atau enggak khan bukan diliat dari rambutnya, ya?
Iya, tapi banci jalan irian rambutnya panjang semua!
Ih, ampun, bikin saya diprotes para gondronger. Hahahahahaha......
Maafkan akuuuuu gondrongers. Pokoknya gitu, lah. Jangan ditanya alesannya. Saya sendiri juga nggak tauk. :p

source: http://maxpixel.freegreatpicture.com/Face-Stand-Alone-Men-1311191

Tapi itu duluuuuu.... Sebelum saya mengenal Oni. 
Pendapat saya berubah setelah saya ketemu lagi sama si Oni tahun 2009. Eaaaaaa.... suit suit! Kok malah kesengsem sama cowok gondrong, to yoooo. Haha.... Kualat!!!  Habis cowok gondrong yang satu ini walaupun wajahnya lebih cantik dari saya, kok manly, ya. Ihik.... Walaupun si Oni nggak sampe perawatan khusus demi rambut gondrongnya, tapi selalu rapi dan wangi. Rambutnya nggak pernah bau. Walaupun nggak tajir dan bergelimang duit, tapi punya pekerjaan jelas dan pekerja keras. Trus saya liat, orangnya juga nggak neko-neko. Pokoknya berkebalikan sama image cowok gondrong di mata saya.

Saya paling suka liat Oni diekor kuda begini.
Terus, setelah menikah, gimana rasanya punya suami berambut gondrong?

Yang jelas saya sering diledek oleh teman-teman saya seperti ini, "Yang jadi suami yang mana, nih?" Pasalnya rambut saya nggak pernah panjang, malah seringnya cepak. Bukan karena saya nggak suka berambut panjang, tapi karena rambut saya tipis dan sedikit. Jadi harus  selalu pendek untuk meminimalkan resiko rambut rontok. Selain itu, dari segi penampilan, saya  juga nggak cocok kalo rambutnya panjang. Ya karena rambut saya yang cuma seempret ini, gondrong sedikit, saya udah mirip tikus kecebur got. Huhuhuhuhu... sedih, ya.

Ehm, apa ya bedanya dengan punya suami berambut pendek? Oh, kalo berantem saya lebih punya peluang menang kali ya? Karena kalo sebel saya tinggal jambak aja rambutnya. Kalo Oni khan nggak bisa menjambak rambut saya. Wong cepak. Kepegang tangan aja udah ucul. Hahahahah... *apasih *nggak penting.

Apalagi kalo cowok gondrongnya model beginih!!!! 
Adek mau, Bang! Halalin adek sekarang juga!!!! #eh

so, I say YES for cowok gondrong.


Asal rambutnya selalu rapi dan bersih. Kalo masalah kerjaan, bandel atau enggak, dan sebagainya, kayaknya nggak ada hubungannya sama rambut gondrong. Entahlah.

Gimana menurut teman-temin?

10 Januari 2017

JALAN-JALAN: The Beautiful Barong Dance

Eh eh, setelah saya nulis tentang cerita jalan-jalan di Bali, saya jadi kepengen membagi cerita dan share lebih banyak foto tentang Barong Dance. Seriously, tarian ini bener-bener kece dan menghipnotis. gerakan tarian yang eksotis, dialek para pemainnya, nuansa panggungnya yang 'gitu aja' tapi sudah memberi kesan yang sangat kuat, semuanya saya suka!  One day, kalo kami berkesempatan dolan ke Bali lagi, selain nonton festival Ogoh-ogoh, saya juga kepengen liat Barong dance lagi. Huhuw..... 

Baca juga: JALAN-JALAN: When in Bali & Late Post: Nonton Festival Ogoh-ogoh

Oh iya, seperti yang sudah saya ceritain sebelumnya, tari Barong sendiri sebenernya bukan murni pertunjukan tarian, melainkan drama musikal. Dimana dialog, tarian, dan nyanyian digabungkan sehingga membangun sebuah cerita. Latar belakang cerita diambil dari kisah Mahabaratha. Sedangkan tokoh sentral dalam tarian ini adalah kebajikan yang digambarkan dalam sosok mitologi Barong dan kebatilan yang diwakili oleh sosok Rangda.

Cuss disimak futu-futu dan sinopsis yang saya buat semampu-mampunya dan masih jauh dari sempurna inih, Kak. 

Pertunjukan dibuka dengan suguhan gamelan Bali yang terletak di kanan panggung. Disusul dengan adegan Barong yang bermain bersama kera dan bertarung dengan 3 orang cebol. 


Ehm, apa cuma saya yang merasa adegan ini mirip-mirip sama tari Reog, ya? Saya jadi kepo, jangan-jangan ada pertalian yang erat antara tari Barong dan Tari Reog.

Babak pertama tari Barong adalah munculnya dua penari sebagai simbol pengikut Rangda yang sedang mencari-cari pengikut Dewi Kunti. Mata saya tak bisa lepas dari  gerakan-gerakan penari Bali dengan gesture khasnya, siku diangkat 90 derajat sambil matanya melotot jelalatan. Saya yang duduk di bangku paling depan sampe berasa sungkan sendiri karena dipelototin sama penarinya. Hahahahahaha... Di rumah saya mencoba lirak lirik sendiri kayak penari bali, eh pusing, bok. *kurang kerjaan.


Babak Kedua dan Ketiga ini, ehm saya agak bingung adegannya bagaimana sih. Tapi kurang lebih  mengisahkan kalo kedua pengikut Rangda ini akhirnya berhasil berjumpa dengan pengikut dewi Kunti. Salah satu dari pengikut Dewi Kunti kerasukan Rangda dan menjadi jahat. *nggak ada adegan penggelepar-gelepar kayak orang jaman sekarang kerasukan saiton sih. Ih amit amit getok-getok meja. Mereka pergi ke kerajaan untuk menjumpai Dewi Kunti dan patihnya.

Adegan Dewi Kunti yang sedang galau. Beliau sebenernya nggak tega membuang putranya sendiri, Sahadewa, ke hutan. Namun Patih terus menghasut Dewi Kunti untuk ngebuang Sahadewa. Well, sebenernya patih ini nggak jahat, sih. Cuma karena dia juga ikutan dirasuki Rangda, jadi ya gitu, deh. 

Dewi Kunti yang ikutan kerasukan (wolah, kerasukan juga dia) tiba-tiba marah dan berniat mengorbankan anaknya, serta memerintahkan kepada patihnya untuk membuang Sahadewa.


Adegan Sahadewa diiket di depan istana Rangda. Kasian, ya Sahadewanya ditabokin sama patih.

Duh, saya ngarep tokoh Sahadewa ini diperankan oleh penari ganteng dengan badan kekar kayak Shaheer Syeikh. Tapi ternyata yang meranin malah perempuan. Hihihihi.... Mungkin beliau penari senior di grup tari itu, ya? Jadi dapet peran utama. 

Babak Keempat menceritakan Dewa Siwa turun ke bumi dan membantu Sahadewa dengan memberikan keabadian.

Rangda yang datang hendak membunuh Sadewa dibuat kaget, terkejut, shock, emejing lebay, gitu lah.... karena ia  tidak berhasil melukai Sahadewa. Rangda kemudian menyerah, minta diselamatkan dan diampuni agar bisa masuk sorga, permintaan tersebut dipenuhi oleh Sahadewa.

Babak kelima menceritakan Kalika yang menghadap Sahadewa. Ceritanya Kalika ini pengikut Rangda dan kepengen ikutan masuk surga juga.  Namun Sahadewa menolak permohonan Kalika. Karena merasa kecewa, Kalika menyerang Sahadewa. Dalam perkelahian itu, Kalika berubah menjadi babi hutan.

Sahadewa berhasil mengalahkan Kalika yang berwujud babi hutan. Ya iya lah, orang Rangda aja kalah sama Sahadewa, Mana mungkin pengikutnya bisa menang. Aih.....

Rupanya Kalika ini pantang menyerah. Ia berubah lagi menjadi burung dan kembali menantang Sahadewa. Hasilnya? Tetep kalah, sist.

Adegan klimaks tari Barong adalah pada pertempuran antara Barong dan Rangda. Lha, bukannya Rangda udah naik ke surga ya tadi? Hooh, ini Rangda versi Kalika. Rambutnya coklat. Rangda yang udah naik ke surga pan rambutnya putih.*scroll lagi ke atas, deh. Putih, khan? Putih, khan?

Tuh, khan. Rambutnya coklat. Dalam hati saya membatin, bagus dan lebat ya rambutnya, nggak kayak rambut saya yang dikiiiit dan tipis banget ini. Hiks....

Jadi, Kalika ini masih masih ngotot aja mau ngalahin SahadewaGimana ceritanya saya nggak tau, pokoknya akhirnya Kalika berubah menjadi Rangda yang lebih gahar dan lebih sakti daripada Rangda berambut putih. Sampe-sampe Sahadewa sendiri nggak bisa mengalahkan Kalika. Untuk mengimbangi kekuatan Kalika, Sahadewa berubah wujud menjadi Barong. 

Dalam pertempuran Rangda dan Barong ini, keduanya sama kuat, tidak ada satu pihak yang menang ataupun kalah. Udah deh, gitu aja ceritanya. gantung banget. Hiaaaaaa..... Nggak kayak drama korea yang ceritanya selalu happy ending, ya? Tapi masih lebih mending dibanding sinetron Indonesia yang ceritanya nggak pernah tamat, tiba-tiba aja berhenti tayang kalo ratingnya udah jeblok. *mulai nglantur. 

Adegan ini maksudnya hendak menyampaikan kalau sampai saat ini kebajikan terus bertempur melawan kebathilan. Oh ya ya... bener juga, sih ya. Memilih menjadi pengikut Barong atau Rangda, pilihan dan konsekuensinya ada di tangan Anda sendiri. Hm.... interesting, right? 

Pertunjukan tari Barong ditutup dengan tari keris. Menurut saya, sebenernya ini bukan tarian, ya, tapi tontonan debus yang menggambarkan pemuda-pemuda Bali bersenjatakan keris. Pemuda-pemuda ini ceritanya  menjadi pengikut-pengikut Barong dan terus memerangi Rangda sampai saat ini.

Errr.... Adegan nusuk-nusuk badan sendiri pake keris itu errr.... mungkin maksudnya mereka hendak memerangi 'Rangda' yang bersemayam dalam diri mereka sendiri? Auk.... Pokoknya medeni.

The end. Tamat. 

Pertunjukan berlangsung selama kurang lebih satu jam. Tapi saya berasa cuma bentaran doang. Soalnya pertunjukannya bagus banget. Saya serasa dibawa masuk ke dalam alur cerita. Apalagi ending ceritanya gantung, membuat hati terasa kosong dan kepengen terus duduk merenung menatap panggung, mencoba memproyeksikan ending menurut imajinasi saya sendiri. Kalo nggak ditarik-tarik sama Oni, kayaknya saya ogah berdiri dari bangku. Hihihihi....

Serius, bagus banget!!!!! 

4 Januari 2017

JALAN-JALAN: When in Bali

Bali. Destinasi favorit para turis, baik lokal maupun internasional. Baik jomblo maupun berpasangan. Baik backpacker maupun pelancong tajir. Baik yang mau menjauh dari kejenuhan sejenak maupun yang kepengen rame-ramean bareng temen untuk celebrate something. Pokoknya Bali, lah. 

Pulau Bali memang menjadi salah satu tempat wisata budaya asli terbaik di Indonesia. Sampai-sampai banyak banget orang asing yang nggak kenal sama  Indonesia tapi tau sama Bali. Ish, gimandose?! Padahal masih banyak jujukan liburan di Indonesia yang nggak kalah seru dibandingkan Bali, ya khan?

Tapi memang harus saya akui, cuma Bali yang menyajikan perpaduan lengkap antara penduduk lokal yang ramah dan wisata alam yang indah. Budaya Bali masih kental dan terjaga dengan baik walaupun banyak pendatang yang keluar masuk ke Bali. Fasilitas wisata dipelihara dan dikembangkan dengan baik untuk memanjakan para turis. Jadi nggak heran kalo sampe saat ini Bali masih menjadi tujuan wisata wajib bagi para turis. Saya dan Oni, kalo nggak karena alasan yang maha penting, sepertinya bakal memilih terus tinggal di Bali dan ogah balik ke Malang. 

Dalam postingan kali ini, saya akan membagikan sedikit cerita kami ketika jalan-jalan di Bali

Biasanya kami berdua jalan-jalan di area Bali Selatan, di sekitaran Denpasar saja. 
Karena cuma berdua, berasa rugi gitu kalo nyewa mobil, jadi seringnya pergi-pergi naik motor aja. *emak-emak pelit. 


TARI BARONG
Selain tari kecak, tari Barong adalah pertunjukan paling hits di kalangan para turis. Konon, tari Barong terbaik hanya dipentaskan di Batubulan, Gianyar. Jadilah kami berdua menyempatkan jalan-jalan ke Gianyar demi nonton tari Barong. 

Kami tiba di tempat pertunjukan jam 09.00, setengah jam lebih cepat dari jadwal pertunjukan. Karena masih belum banyak pengunjung yang datang, kami bisa memilih tempat duduk paling depan, yay! Tapi belakangan saya agak nyesel, sih. Pertunjukan memang terlihat jelas dan bagus dari bangku paling depan, tapi foto-foto yang saya ambil jadi kurang cakep karena pandangan mata sejajar dengan lantai panggung. Kalo kepengen dapet angle foto yang bagus kita harus berdiri. Khan sungkan kalo dikit-dikit berdiri dan menutupi pandangan penonton yang duduk di belakang kita.

Oh iya, tari Barong sendiri sebenernya bukan murni pertunjukan tarian, melainkan drama musikal. Dimana dialog, tarian, dan nyanyian digabungkan sehingga membangun sebuah cerita. Latar belakang cerita diambil dari kisah Mahabaratha. Sedangkan tokoh sentral dalam tarian ini adalah kebajikan yang digambarkan dalam sosok mitologi Barong dan kebatilan yang diwakili oleh sosok Rangda. Eh ciyeeee, tau banget ya gue? Iya, karena sebelumnya saya udah dapet info kalo tari Barong ini bakal disajikan dalam bahasa Bali, jadi saya googling-googling dikit tentang sinopsi cerita tari Barong. Biar waktu nonton ngerti dikit-dikit jalan ceritanya.   


Setelah pertunjukan, teman-temin juga bisa berfoto dengan para penari-penari Barong yang masih berkostum lengkap. Nggak rugi lah nonton tari Barong. Selain kita disuguhi pertunjukan amazing yang tiada duanya di manapun, ada nilai filosofis dan nilai moral yang disampaikan lewat tarian ini. Cocok kok kalo teman-temin mengajak krucils nonton Tari Barong. Asal jangan lupa ngasih penjelasan ke anak ketika adegan debus di bagian akhir pertunjukan. Itu, adegan nusuk-nusuk badan pake keris. Huhuw... serem.


PURA GOA GAJAH
Selepas nonton tari Barong, kami menuju Goa Gajah yang letaknya juga di Gianyar. 

Saya kira saya bakal ketemu sama beberapa ekor gajah. Ternyata nggak ada seekor gajahpun di sana. Hihihihi.... katanya pura ini dinamakan Goa Gajah karena di kompleks pura tersebut terdapat sebuah goa yang gerbangnya dihiasi ukiran besar menyerupai gajah. 

Can you spot the 'gajah'?
Pura Goa Gajah ini terbuka untuk umum, kok. Hanya saja, perempuan yang mengenakan bawahan pendek diwajibkan memakai sarung untuk menjaga kesopanan di tempat ibadah.   Saya juga diwajibkan mengenakan sarung soalnya saya pake celana pendek.




PURA ULUWATU
Pura Uluwatu terletak di sebuah tebing yang menjorok ke laut. Pemandangannya, jangan ditanya. Indah luar biasa. Sama seperti di Pura Goa Gajah, pengunjung wanita yang datang ke sana diwajibkan mengenakan sarung. 

Sebenernya kami maen ke sana pas banget bertepatan dengan kegiatan keagamaan umat Hindu. Seru sekali melihat arak-arakan pria-pria Bali berpakaian putih dan wanita-wanita Bali yang menyunggi aneka sesaji. Sayang saya tidak bisa banyak mengabadikannya dalam foto karena takut kamera saya dirampas monyet. 

Iya, di pura Uluwatu banyak monyet berkeliaran. Yang gendut cuma duduk-duduk manis sambil ngliatin pengunjung sih lucu.  Tapi tidak sedikit monyet yang lebih nakal dan agresif. Mereka nggak segan merampas benda-benda bawaan pengunjung yang menarik perhatian mereka. Entah itu makanan, perhiasan, ataupun kamera. Walaupun kamera saya ini nggak mahal, tapi khan sayang kalo diambil monyet. 



Demen banget khan berlama-lama berdiri di sini. Ah, suatu hari, kalo ada budget lebih, saya kepengen nginep di villa/hotel yang berlokasi di Uluwatu. Seharian penuh nggak apa-apa deh diem-diem nggak kemana-mana. Asal bisa menikmati pemandangan indah ini.


GARUDA WISNU KENCANA CULTURAL PARK (GWK)
Duh, ini patung. Belum jadi aja sudah keliatan kece, apalagi kalo udah jadi. Kapan ya? Entahlah. Kayaknya pembangunan patung  GWK ini nggak dilanjutkan lagi. Terhenti sampai pembuatan badan Dewa Wisnu sebatas pinggang dan kepala burung Garuda.

Biar keliatan kayak turis beneran, si Oni saya paksa pake T-shirt Beer Bintang. Hahahahaha.... Kenapa, sih ya? Di Bali banyak bule yang demen pake kaos bergambar logo Beer Bintang. Norak, ah. Makanya Oni setengah manyun diminta bininya pake kaos begituan. Huahahahhaha.... *ketawa jahat.

Komples GWK ini luas banget, bok. Isinya nggak cuma unfinished patung GWK. Ada amphitheatre, exhibition hall, Indraloka Garden, Lotus Pond, Tirta Agung, Wisnu Plaza, dan beberapa resto. Tak lupa sebuah toko souvenir yang biasanya paling dicari oleh pelancong emak-emak kayak saya ini. Lumayan lengkap, lah. Banyak spot kece yang bisa dipake untuk berfoto-foto ria. Misalnya deretan bukit kapur di bawah ini. 


Sebenernya, di spot-spot tertentu di GWK digelar street theatre dan dance perfomance. Tapi nggak sepanjang hari, ada jadwalnya. Saya dan Oni kurang beruntung, ketika kami datang, pertunjukan tari Barong (nggak lengkap kayak di Batubulan, cuma Barong nari-nari sambil keliling kompleks) baru saja berakhir. Kita mau foto-foto bareng, barongnya udah kabur aja. Mungkin Barongnya lagi kelaperan, pengen buru-buru makan siang. Kita datengnya pas jam 12, sih. Hihihihi....  

Sutra, lah. Akhirnya kita foto bareng Boneka Barong yang didisplay aja. Saya nggak berani lama-lama deketan sama boneka Barong. Takut, Kaaaaak! 


GUNUNG & DANAU BATUR
Katanya sih, Danau Batur itu luar biasa indah. Iya saya percaya, diliat dari jauh aja udah cakep banget. Apalagi kalo dari deket. Saya sendiri belum pernah maen ke sana. Saya dan Oni cuma sempat makan di
restoran Grand Puncak Sari Kintamani 2. 

Makanan disajikan prasmanan. Menu dan rasa yang disajikan standard-standard saja, yaitu salad, sup jagung, sup tomat dan roti. Ada juga nasi putih, capcay, mie goreng, ayam goreng, dan sate lilit. Tapi kalo menikmati makanan standard itu dengan bonus pemandangan view gunung dan Danau Batur yang indah, oh lala...
Pst, restoran ini hanya menyajikan menu halal, lho. Jadi bebas was-was lah teman-temin muslim yang berkunjung ke sini.


Hia, panjang banget ya postingan ini. Nggak berasa saya udah ngetik seabrek-abrek. Padahal masih banyak hal yang kepengen saya ceritain, lho.  Selain yang saya sebutkan di atas, masih banyak tempat wisata yang bisa teman-temin kunjungi. Tergantung selera dan budget aja. Pusing ya nentuin mau ke mana aja? Hahahahaha... iya. Akika juga suka mumet kalo ada temen yang minta saran rute dan tujuan wisata di Bali. Banyak banget soalnya.

Kalo teman-temin bepergian bareng keluarga dan the krucils, Kayaknya memang lebih nyaman kalo teman-temin menginap di hotel. Rekomendasi booking hotel murah di indonesia dengan promosi menarik cuss intip di http://hoterip.com/

Males rempong bikin itinerary dan kepengen memanfaatkan liburan secara maksimal? Pake jasa travel agent, dong. Kita tinggal bilang ke travel agentnya, mau wisata yang kayak apa. Wisata air? Wisata belanja? Wisata kuliner? Nanti travel agentnya bakal ngaturin paket wisata yang pas dengan budget kita dan diusahain rutenya nggak loncat-loncat, biar nggak terlalu banyak buang waktu di jalan.

Saran saya, pilihlah travel agent yang memiliki kredibilitas baik dan direkomendasikan oleh banyak orang. Salah satu travel agent handal yang dapat teman-temin pertimbangkan adalah HIS Travel Indonesia. HIS Travel Indonesia sudah memiliki branch offices yang tersebar di 9 kota di Indonesia. Pilihan paket travel yang disajikan oleh HIS Travel Indonesia juga tak hanya sekedar paket travel ke Bali, tetapi juga paket travel ke kota-kota lain di Indonesia dan mancanegara.

http://his-travel.co.id/
So? How? How? How? Apakah teman-temin merencakana acara liburan keluarga di Indonesia. Mumpung tahun 2017 ini banyak HARPITPETNAS, lho. Hihihihi.....

Baca juga: NGOBROL: Tahun 2017, Tahun Panen HARPIT/PETNAS



Tulisan ini diikutsertakan dalam:
HIS Domestic Holiday - Blogger Competition
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...